Sepakbola

Neymar Jadi Sorotan usai Brasil Tersingkir, Keputusan Carlo Ancelotti Kembali Diperdebatkan

Kekalahan Brasil dari Norwegia pada babak 16 Besar Piala Dunia 2026 memicu berbagai reaksi di dalam negeri. Salah satu yang paling banyak diperbincangkan adalah keputusan pelatih Carlo Ancelotti memasukkan Neymar ke dalam skuad. Setelah Selecao gagal melaju ke perempat final, kebijakan tersebut kembali menjadi bahan perdebatan di media dan kalangan penggemar sepak bola Brasil. Brasil harus mengakhiri langkahnya setelah kalah 1-2 dari Norwegia di Stadion MetLife, New Jersey, Amerika Serikat, Senin, 6 Juli 2026. Hasil itu sekaligus menjadi pencapaian terburuk Selecao di Piala Dunia sejak 1990 karena gagal menembus babak delapan besar. Kekalahan Brasil Picu Perdebatan Soal Neymar Usai pertandingan, sejumlah media Brasil menyoroti keputusan Carlo Ancelotti yang tetap membawa Neymar ke Piala Dunia 2026 meski sang pemain baru pulih dari cedera panjang. Sejak daftar pemain diumumkan, pilihan tersebut memang telah memunculkan pro dan kontra. Sebagian pihak menilai Brasil seharusnya memberi kesempatan kepada pemain yang sedang berada dalam performa terbaik, sementara lainnya percaya pengalaman Neymar tetap dibutuhkan di turnamen besar. Kekalahan dari Norwegia membuat perdebatan tersebut kembali mencuat. Meski demikian, banyak pengamat juga menilai kegagalan Brasil tidak bisa dibebankan kepada satu pemain saja. Performa tim secara keseluruhan, efektivitas penyelesaian akhir, hingga strategi pertandingan turut menjadi faktor yang memengaruhi hasil akhir. Neymar Tetap Mendapat Sambutan Hangat Terlepas dari kritik yang muncul, dukungan terhadap Neymar masih terlihat sangat besar. Saat masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-67 menggantikan Gabriel Martinelli, stadion langsung bergemuruh oleh tepuk tangan para pendukung Brasil. Masuknya Neymar bersamaan dengan Danilo Santos yang menggantikan Rayan menambah semangat permainan Selecao pada sisa pertandingan. Setiap kali menguasai bola, mantan pemain Barcelona tersebut terus mendapat sorakan positif dari ribuan suporter yang hadir di Stadion MetLife. Hal tersebut menunjukkan bahwa Neymar tetap menjadi salah satu figur paling dicintai dalam sejarah sepak bola Brasil. Gol Neymar Tak Mampu Selamatkan Selecao Meski baru dimainkan pada babak kedua, Neymar masih mampu memberikan kontribusi. Pada masa injury time, ia sukses menjalankan tugas sebagai eksekutor penalti sehingga Brasil memperkecil ketertinggalan menjadi 1-2. Namun, gol tersebut datang terlalu terlambat. Peluit panjang akhirnya mengakhiri perjuangan Brasil sekaligus memastikan Norwegia melangkah ke babak perempat final. Neymar tampak tidak mampu menyembunyikan emosinya setelah pertandingan berakhir. Neymar Isyaratkan Akhir Karier Bersama Timnas Brasil Momen paling mengharukan terjadi setelah wasit meniup peluit akhir. Neymar terlihat menangis di tengah lapangan sebelum memberikan pernyataan yang mengisyaratkan bahwa perjalanan internasionalnya bersama Timnas Brasil telah selesai. "Saya sudah berusaha, saya sudah berusaha. Kini semuanya berakhir. Saya memulainya di sini, dan saya mengakhirinya di sini," ujar Neymar. Pernyataan tersebut langsung memunculkan spekulasi bahwa Piala Dunia 2026 menjadi penampilan terakhirnya bersama tim nasional. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Federasi Sepak Bola Brasil mengenai masa depan sang pemain. Mengapa Ancelotti Tetap Memilih Neymar? Sebelum Piala Dunia dimulai, keputusan Carlo Ancelotti memanggil Neymar memang sempat dipertanyakan. Sebagian pendukung menganggap penyerang Chelsea, Joao Pedro, lebih layak masuk skuad karena tampil lebih konsisten sepanjang musim. Namun, Ancelotti memiliki pertimbangan berbeda. Pelatih asal Italia itu menilai pengalaman, kepemimpinan, serta pengaruh Neymar di ruang ganti masih sangat penting bagi skuad Brasil. Selain itu, Neymar juga disebut bersedia memenuhi seluruh persyaratan yang diajukan Ancelotti demi kembali membela negaranya. Warisan Besar Neymar untuk Brasil Terlepas dari hasil mengecewakan di Piala Dunia 2026, kontribusi Neymar bagi Timnas Brasil sulit diabaikan. Beberapa pencapaian penting yang berhasil ditorehkannya antara lain: Menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Timnas Brasil dengan 80 gol. Mengoleksi 130 penampilan internasional. Menempati posisi kedua pemain dengan caps terbanyak setelah Cafu. Tampil pada empat edisi Piala Dunia, yakni 2014, 2018, 2022, dan 2026. Menjadi salah satu ikon sepak bola Brasil selama lebih dari satu dekade. Rekor-rekor tersebut menempatkan Neymar sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Selecao. Perjalanan Panjang Neymar Bersama Selecao Debut Neymar bersama Timnas Brasil terjadi pada Agustus 2010. Menariknya, pertandingan pertamanya juga berlangsung di stadion yang sama ketika Brasil menghadapi Amerika Serikat. Pada laga tersebut, Neymar langsung mencetak gol dan membantu timnya meraih kemenangan 2-0. Sejak saat itu, kariernya bersama Selecao berkembang pesat. Ia menjadi andalan di berbagai turnamen internasional hingga akhirnya memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Brasil. Namun, perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Cedera panjang yang dialaminya sejak 2023 sempat membuat Neymar absen cukup lama sebelum akhirnya kembali dipanggil memperkuat Brasil di Piala Dunia 2026. Apa Penyebab Brasil Gagal di Piala Dunia 2026? Kekalahan dari Norwegia memperlihatkan sejumlah aspek yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Brasil. Beberapa faktor yang dinilai berpengaruh antara lain: Penyelesaian akhir yang kurang efektif meski menciptakan banyak peluang. Kegagalan memanfaatkan salah satu dari dua tendangan penalti. Sulit menembus organisasi pertahanan Norwegia. Kurangnya ritme permainan sepanjang pertandingan. Efektivitas Norwegia dalam memanfaatkan peluang melalui Erling Haaland. Dengan berbagai faktor tersebut, banyak analis menilai kegagalan Brasil merupakan hasil dari performa tim secara kolektif, bukan semata-mata karena keputusan memainkan atau memanggil Neymar. Masa Depan Brasil Memasuki Babak Baru Tersingkirnya Brasil di babak 16 Besar Piala Dunia 2026 diperkirakan menjadi awal dari proses evaluasi besar dalam tubuh Selecao. Selain strategi Carlo Ancelotti yang menjadi sorotan, masa depan sejumlah pemain senior, termasuk Neymar, juga mulai dipertanyakan. Apa pun keputusan yang diambil setelah turnamen ini, kontribusi Neymar terhadap sepak bola Brasil tetap menjadi bagian penting dalam sejarah. Dengan torehan puluhan gol, ratusan penampilan, serta kiprahnya di empat edisi Piala Dunia, namanya akan selalu dikenang sebagai salah satu legenda terbesar yang pernah dimiliki Tim Samba.  

Sepakbola Daily • 07 Jul 2026

Erling Haaland Bawa Norwegia Singkirkan Brasil, The Vikings Cetak Sejarah di Piala Dunia 2026

Kejutan besar kembali mewarnai Piala Dunia 2026. Timnas Norwegia berhasil menumbangkan Brasil dengan skor 2-1 pada babak 16 besar dan memastikan langkah bersejarah menuju perempat final. Sosok yang menjadi pembeda dalam laga tersebut tak lain adalah Erling Haaland, yang mencetak dua gol untuk mengakhiri perjalanan Selecao di turnamen. Pertandingan yang berlangsung di Stadion New Jersey Stadium, Senin, 6 Juli 2026, menjadi salah satu hasil paling mengejutkan di fase gugur. Bagi Norwegia, kemenangan ini bukan sekadar tiket ke babak delapan besar, tetapi juga pencapaian terbaik sepanjang sejarah mereka di ajang Piala Dunia. Erling Haaland Tampil Sebagai Penentu Kemenangan Norwegia sempat mendapat tekanan dari Brasil sepanjang pertandingan. Namun, efektivitas serangan menjadi pembeda utama. Erling Haaland membuka keunggulan pada menit ke-79 sebelum kembali mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-90. Dua gol tersebut memastikan Norwegia berada di atas angin hingga akhir pertandingan. Brasil hanya mampu memperkecil ketertinggalan melalui eksekusi penalti Neymar pada masa injury time, tepatnya menit ke-90+10. Meski skor menjadi 2-1, waktu yang tersisa tidak cukup bagi Selecao untuk memaksakan pertandingan berlanjut. Norwegia Ukir Sejarah Baru di Piala Dunia Keberhasilan menyingkirkan Brasil menjadi tonggak penting bagi sepak bola Norwegia. Untuk pertama kalinya, The Vikings berhasil menembus babak perempat final Piala Dunia. Pada fase berikutnya, mereka akan menghadapi Inggris yang lebih dahulu memastikan tiket usai mengalahkan Meksiko dengan skor 3-2. Pelatih Norwegia, Stale Solbakken, mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya percaya timnya memiliki peluang untuk mengalahkan Brasil apabila mampu bermain di level terbaik. "Saya katakan kepada para pemain hari ini bahwa menurut saya peluangnya bukan 50-50, tetapi kami memiliki peluang yang cukup bagus jika kami bermain dalam performa terbaik dan memiliki pemain penentu kemenangan, dan kami memilikinya," ujar Solbakken. Efektivitas Norwegia Kalahkan Dominasi Brasil Jika melihat statistik pertandingan, Brasil sebenarnya lebih dominan dalam jumlah peluang. Selecao melepaskan 14 tembakan, sedangkan Norwegia hanya mencatatkan sembilan percobaan. Namun, efektivitas menjadi pembeda. Norwegia mampu menghasilkan lima tembakan tepat sasaran, sementara Brasil hanya mencatatkan empat peluang yang benar-benar mengarah ke gawang. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Norwegia tampil lebih klinis dalam memanfaatkan kesempatan. Penalti Gagal Warnai Malam Buruk Brasil Kekalahan Brasil semakin terasa menyakitkan karena mereka memperoleh dua peluang melalui tendangan penalti. Sayangnya, hanya satu kesempatan yang berhasil dikonversi menjadi gol oleh Neymar pada menit-menit akhir pertandingan. Keputusan pelatih Carlo Ancelotti menunjuk Bruno Guimaraes sebagai eksekutor penalti pertama sempat memunculkan tanda tanya di kalangan pendukung Brasil, mengingat pengalaman pemain tersebut sebagai algojo penalti tidak sebanyak beberapa rekan setimnya. Sementara itu, penyelamatan penting yang dilakukan penjaga gawang Norwegia, Orjan Nyland, menjadi salah satu momen krusial dalam pertandingan. Suporter Brasil Pulang Lebih Awal Kekecewaan para pendukung Brasil terlihat jelas setelah Haaland mencetak gol keduanya. Sebagian suporter memilih meninggalkan stadion sebelum peluit panjang dibunyikan karena menilai peluang tim kesayangannya untuk bangkit sudah sangat kecil. Hasil tersebut juga mencatatkan sejarah yang kurang menyenangkan bagi Brasil. Untuk pertama kalinya sejak menjuarai Piala Dunia 2002, Selecao tersingkir pada babak 16 besar. Pada edisi-edisi sebelumnya, Brasil selalu mampu melangkah setidaknya hingga perempat final atau semifinal. Penguasaan Bola Jadi Kunci Strategi Norwegia Menariknya, Norwegia justru mampu mendominasi penguasaan bola saat menghadapi tim yang dikenal memiliki tradisi permainan menyerang seperti Brasil. Menurut Solbakken, strategi tersebut memang telah dirancang sejak awal pertandingan. "Kami hanya ingin menguasai bola sebanyak mungkin. Mereka tidak merasa nyaman jika kami mampu menguasai bola dalam waktu yang lama. Mereka memang memiliki pemain-pemain yang piawai di posisinya masing-masing, namun mungkin mereka tidak suka harus selalu mengejar bola," jelasnya. Pendekatan tersebut terbukti efektif dalam meredam kreativitas lini tengah Brasil sekaligus mengurangi ruang bagi para penyerang lawan. Carlo Ancelotti Akui Brasil Sulit Berkembang Pelatih Brasil Carlo Ancelotti mengakui timnya gagal menemukan ritme permainan terbaik. Meski mampu menciptakan sejumlah peluang, tekanan tinggi yang diterapkan Norwegia membuat para pemain Brasil kesulitan mengembangkan permainan seperti biasanya. Ancelotti juga menjelaskan alasan pemilihan eksekutor penalti yang sempat dipertanyakan publik. "Berdasarkan hal itu, Neymar adalah orang terbaik untuk mengambil penalti, disusul Raphinha, lalu Bruno. Jadi, kami memilihnya karena kami merasa dia adalah yang terbaik di lapangan. Baik Neymar maupun Raphinha tidak masuk dalam susunan pemain inti," katanya. Haaland: Satu Peluang Sudah Cukup Usai pertandingan, Erling Haaland kembali menunjukkan rasa percaya dirinya sebagai salah satu striker terbaik dunia. Menurut penyerang berusia 25 tahun tersebut, dirinya memang terbiasa memaksimalkan peluang sekecil apa pun menjadi gol. "Bila saya mendapatkan satu atau dua peluang, biasanya akan berakhir menjadi gol. Saya sendiri tidak tahu bagaimana saya melakukannya, tetapi memang begitulah caranya," ujar Haaland. Ia juga berharap pencapaian Norwegia dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda di negaranya. "Saya berharap semua anak muda yang menyaksikan wawancara ini, ketika kalian tumbuh dewasa, kalian akan menganggap bermain untuk Norwegia sebagai hal yang paling membanggakan dalam hidup," ucapnya. Faktor yang Membawa Norwegia Menang atas Brasil Keberhasilan Norwegia menyingkirkan Brasil tidak terjadi begitu saja. Beberapa faktor yang menjadi kunci kemenangan mereka antara lain: Penyelesaian akhir Erling Haaland yang sangat efektif. Organisasi pertahanan yang disiplin sepanjang laga. Dominasi penguasaan bola yang berhasil mengurangi ancaman Brasil. Penampilan gemilang kiper Orjan Nyland, termasuk menggagalkan penalti. Kemampuan memanfaatkan peluang lebih baik dibandingkan lawan. Inggris Sudah Menunggu di Perempat Final Setelah mencetak sejarah dengan lolos ke perempat final, tantangan berikutnya telah menanti Norwegia. Mereka dijadwalkan menghadapi Inggris, salah satu tim favorit yang tampil konsisten sepanjang Piala Dunia 2026. Meski lawan berikutnya memiliki kualitas tinggi, kemenangan atas Brasil menjadi bukti bahwa Norwegia mampu bersaing dengan tim-tim elite dunia. Dengan performa impresif Erling Haaland dan permainan kolektif yang semakin solid, The Vikings kini bukan lagi sekadar tim kejutan. Mereka telah membuktikan diri sebagai salah satu penantang serius yang berpotensi melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.  

Sepakbola Daily • 07 Jul 2026

Maroko Lolos ke Perempat Final Piala Dunia 2026, Singa Atlas Kini Layak Disebut Kandidat Juara

Kiprah Maroko di Piala Dunia 2026 terus mencuri perhatian. Setelah kembali melangkah ke babak perempat final, Singa Atlas mulai melepaskan label sebagai tim kuda hitam dan menjelma menjadi salah satu kandidat serius dalam perebutan gelar juara. Keberhasilan tersebut dipastikan setelah Maroko menundukkan Kanada dengan skor meyakinkan 3-0 pada babak 16 besar yang berlangsung di Stadion NRG, Houston, Minggu, 5 Juli 2026. Hasil itu melanjutkan tren positif mereka setelah sebelumnya menyingkirkan Belanda melalui drama adu penalti pada babak 32 besar. Maroko Tunjukkan Konsistensi di Piala Dunia 2026 Perjalanan Maroko di turnamen kali ini menunjukkan bahwa keberhasilan mereka pada Piala Dunia 2022 bukanlah kebetulan. Empat tahun lalu, Maroko mencatat sejarah sebagai negara Afrika pertama yang mampu mencapai babak semifinal Piala Dunia. Kini, mereka kembali membuktikan kualitasnya dengan performa yang bahkan dinilai lebih matang. Tidak hanya mampu bersaing melawan tim-tim unggulan, Maroko juga tampil lebih seimbang berkat kedalaman skuad yang semakin lengkap di setiap lini. Kanada Sempat Merepotkan pada Babak Pertama Meski skor akhir terlihat mencolok, pertandingan melawan Kanada tidak berlangsung mudah bagi Maroko. Sejak menit awal, Kanada bermain agresif dengan tekanan tinggi yang membuat Singa Atlas kesulitan mengembangkan permainan. Jonathan David dan Tani Oluwaseyi beberapa kali menciptakan peluang berbahaya. Beruntung bagi Maroko, penjaga gawang Yassine Bounou kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu kiper terbaik di turnamen. Sejumlah penyelamatan penting yang dilakukan Bounou membuat gawang Maroko tetap aman hingga turun minum meski terus mendapat tekanan dari Kanada. Perubahan Taktik Mohamed Ouahbi Jadi Titik Balik Situasi berubah drastis setelah babak kedua dimulai. Pelatih Mohamed Ouahbi melakukan sejumlah penyesuaian strategi yang membuat Maroko lebih berani menguasai bola dan mampu keluar dari tekanan lawan. Hasilnya langsung terlihat pada menit ke-50. Berawal dari skema tendangan bebas, Achraf Hakimi mengirim umpan pendek kepada Azzedine Ounahi yang berdiri tanpa kawalan di depan kotak penalti. Tendangan keras sang gelandang gagal diantisipasi Maxime Crépeau dan membawa Maroko unggul. Gol tersebut mengubah jalannya pertandingan. Kanada mulai kehilangan ritme permainan, sementara Maroko tampil semakin percaya diri mengontrol tempo laga. Ounahi kembali mencetak gol pada menit ke-82 setelah menerima umpan matang dari Brahim Diaz. Menjelang pertandingan berakhir, Rahimi menambah keunggulan pada masa injury time sehingga skor menjadi 3-0. Pengamat: Maroko Sudah Bukan Tim Kuda Hitam Pengamat sepak bola Juprianto Alexander menilai Maroko sudah layak diposisikan sebagai salah satu kandidat juara Piala Dunia 2026. Menurutnya, konsistensi permainan yang ditunjukkan sejak fase grup menjadi bukti bahwa Singa Atlas mampu bersaing dengan negara-negara elite dunia. "Menurut saya Maroko bukan lagi tim kuda hitam. Mereka sudah menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang mampu bersaing menjadi juara. Itu terlihat sejak fase grup ketika mampu mengimbangi Brasil," ujarnya. Juprianto juga menilai keberhasilan mengalahkan Belanda dan Kanada menjadi bukti kematangan permainan Maroko. Meski sempat kesulitan menghadapi tekanan Kanada pada babak pertama, perubahan taktik yang dilakukan Mohamed Ouahbi berhasil mengubah arah pertandingan. "Pada babak pertama mereka memang tidak tampil sebaik laga-laga sebelumnya. Namun setelah jeda, perubahan racikan pelatih membuat permainan mereka jauh lebih agresif dan akhirnya mampu mencetak tiga gol," katanya. Kedalaman Skuad Jadi Kekuatan Utama Maroko Salah satu faktor yang membuat Maroko tampil konsisten adalah kualitas pemain yang merata di seluruh posisi. Tidak bergantung pada satu bintang saja, Singa Atlas memiliki banyak pemain yang mampu menjadi pembeda dalam pertandingan. Beberapa nama yang tampil menonjol sepanjang turnamen antara lain: Achraf Hakimi sebagai pemimpin di lini belakang. Noussair Mazraoui yang solid menjaga sisi pertahanan. Brahim Diaz dengan kreativitas serta kontribusi assist. Azzedine Ounahi yang mencetak dua gol ke gawang Kanada. Yassine Bounou yang beberapa kali menjadi penyelamat tim melalui penyelamatan krusial. Menurut Juprianto, kekuatan kolektif tersebut membuat Maroko semakin sulit diprediksi lawan. "Materi pemain mereka sangat lengkap. Di setiap lini ada pemain yang berpengalaman tampil di kompetisi elite Eropa sehingga kualitas permainan mereka juga sangat merata," ucapnya. Cedera Ismael Saibari Jadi Tantangan Baru Meski meraih kemenangan meyakinkan, Maroko juga menerima kabar kurang menggembirakan. Penyerang Ismael Saibari mengalami cedera hamstring saat menghadapi Kanada. Kondisi tersebut membuat peluangnya tampil pada babak perempat final diperkirakan sangat kecil. Absennya Saibari tentu menjadi kerugian bagi lini depan Singa Atlas. Namun, banyak pihak meyakini kedalaman skuad Maroko cukup untuk menutupi kehilangan tersebut. Duel Kontra Prancis Sarat Gengsi Pada babak perempat final, Maroko diperkirakan akan menghadapi salah satu ujian terberatnya, yakni melawan Prancis. Pertandingan tersebut dipastikan menjadi laga yang penuh gengsi karena mempertemukan dua tim dengan performa paling konsisten sepanjang Piala Dunia 2026. Selain memperebutkan tiket semifinal, laga ini juga menjadi kesempatan bagi Maroko untuk membalas kekalahan dari Prancis pada semifinal Piala Dunia 2022. Juprianto menilai peluang Maroko tetap terbuka meski menghadapi salah satu favorit juara. "Prancis memang tampil sangat solid, tetapi Maroko juga datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mampu mengimbangi Brasil, mengalahkan Belanda, dan kini menyingkirkan Kanada. Saya rasa mereka masih memiliki peluang membuat kejutan," katanya. Maroko Tak Lagi Dipandang Sebagai Tim Kejutan Perjalanan Maroko di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa keberhasilan mereka bukan sekadar hasil dari satu turnamen. Konsistensi permainan, kualitas pemain yang merata, serta kemampuan pelatih membaca jalannya pertandingan membuat Singa Atlas kini layak diperhitungkan sebagai kandidat juara. Dengan modal kepercayaan diri yang tinggi dan pengalaman menghadapi tim-tim besar, Maroko memiliki peluang untuk kembali mencetak sejarah. Jika mampu mempertahankan performa impresifnya, bukan tidak mungkin wakil Afrika tersebut melangkah lebih jauh dan menjadi salah satu penantang utama gelar Piala Dunia 2026.  

Sepakbola Daily • 06 Jul 2026

Kylian Mbappe Pimpin Top Skor Piala Dunia 2026, Semakin Dekat Raih Sepatu Emas

Persaingan perebutan top skor Piala Dunia 2026 semakin memanas. Hingga babak 16 besar berakhir, Kylian Mbappe berhasil memimpin daftar pencetak gol terbanyak sekaligus memperbesar peluang meraih penghargaan Sepatu Emas untuk kedua kalinya secara beruntun. Gol penalti yang dicetak saat Prancis mengalahkan Paraguay di Stadion Philadelphia, Amerika Serikat, Minggu, 5 Juli 2026, bukan hanya memastikan Les Bleus melaju ke perempat final. Tambahan satu gol tersebut juga membuat Mbappe semakin kokoh di papan atas daftar top skor turnamen. Gol ke Gawang Paraguay Antar Mbappe ke Puncak Top Skor Prancis memastikan tiket ke babak delapan besar setelah menaklukkan Paraguay dalam pertandingan yang berlangsung ketat. Momen penentu kemenangan hadir melalui eksekusi penalti Kylian Mbappe. Ketenangan sang kapten saat menjalankan tugas dari titik putih kembali menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di dunia. Berkat gol tersebut, koleksi Mbappe kini mencapai tujuh gol sepanjang Piala Dunia 2026. Jumlah itu membuatnya sejajar dengan Lionel Messi dalam hal produktivitas mencetak gol. Namun, Mbappe berhak menempati posisi pertama klasemen top skor karena unggul dalam catatan assist. Unggul dari Lionel Messi Berkat Assist Persaingan menuju Sepatu Emas diprediksi akan berlangsung hingga fase akhir turnamen. Baik Mbappe maupun Lionel Messi sama-sama telah mengoleksi tujuh gol. Akan tetapi, pemain Real Madrid tersebut memiliki dua assist, sementara Messi baru mencatatkan satu assist. Dalam aturan penentuan peraih Sepatu Emas FIFA, jumlah assist menjadi salah satu faktor pembeda apabila dua pemain memiliki jumlah gol yang sama. Dengan Prancis dan Argentina yang sama-sama masih bertahan di turnamen, persaingan kedua megabintang diperkirakan akan semakin menarik pada babak berikutnya. Rekor Mbappe di Piala Dunia Terus Bertambah Selain memimpin daftar top skor Piala Dunia 2026, Mbappe juga terus menorehkan catatan bersejarah dalam karier internasionalnya. Hingga babak 16 besar, pemain berusia 27 tahun itu telah mengumpulkan 19 gol dari 19 pertandingan di putaran final Piala Dunia. Catatan tersebut membuat Mbappe hanya terpaut satu gol dari rekor Lionel Messi yang telah mencetak 20 gol sepanjang penampilannya di ajang Piala Dunia. Jika mampu mempertahankan ketajamannya pada laga berikutnya, Mbappe berpeluang menyamai bahkan melampaui pencapaian tersebut. Perjalanan Karier Mbappe yang Penuh Prestasi Karier Kylian Mbappe bersama Timnas Prancis berkembang sangat cepat sejak usia muda. Debut internasionalnya terjadi pada Maret 2017 ketika usianya baru menginjak 18 tahun. Sebelum memperkuat tim senior Prancis, Mbappe lebih dulu mencuri perhatian bersama AS Monaco dengan membantu klub tersebut menjuarai Ligue 1. Namanya kemudian semakin dikenal dunia saat tampil gemilang pada Piala Dunia 2018. Ketika itu, Mbappe menjadi pemain remaja pertama setelah Pele yang mampu mencetak gol di final Piala Dunia. Ia turut membawa Prancis meraih gelar juara dunia sekaligus dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik setelah mencetak empat gol sepanjang turnamen. Penampilan impresif tersebut menjadi salah satu alasan Paris Saint-Germain merekrutnya dari AS Monaco. Konsisten Bersinar Bersama Les Bleus Performa Mbappe tidak berhenti setelah Piala Dunia 2018. Saat membela Paris Saint-Germain, kualitas permainannya terus berkembang dan berpengaruh positif bagi Timnas Prancis. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Mbappe kembali menunjukkan kelasnya dengan mencetak hattrick pada final melawan Argentina. Meski Prancis harus puas menjadi runner-up, Mbappe tetap membawa pulang penghargaan Sepatu Emas setelah mengoleksi delapan gol sepanjang turnamen. Kini, pada Piala Dunia 2026, peluang untuk mempertahankan gelar pencetak gol terbanyak kembali terbuka lebar. Mbappe Fokus Bantu Prancis Juara Meski berada di posisi terdepan dalam perburuan Sepatu Emas, Mbappe mengaku tidak menjadikan penghargaan individu sebagai target utama. Menurutnya, keberhasilan tim jauh lebih penting dibandingkan pencapaian pribadi. "Saya rasa sangat penting saat ini untuk memiliki lingkungan tim di mana kita dapat menemukan arah kita. Itu berarti kita dapat percaya diri dengan kekuatan kita ketika benar-benar dibutuhkan. Saya selalu mencetak gol di Piala Dunia, jadi itu bukan sesuatu yang saya pikirkan atau yang saya khawatirkan," ujar Mbappe. Ia menambahkan bahwa tantangan akan semakin berat seiring bertambahnya fase kompetisi. Karena itu, seluruh fokus tim kini diarahkan untuk membawa Prancis kembali menjadi juara dunia. Statistik Mbappe di Piala Dunia 2026 Sejauh ini, performa Kylian Mbappe menjadi salah satu yang paling konsisten di turnamen. Berikut beberapa pencapaiannya hingga babak 16 besar: Memimpin daftar top skor dengan tujuh gol. Mencatatkan dua assist sepanjang turnamen. Mengoleksi 19 gol dari 19 pertandingan Piala Dunia sepanjang karier. Membawa Prancis lolos ke babak perempat final. Berpeluang mempertahankan gelar Sepatu Emas yang diraihnya pada Piala Dunia 2022. Persaingan Sepatu Emas Dipastikan Semakin Sengit Masih tersisanya beberapa pertandingan membuat perebutan gelar top skor Piala Dunia 2026 belum sepenuhnya ditentukan. Selain Kylian Mbappe dan Lionel Messi, sejumlah penyerang lain juga masih memiliki peluang mengejar perolehan gol apabila mampu tampil tajam di fase perempat final hingga final. Namun, dengan konsistensi yang ditunjukkan sepanjang turnamen, Mbappe tetap menjadi kandidat terkuat untuk membawa pulang Sepatu Emas. Jika mampu mempertahankan performanya sekaligus mengantar Prancis melangkah lebih jauh, penyerang Real Madrid tersebut berpeluang menambah satu lagi pencapaian bergengsi dalam karier internasionalnya.  

Sepakbola Daily • 06 Jul 2026

Amerika Serikat vs Belgia di 16 Besar Piala Dunia 2026, Tuan Rumah Usung Misi Balas Dendam

Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 akan menghadirkan duel sarat gengsi antara Amerika Serikat vs Belgia. Pertandingan yang digelar di Stadion Seattle pada Selasa, 7 Juli 2026, bukan sekadar perebutan tiket ke perempat final, tetapi juga menjadi kesempatan bagi tuan rumah untuk membalas kekalahan menyakitkan dari Belgia pada Piala Dunia 2014. Dua belas tahun lalu, langkah Amerika Serikat harus terhenti di babak 16 besar setelah takluk dari Belgia di Brasil. Kini, dengan dukungan puluhan ribu suporter di kandang sendiri, The Stars and Stripes bertekad menulis kisah berbeda. Amerika Serikat Ingin Akhiri Kenangan Buruk atas Belgia Laga ini memiliki makna emosional bagi Amerika Serikat. Kekalahan dari Belgia pada Piala Dunia 2014 masih membekas dalam ingatan para pendukung sepak bola Negeri Paman Sam. Di bawah arahan Mauricio Pochettino, Amerika Serikat datang dengan ambisi besar untuk melangkah lebih jauh sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. Kesempatan tampil di hadapan publik sendiri menjadi motivasi tambahan bagi skuad The Stars and Stripes. Sebelumnya, Amerika Serikat memastikan tempat di babak 16 Besar setelah menyingkirkan Bosnia dan Herzegovina dengan kemenangan 2-0 pada fase 32 besar. Mauricio Pochettino Siapkan Strategi Baru Meski tampil sebagai tuan rumah, Amerika Serikat menghadapi tantangan yang tidak ringan. Mereka dipastikan kehilangan penyerang Folarin Balogun yang harus menjalani hukuman akibat kartu merah pada pertandingan sebelumnya. Absennya salah satu striker utama membuat Mauricio Pochettino harus menyusun ulang komposisi lini depan. Ricardo Pepi diperkirakan akan dipercaya mengisi posisi ujung tombak, sementara Christian Pulisic yang telah pulih dari cedera diharapkan menjadi motor serangan sekaligus kreator peluang. Pochettino menegaskan bahwa kepercayaan diri menjadi modal utama untuk menghadapi Belgia. "Menurut saya, segalanya mungkin dalam sepak bola jika Anda percaya. Kami menghormati Belgia. Dengan dukungan suporter kami di Seattle, saya rasa kami bisa tampil sangat kompetitif dan, tentu saja, berusaha memenangkan pertandingan serta melaju ke babak berikutnya. Agar hal itu terwujud, kami harus tampil dengan baik," ujar Pochettino. Belgia Datang dengan Kepercayaan Diri Tinggi Di sisi lain, Belgia juga memasuki pertandingan dengan moral yang sedang meningkat. Iblis Merah berhasil mencatatkan salah satu comeback paling dramatis di Piala Dunia 2026 saat mengalahkan Senegal 3-2 pada babak 32 besar. Kemenangan tersebut semakin memperkuat kepercayaan diri skuad asuhan Rudi Garcia. Sebagai juara Grup G, Belgia dinilai memiliki pengalaman dan kualitas yang cukup untuk kembali melangkah jauh di turnamen. Meski sebagian besar anggota generasi emas Belgia telah memasuki usia matang, tim ini masih memiliki sejumlah pemain berpengalaman yang mampu menentukan jalannya pertandingan pada momen-momen penting. Rudi Garcia Minta Belgia Tetap Fokus Pelatih Belgia, Rudi Garcia, memilih tidak terlalu memikirkan status Amerika Serikat sebagai tuan rumah. Menurutnya, fokus utama tim adalah memperbaiki sejumlah kekurangan yang terlihat saat menghadapi Senegal, terutama dalam menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan. Garcia juga mengingatkan bahwa tekanan di fase gugur akan jauh lebih besar dibandingkan fase sebelumnya sehingga para pemain harus mampu menjaga ketenangan. Meski Belgia pernah mengalahkan Amerika Serikat dengan skor telak 5-2 dalam laga uji coba pada Maret lalu, Garcia menilai pertandingan di Piala Dunia memiliki atmosfer yang sama sekali berbeda. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukung tuan rumah akan menjadi tantangan tersendiri bagi Belgia. Duel Taktik Diprediksi Menjadi Penentu Pertandingan Amerika Serikat kontra Belgia diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu para pemain, tetapi juga strategi kedua pelatih. Mauricio Pochettino dikenal mengandalkan permainan dengan tekanan tinggi, transisi cepat, dan penguasaan ruang. Sebaliknya, Belgia memiliki pengalaman dalam mengelola tempo pertandingan serta memanfaatkan efektivitas serangan balik. Beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penentu hasil pertandingan antara lain: Efektivitas lini depan Amerika Serikat tanpa Folarin Balogun. Performa Christian Pulisic sebagai pengatur serangan. Pengalaman para pemain senior Belgia dalam laga fase gugur. Kemampuan kedua tim menjaga konsentrasi hingga akhir pertandingan. Dukungan suporter tuan rumah yang diperkirakan memenuhi Stadion Seattle. Rekor Pertemuan Jadi Tambahan Motivasi Secara historis, Belgia memiliki catatan yang cukup baik saat menghadapi Amerika Serikat di ajang internasional. Selain kemenangan pada babak 16 Besar Piala Dunia 2014, Belgia juga berhasil mengalahkan Amerika Serikat dalam laga uji coba beberapa bulan sebelum Piala Dunia 2026. Namun, catatan tersebut tidak selalu menjadi jaminan hasil serupa. Dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, kondisi fisik, mental, dan performa pada hari pertandingan sering kali menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan statistik masa lalu. Tiket Perempat Final Jadi Taruhan Duel Amerika Serikat vs Belgia diprediksi menjadi salah satu pertandingan paling menarik di babak 16 Besar Piala Dunia 2026. Amerika Serikat membawa motivasi besar untuk membalas kekalahan lama sekaligus menjaga mimpi tampil di depan pendukung sendiri. Sementara itu, Belgia ingin membuktikan bahwa pengalaman dan mental juara masih menjadi kekuatan utama mereka. Dengan kualitas yang dimiliki kedua tim, pertandingan diperkirakan berlangsung ketat dan berpotensi ditentukan oleh momen-momen krusial di sepanjang laga.  

Sepakbola Daily • 06 Jul 2026

Kanada, Kuda Hitam Piala Dunia 2026 yang Bangkit dari Peringkat 109 FIFA hingga Tembus 16 Besar

Kiprah Kanada di Piala Dunia 2026 menjadi salah satu kisah paling menarik dalam turnamen tahun ini. Berstatus sebagai salah satu tuan rumah, The Canucks berhasil membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pelengkap dengan memastikan tempat di babak 16 Besar setelah menyingkirkan Afrika Selatan pada fase gugur. Perjalanan tersebut sekaligus menegaskan status Kanada sebagai kuda hitam Piala Dunia 2026 yang patut diperhitungkan. Kesuksesan itu terasa semakin istimewa jika melihat perjalanan mereka beberapa tahun ke belakang. Pada 2017, Kanada masih terpuruk di peringkat ke-109 dunia versi FIFA. Kini, negara asal Amerika Utara tersebut telah menjelma menjadi salah satu tim yang mampu bersaing dengan negara-negara sepak bola papan atas. Dari Peringkat 109 FIFA Menuju Tim yang Disegani Transformasi Kanada tidak terjadi secara instan. Selama bertahun-tahun, tim nasional mereka lebih sering dipandang sebagai pelengkap dalam kompetisi internasional. Pada April 2017, Kanada berada di posisi ke-109 ranking FIFA, bahkan masih berada di bawah sejumlah negara yang bukan kekuatan utama sepak bola dunia. Saat itu, kemenangan demi kemenangan hanya diraih atas lawan-lawan dengan level yang relatif lebih rendah. Perubahan mulai terlihat ketika Kanada membangun fondasi baru melalui pembinaan pemain muda, peningkatan kompetisi domestik, serta pengalaman para pemain yang berkarier di liga-liga top Eropa. Momentum tersebut semakin terasa saat mereka berhasil lolos ke Piala Dunia 2022 dan terus berkembang hingga menjadi salah satu tim yang tampil kompetitif pada edisi 2026. Piala Dunia 2026 Jadi Bukti Kebangkitan Kanada Sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, Kanada mampu memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik. Mereka membuka fase grup dengan hasil imbang sebelum tampil luar biasa pada pertandingan berikutnya melalui kemenangan telak 6-0 atas Qatar. Meski kalah tipis dari Swiss pada laga terakhir grup, hasil yang diraih tetap cukup untuk mengamankan tiket ke babak gugur. Pada babak 32 besar, Kanada kembali menunjukkan kedewasaan permainan dengan mengalahkan Afrika Selatan 1-0. Kemenangan itu memastikan langkah mereka menuju babak 16 Besar sekaligus memperpanjang kisah indah sebagai salah satu kejutan terbesar di turnamen. Perubahan Besar Berawal dari Kualifikasi Piala Dunia 2022 Perjalanan Kanada menuju level saat ini tidak lepas dari keberhasilan mereka pada Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona CONCACAF. Saat itu, Kanada harus memulai perjalanan dari putaran awal karena peringkat FIFA yang masih rendah. Namun, mereka mampu melewati setiap tantangan hingga akhirnya mengungguli tim-tim kuat seperti Amerika Serikat dan Meksiko. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik perkembangan sepak bola Kanada. Meskipun gagal meraih kemenangan pada putaran final Piala Dunia 2022, pengalaman tersebut menjadi modal berharga untuk membangun tim yang lebih matang pada edisi berikutnya. Generasi Emas Angkat Prestasi Kanada Keberhasilan Kanada tidak hanya berasal dari peningkatan kualitas tim secara keseluruhan, tetapi juga didukung oleh hadirnya generasi pemain terbaik dalam sejarah sepak bola negara tersebut. Kombinasi pemain yang berkarier di kompetisi elite Eropa membuat Kanada memiliki kualitas yang jauh lebih baik dibandingkan satu dekade lalu. Beberapa faktor yang mendorong kebangkitan Kanada antara lain: Pembinaan pemain muda yang semakin terstruktur. Banyak pemain mendapatkan pengalaman di liga-liga top Eropa. Konsistensi penampilan sejak Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pengalaman tampil pada turnamen besar seperti Copa América dan Piala Dunia. Dukungan sebagai tuan rumah yang meningkatkan kepercayaan diri tim. Mentalitas Baru Jadikan Kanada Tim Berbahaya Salah satu perubahan paling mencolok dari Kanada adalah mental bertanding. Jika sebelumnya mereka kerap kesulitan menghadapi tim-tim besar, kini Kanada tampil lebih percaya diri dan disiplin. Organisasi permainan yang rapi dipadukan dengan transisi cepat membuat mereka mampu menyulitkan lawan yang secara kualitas lebih diunggulkan. Performa tersebut membuat banyak pengamat mulai menempatkan Kanada sebagai salah satu kuda hitam Piala Dunia 2026, sejajar dengan negara-negara yang berpotensi menciptakan kejutan di fase gugur. Tantangan Berat Menanti di Babak 16 Besar Meski berhasil mencuri perhatian, perjalanan Kanada belum selesai. Lawan yang dihadapi pada babak 16 Besar dipastikan memiliki kualitas yang lebih tinggi sehingga konsistensi permainan akan menjadi faktor penting apabila mereka ingin melanjutkan kejutan di Piala Dunia 2026. Keberhasilan menembus fase gugur sudah menjadi pencapaian bersejarah bagi sepak bola Kanada. Namun, performa yang ditunjukkan sepanjang turnamen membuktikan bahwa mereka tidak lagi sekadar menjadi peserta, melainkan tim yang layak diperhitungkan di panggung dunia. Kebangkitan Kanada Bisa Menjadi Inspirasi Negara Lain Perjalanan Kanada dari peringkat ke-109 FIFA hingga mencapai babak 16 Besar Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa transformasi sepak bola membutuhkan proses panjang, perencanaan yang matang, dan konsistensi dalam pembinaan pemain. Dalam kurun kurang dari satu dekade, Kanada berhasil mengubah statusnya dari tim yang jarang diperhitungkan menjadi salah satu kekuatan baru di sepak bola internasional. Kisah tersebut menjadi bukti bahwa investasi pada pembinaan usia muda, kompetisi yang sehat, dan pengembangan pemain dapat menghasilkan prestasi yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Sepakbola Daily • 05 Jul 2026

Jackson Irvine Kecewa Australia Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Minta Rekan Setim Tak Disalahkan

Perjalanan Australia di Piala Dunia 2026 harus berakhir dengan cara yang menyakitkan. Setelah bertarung selama 120 menit melawan Mesir pada babak 32 besar, Socceroos akhirnya tersingkir lewat adu penalti dengan skor 2-4 usai bermain imbang 1-1 pada waktu normal dan babak tambahan. Kekalahan tersebut menyisakan kekecewaan mendalam bagi gelandang sekaligus kapten Australia, Jackson Irvine. Meski gagal melangkah ke babak 16 besar, ia meminta publik tetap memberikan dukungan kepada para pemain yang gagal menjalankan tugas sebagai algojo penalti. Adu Penalti Akhiri Perjalanan Australia di Piala Dunia 2026 Laga melawan Mesir berlangsung sengit sejak awal. Australia sempat berada dalam posisi tertinggal setelah Mesir membuka keunggulan melalui Emam Ashour. Socceroos kemudian berhasil menyamakan kedudukan berkat gol bunuh diri Mohamed Hany sehingga pertandingan harus dilanjutkan hingga babak tambahan waktu. Namun, selama 120 menit tidak ada gol tambahan yang tercipta sehingga pemenang ditentukan melalui adu penalti. Pada babak tos-tosan, Australia kehilangan peluang setelah Harry Souttar dan Lucas Harrington gagal mengeksekusi penalti. Sebaliknya, Mesir tampil sempurna dan memastikan kemenangan 4-2 untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar. Jackson Irvine Akui Kekalahan Sangat Menyakitkan Usai pertandingan, Jackson Irvine tidak menutupi rasa kecewanya atas hasil yang diterima timnya. Menurut pemain berusia 33 tahun itu, kalah melalui adu penalti merupakan salah satu cara paling menyakitkan untuk mengakhiri perjalanan di sebuah turnamen besar. "Kalah lewat adu penalti itu menyakitkan," ujar Irvine. Meski demikian, ia tetap memberikan apresiasi kepada semua rekan setim yang berani mengambil tanggung jawab sebagai penendang penalti setelah menjalani pertandingan dengan intensitas tinggi selama dua jam. "Tetapi siapa pun yang memiliki keberanian untuk maju dan mengambil bola itu setelah bermain selama 120 menit atau berapa pun durasi pertandingannya, menunjukkan keteguhan hati yang luar biasa," lanjutnya. Irvine Bela Harry Souttar dan Lucas Harrington Perhatian Irvine juga tertuju kepada Harry Souttar dan Lucas Harrington yang gagal menjalankan tugas sebagai eksekutor penalti. Menurutnya, kekalahan tidak seharusnya dibebankan kepada dua pemain tersebut. Ia berharap publik Australia tetap memberikan dukungan karena keberhasilan maupun kegagalan merupakan tanggung jawab seluruh tim. Irvine menegaskan sejak awal turnamen Socceroos selalu mengandalkan kekuatan kolektif, bukan kemampuan individu semata. "Saya berharap semua orang tetap mendukung mereka dan memberikan dukungan penuh. Sejak awal kami sudah mengatakan bahwa kami memiliki tim juara. Kekuatan kami terletak pada tim ini," katanya. Harapan Asia Resmi Berakhir Kekalahan Australia juga memiliki dampak yang lebih luas bagi persaingan Piala Dunia 2026. Socceroos merupakan wakil terakhir dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang masih bertahan di fase gugur. Setelah mereka tersingkir, tidak ada lagi tim Asia yang melanjutkan perjalanan menuju babak 16 besar. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri harapan kawasan Asia untuk mencatatkan prestasi lebih jauh pada edisi kali ini. Catatan Australia di Fase Gugur Masih Belum Berubah Kegagalan melawan Mesir memperpanjang penantian Australia untuk meraih kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia. Dalam beberapa edisi terakhir, Socceroos selalu gagal melewati rintangan pertama setelah fase grup. Sebelumnya mereka disingkirkan Italia pada Piala Dunia 2006 dan Argentina pada edisi 2022. Kini, langkah mereka kembali terhenti setelah kalah lewat drama adu penalti. Faktor yang Membuat Australia Gagal Melaju Beberapa hal yang menjadi penyebab tersingkirnya Australia antara lain: Kesulitan menciptakan peluang bersih sepanjang pertandingan. Penyelesaian akhir yang kurang efektif selama 120 menit. Dua kegagalan dalam adu penalti yang dimanfaatkan Mesir dengan sempurna. Mesir tampil lebih tenang saat momen-momen penentuan. Meski demikian, Australia tetap menunjukkan semangat juang tinggi dengan mampu bangkit setelah lebih dulu tertinggal pada waktu normal. Kekalahan Menjadi Pelajaran Berharga bagi Socceroos Berakhirnya perjalanan Australia di Piala Dunia 2026 tentu meninggalkan rasa kecewa, baik bagi pemain maupun pendukungnya. Namun, sikap Jackson Irvine yang tetap membela rekan-rekannya menunjukkan kuatnya solidaritas di dalam skuad Socceroos. Bagi Australia, pengalaman menghadapi tekanan di fase gugur dapat menjadi modal penting untuk membangun tim yang lebih matang pada turnamen mendatang. Sementara bagi Mesir, kemenangan lewat adu penalti menjadi langkah bersejarah untuk melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026 menuju babak 16 besar.

Sepakbola Daily • 05 Jul 2026

Portugal Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026 usai Drama VAR, Cristiano Ronaldo Cetak Rekor Bersejarah

Portugal memastikan tempat di babak 16 Besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan Kroasia dengan skor tipis 2-1 dalam pertandingan yang diwarnai kontroversi VAR. Duel yang berlangsung di Stadion Toronto, Kanada, Jumat, 3 Juli 2026, menghadirkan drama hingga detik terakhir sekaligus mencatatkan rekor baru bagi Cristiano Ronaldo. Kemenangan tersebut tidak diraih dengan mudah. Kroasia sempat memimpin lebih dahulu sebelum Portugal berhasil membalikkan keadaan lewat penalti Cristiano Ronaldo dan gol penentu Goncalo Ramos pada masa injury time. Kroasia Sempat Memimpin, Portugal Bangkit di Babak Kedua Jalannya pertandingan berlangsung ketat sejak menit awal. Kedua tim saling berhati-hati dalam membangun serangan sehingga peluang berbahaya relatif minim pada babak pertama. Kebuntuan akhirnya pecah pada menit ke-57. Kroasia membuka keunggulan melalui Ivan Perisic yang sukses memanfaatkan peluang di depan gawang Portugal. Tertinggal satu gol membuat Portugal meningkatkan intensitas serangan. Upaya tersebut membuahkan hasil ketika Cristiano Ronaldo sukses menjalankan tugas sebagai eksekutor penalti pada menit ke-68 sehingga skor kembali imbang 1-1. Momentum kemudian berpihak kepada Portugal. Saat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan, pemain pengganti Goncalo Ramos muncul sebagai pembeda lewat sundulan akurat pada menit ke-90+4 yang membawa Portugal berbalik unggul. Drama VAR Warnai Akhir Laga Portugal vs Kroasia Ketegangan belum berakhir meski Portugal sudah memimpin. Pada penghujung masa injury time, Kroasia sempat merayakan gol yang dicetak Josko Gvardiol. Namun, kegembiraan tersebut hanya berlangsung sesaat. Setelah melakukan peninjauan melalui Video Assistant Referee (VAR), wasit memutuskan gol itu tidak sah. Tayangan ulang memperlihatkan bola lebih dulu mengenai Igor Matanovic yang berada dalam posisi offside sebelum akhirnya mengarah kepada Gvardiol. Keputusan tersebut memicu kekecewaan besar dari kubu Kroasia. Beberapa suporter bahkan melempar botol air mineral ke dalam lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan wasit. Dengan hasil tersebut, Portugal berhak melaju ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026 dan dijadwalkan menghadapi Spanyol. Zlatko Dalic Kecewa, tetapi Enggan Menjadikan Wasit sebagai Alasan Pelatih Kroasia Zlatko Dalic mengaku kecewa terhadap keputusan yang diambil perangkat pertandingan, terutama terkait gol yang dianulir melalui VAR. Meski demikian, ia menegaskan kekalahan timnya tidak sepenuhnya disebabkan oleh keputusan wasit. "Kepemimpinan wasit sangat buruk. Namun, Kroasia kalah. Saya tidak akan mencari-cari alasan. Kami sebenarnya bisa saja memenangkan pertandingan ini lebih awal," ujar Dalic. Menurut pelatih berusia 59 tahun itu, Kroasia tampil kurang efektif pada babak pertama meskipun performa tim meningkat setelah turun minum. Ia juga mengakui keberuntungan yang pernah mengiringi Kroasia dalam perjalanan menuju final Piala Dunia 2018 dan semifinal Piala Dunia 2022 kali ini tidak berpihak kepada timnya. Roberto Martinez Nilai Portugal Memang Layak Menang Di sisi lain, pelatih Portugal Roberto Martinez menilai hasil pertandingan sudah sesuai dengan jalannya laga. Ia mendukung keputusan wasit yang menggunakan VAR sebagai dasar dalam mengambil keputusan penting, termasuk menganulir gol Kroasia dan memberikan hadiah penalti kepada Portugal. "Tidak ada keputusan yang keliru. Hari ini kami beruntung. Tayangan ulang memperlihatkan posisi offside, dan penalti itu pun jelas. Saya mengapresiasi kinerja Dalic bersama tim ini, dan sayang sekali hanya ada satu pemenang hari ini," kata Martinez. Menurutnya, keberhasilan Portugal tidak hanya ditentukan oleh keberuntungan, tetapi juga kemampuan para pemain menjaga fokus hingga menit-menit akhir pertandingan. Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor di Piala Dunia 2026 Selain membawa Portugal lolos ke babak berikutnya, Cristiano Ronaldo juga mencatatkan sejarah baru. Gol penalti yang dicetak pemain berusia 41 tahun tersebut menjadikannya sebagai pencetak gol tertua dalam fase gugur Piala Dunia. Rekor itu melampaui pencapaian kompatriotnya, Pepe, yang sebelumnya menjadi pemain tertua yang mampu mencetak gol pada fase knockout Piala Dunia saat berusia 39 tahun. Catatan tersebut semakin memperkuat status Ronaldo sebagai salah satu pemain paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola dunia. Hasil Lain: Spanyol dan Swiss Tampil Meyakinkan Selain Portugal, dua tim Eropa lainnya juga berhasil mengamankan tiket ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026. Spanyol Taklukkan Austria 3-0 Di Stadion Los Angeles, Amerika Serikat, Spanyol tampil dominan saat mengalahkan Austria dengan skor telak 3-0. Mikel Oyarzabal menjadi bintang pertandingan setelah mencetak dua gol pada menit ke-36 dan ke-89. Satu gol lainnya disumbangkan Pedro Porro pada menit ke-66. Pelatih Luis de la Fuente memberikan apresiasi terhadap performa timnya yang dinilai hampir sempurna sepanjang pertandingan. "Saya pikir hari ini kami memainkan pertandingan yang luar biasa. Saya senang karena hampir di semua aspek kami tampil nyaris sempurna, tetapi kami harus terus berkembang," ujarnya. Meski puas dengan kemenangan tersebut, De la Fuente mengingatkan bahwa tantangan yang lebih berat sudah menanti, termasuk duel melawan Portugal pada babak berikutnya. "Setiap pertandingan sekarang akan sangat sulit. Di babak 16 besar, lawan yang kami hadapi tentu akan memiliki kualitas yang lebih tinggi," tambahnya. Swiss Singkirkan Aljazair Sementara itu, Swiss juga memastikan langkah ke babak 16 Besar usai mengalahkan Aljazair 2-0 di BC Place, Vancouver, Kanada. Breel Embolo membuka keunggulan Swiss pada menit ke-10 sebelum Dan Ndoye menggandakan skor pada menit ke-64. Berkat kemenangan tersebut, Swiss kini menunggu pemenang pertandingan Kolombia kontra Ghana sebagai lawan berikutnya. Rekap Hasil Pertandingan Babak 32 Besar Piala Dunia 2026 Beberapa hasil penting yang mewarnai babak knockout sejauh ini antara lain: Portugal 2-1 Kroasia Spanyol 3-0 Austria Swiss 2-0 Aljazair Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa persaingan menuju babak 16 Besar Piala Dunia 2026 semakin ketat. Portugal membawa modal besar setelah melewati laga penuh tekanan, sementara Spanyol dan Swiss tampil lebih meyakinkan untuk menjaga peluang melangkah lebih jauh di turnamen.

Sepakbola Daily • 04 Jul 2026

Inggris Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026, Brace Harry Kane Hentikan Perlawanan Kongo

Timnas Inggris memastikan langkah ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026 setelah membalikkan keadaan dan menundukkan Republik Demokratik Kongo dengan skor 2-1. Sosok Harry Kane menjadi penentu kemenangan The Three Lions lewat dua gol yang dicetak pada babak kedua dalam laga di Stadion Atlanta, Kamis, 2 Juli 2026 dini hari WIB. Sempat tertinggal sejak awal pertandingan, Inggris menunjukkan ketenangan dan karakter kuat untuk bangkit. Kemenangan tersebut sekaligus mengantar pasukan Thomas Tuchel menghadapi tuan rumah Meksiko pada babak 16 Besar. Inggris Dikejutkan Gol Cepat Republik Demokratik Kongo Pertandingan baru berjalan enam menit ketika Republik Demokratik Kongo berhasil mencuri keunggulan. Brian Cipenga memanfaatkan kelengahan lini belakang Inggris sebelum melepaskan tembakan yang gagal dihentikan penjaga gawang The Three Lions. Gol cepat itu membuat jalannya pertandingan berubah. Inggris langsung mengambil alih penguasaan bola dan terus menekan pertahanan lawan demi mencari gol penyeimbang. Meski menciptakan sejumlah peluang, penyelesaian akhir yang kurang maksimal membuat skor 0-1 bertahan cukup lama. Situasi tersebut bahkan membuat pelatih Thomas Tuchel beberapa kali menunjukkan ekspresi frustrasi di pinggir lapangan. Melihat permainan timnya belum berkembang, Tuchel melakukan perubahan pada menit ke-61 dengan memasukkan Anthony Gordon dan Bukayo Saka untuk menggantikan Marcus Rashford serta Noni Madueke. Brace Harry Kane Antar Inggris ke Babak 16 Besar Pergantian pemain yang dilakukan Tuchel akhirnya memberikan dampak positif. Gol penyeimbang lahir pada menit ke-75 ketika Harry Kane sukses menyambut umpan silang Anthony Gordon melalui sundulan terarah yang tak mampu dibendung kiper Kongo. Momentum pertandingan pun berubah sepenuhnya menjadi milik Inggris. Empat menit menjelang waktu normal berakhir, Kane kembali menunjukkan kelasnya. Penyerang sekaligus kapten Inggris itu melepaskan tendangan keras yang menggetarkan gawang Republik Demokratik Kongo dan memastikan kemenangan 2-1 bagi The Three Lions. Brace tersebut tidak hanya membawa Inggris lolos ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026, tetapi juga kembali menegaskan peran penting Harry Kane sebagai mesin gol utama tim. Thomas Tuchel Soroti Mentalitas Pemain Inggris Usai pertandingan, Thomas Tuchel memberikan apresiasi terhadap karakter dan mental bertanding yang diperlihatkan para pemainnya. Menurut pelatih asal Jerman itu, Inggris tidak kehilangan kepercayaan diri meski harus tertinggal sejak awal laga. Kesabaran menjadi kunci hingga akhirnya peluang demi peluang berhasil dikonversi menjadi gol. "Kami harus memiliki mentalitas seperti itu. Saat pertandingan menjadi sulit, ya memang akan sulit. Namun jangan kehilangan kesabaran dan jangan pernah kehilangan keyakinan," kata Tuchel. Keberhasilan membalikkan keadaan juga dinilai menjadi modal penting bagi Inggris untuk menghadapi tantangan yang lebih berat pada fase berikutnya. Harry Kane: Siapa Pun Bisa Menjadi Pahlawan Meski menjadi bintang kemenangan lewat dua golnya, Harry Kane memilih tidak mengambil seluruh pujian untuk dirinya sendiri. Kapten Inggris itu menegaskan bahwa setiap pemain memiliki peluang menjadi pembeda dalam pertandingan. Ia juga mengapresiasi permainan Republik Demokratik Kongo yang memberikan perlawanan sengit sepanjang laga. "Hari ini giliran saya. Sepanjang pekan kami juga berbicara untuk tetap menjadi diri sendiri," ujar Kane. Meski puas dengan hasil yang diraih, Kane mengingatkan bahwa Inggris masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah jika ingin melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026. Menurutnya, pertandingan fase gugur memang selalu berjalan sulit sehingga kemampuan bertahan di bawah tekanan menjadi faktor yang sangat menentukan. "Di fase gugur seperti ini yang terpenting adalah bisa lolos. Kami sudah memasuki tahap turnamen ketika Anda harus berjuang keras untuk meraih kemenangan, dan itulah yang kami lakukan hari ini," tambahnya. Republik Demokratik Kongo Tersingkir dengan Kepala Tegak Di balik kekalahan tersebut, Republik Demokratik Kongo tetap mendapat pujian atas performa yang mereka tampilkan. Pelatih Sebastien Desabre menilai anak asuhnya sudah menjalankan strategi dengan baik. Namun, kualitas individu Harry Kane menjadi pembeda yang akhirnya menentukan hasil pertandingan. "Menjelang akhir pertandingan kami memberikan dua peluang, lalu salah satu pemain terbaik di dunia mencetak dua gol ke gawang kami. Sangat disayangkan," ujar Desabre. Pelatih asal Prancis itu juga menilai pengalaman menghadapi tim besar seperti Inggris akan menjadi bekal penting bagi perkembangan sepak bola Republik Demokratik Kongo di masa mendatang. Menurutnya, laga di Piala Dunia memberikan pelajaran berharga bagi para pemain muda untuk menghadapi pertandingan dengan tekanan tinggi. "Mereka mendapatkan banyak pengalaman dengan menghadapi tim seperti ini," katanya. Faktor Penentu Kemenangan Inggris atas Kongo Keberhasilan Inggris lolos ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026 dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, antara lain: Pergantian pemain yang dilakukan Thomas Tuchel berhasil mengubah ritme permainan. Anthony Gordon memberikan kontribusi langsung melalui assist untuk gol pertama Harry Kane. Pengalaman dan ketajaman Harry Kane menjadi pembeda pada momen-momen krusial. Inggris tetap menjaga kesabaran meski tertinggal sejak awal pertandingan. Penguasaan bola yang dominan membuat tekanan terhadap pertahanan Kongo terus meningkat hingga akhir laga. Inggris Bersiap Hadapi Tantangan Lebih Berat di Babak 16 Besar Kemenangan dramatis atas Republik Demokratik Kongo memastikan Inggris tetap menjaga asa meraih gelar juara Piala Dunia 2026. Namun, performa pada laga ini juga menunjukkan bahwa The Three Lions masih perlu meningkatkan efektivitas penyelesaian akhir dan konsistensi permainan. Dengan lawan yang semakin berat di fase gugur, Inggris dituntut tampil lebih tajam sejak menit pertama. Sementara itu, Republik Demokratik Kongo boleh meninggalkan turnamen dengan rasa bangga setelah mampu memberikan perlawanan sengit kepada salah satu kandidat juara dunia.  

Sepakbola Daily • 03 Jul 2026

Australia vs Mesir di Piala Dunia 2026, Socceroos Jadi Harapan Terakhir Asia Menuju 16 Besar

Australia mengemban misi besar saat menghadapi Mesir pada babak 32 Besar Piala Dunia 2026. Pertandingan ini tidak hanya menentukan siapa yang berhak melaju ke babak 16 Besar, tetapi juga menjadi kesempatan terakhir bagi Asia untuk tetap memiliki wakil di turnamen terbesar sepak bola dunia. Setelah Jepang tersingkir di tangan Brasil, seluruh harapan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) kini bertumpu kepada Socceroos. Karena itu, duel melawan Mesir akan menjadi ujian penting bagi skuad asuhan Graham Arnold. Laga Australia vs Mesir dijadwalkan berlangsung di Stadion Dallas, Arlington, Amerika Serikat, Sabtu, 4 Juli 2026, pukul 01.00 WIB. Kedua tim datang dengan kepercayaan diri tinggi usai melewati fase grup dengan performa yang cukup konsisten. Australia Bawa Misi Besar untuk Sepak Bola Asia Lebih dari sekadar mengejar tiket ke babak 16 Besar Piala Dunia 2026, Australia kini memikul tanggung jawab sebagai satu-satunya wakil Asia yang masih bertahan di kompetisi. Kegagalan Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi, dan negara-negara Asia lainnya membuat perhatian pencinta sepak bola kawasan beralih sepenuhnya kepada Socceroos. Perjalanan Australia menuju fase gugur juga tidak diraih dengan mudah. Mereka membuka perjalanan di Grup D dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Turki. Namun, langkah mereka sempat terganggu setelah kalah 0-2 dari tuan rumah Amerika Serikat. Beruntung, hasil imbang tanpa gol melawan Paraguay cukup untuk mengamankan posisi runner-up grup sekaligus memastikan tiket ke babak knockout. Disiplin Bertahan Jadi Senjata Utama Socceroos Selama Piala Dunia 2026 berlangsung, Australia memperlihatkan karakter permainan yang disiplin dan penuh determinasi. Organisasi pertahanan yang solid menjadi fondasi utama keberhasilan mereka melangkah ke fase gugur. Selain kokoh di lini belakang, Australia juga dikenal memiliki transisi menyerang yang cepat. Skema serangan balik inilah yang berpotensi merepotkan pertahanan Mesir apabila mampu dimanfaatkan secara maksimal. Sejumlah pemain berpengalaman diperkirakan kembali menjadi tumpuan tim, antara lain: Mathew Ryan sebagai pemimpin di bawah mistar gawang. Jackson Irvine yang berperan menjaga keseimbangan lini tengah. Craig Goodwin dengan kemampuan menciptakan peluang dari sisi sayap. Lini pertahanan yang tampil disiplin sepanjang fase grup. Mental bertanding juga diperkirakan akan menjadi faktor penting. Pada fase gugur, tekanan pertandingan jauh lebih besar karena kesalahan sekecil apa pun dapat mengakhiri perjalanan sebuah tim. Mesir Datang dengan Modal Percaya Diri Tinggi Di kubu lawan, Mesir juga tampil meyakinkan sepanjang fase grup. The Pharaohs berhasil menunjukkan konsistensi permainan sehingga mampu mengamankan tempat di babak 32 Besar. Perjalanan mereka dimulai dengan hasil imbang melawan Belgia yang menjadi unggulan Grup G. Setelah itu, Mesir meraih kemenangan 3-1 atas Selandia Baru sebelum memastikan status runner-up grup berkat hasil imbang menghadapi Iran pada pertandingan terakhir. Performa tersebut membuat Mesir menjadi lawan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh Australia. Kondisi Mohamed Salah Masih Menjadi Tanda Tanya Meski tampil impresif, Mesir mendapat kabar yang kurang menggembirakan menjelang duel menghadapi Australia. Kapten sekaligus bintang utama mereka, Mohamed Salah, masih berpacu dengan waktu untuk memulihkan kondisi fisiknya. Pemain Liverpool tersebut dilaporkan mengalami ketegangan ringan pada otot hamstring saat pertandingan terakhir fase grup. Bersama Mohamed Abdel-Moneim dan Ahmed Fotouh, Salah menjalani proses pemulihan sementara pemain lainnya tetap mengikuti sesi latihan di Spokane, Washington. Direktur Timnas Mesir, Ibrahim Hassan, menjelaskan bahwa Salah langsung meminta pergantian pemain begitu merasakan ketidaknyamanan pada kakinya. "Mohamed Salah merasakan sedikit ketegangan di hamstring-nya. Begitu dia merasakan sakit yang dialaminya, dia berhenti dan meminta untuk diganti karena dia tidak akan bisa melanjutkan pertandingan," ujar Ibrahim Hassan. Meski demikian, pelatih Mesir Hossam Hassan tetap optimistis kondisi sang kapten tidak terlalu mengkhawatirkan. Ia mengungkapkan bahwa setelah pertandingan melawan Iran, Salah telah memberikan keyakinan bahwa cedera yang dialaminya bukan merupakan masalah serius. "Dia meyakinkan saya bahwa dia akan baik-baik saja, bahwa itu bukan cedera serius," kata Hossam Hassan. Duel Australia vs Mesir Berpotensi Berjalan Ketat Pertandingan ini diprediksi berlangsung sengit karena kedua tim memiliki karakter permainan yang berbeda. Australia mengandalkan disiplin bertahan, duel fisik, serta serangan balik cepat, sedangkan Mesir lebih mengutamakan penguasaan bola dan kreativitas di lini depan. Beberapa faktor yang diperkirakan menjadi penentu hasil pertandingan antara lain: Efektivitas Australia dalam memanfaatkan peluang serangan balik. Kondisi kebugaran Mohamed Salah jelang kick-off. Kedisiplinan kedua tim dalam menjaga organisasi pertahanan. Kemampuan pelatih melakukan perubahan taktik sepanjang pertandingan. Dengan tiket babak 16 Besar Piala Dunia 2026 menjadi taruhannya, duel Australia vs Mesir dipastikan menghadirkan persaingan ketat. Bagi Socceroos, kemenangan bukan hanya berarti melanjutkan perjalanan di turnamen, tetapi juga menjaga asa sepak bola Asia tetap hidup di panggung Piala Dunia.  

Sepakbola Daily • 03 Jul 2026