Rekomendasi

5 Tempat Makan Rating Tinggi di Bandung yang Buka 24 Jam, Cocok Buat Lapar Tengah Malam

Lapar tengah malam memang suka datang tanpa aba-aba. Saat sebagian besar tempat makan sudah tutup, mencari makanan hangat di Bandung ternyata bukan perkara sulit. Sebagai salah satu kota yang dikenal dengan wisata kulinernya, Bandung punya sejumlah tempat makan yang tetap melayani pelanggan selama 24 jam. Menariknya, beberapa di antaranya juga memiliki rating Google yang cukup tinggi berdasarkan penilaian para pengunjung. Pilihan ini bisa dimanfaatkan bukan hanya untuk mengatasi perut keroncongan. Buat yang sedang nongkrong sampai dini hari, pulang kerja malam, melakukan perjalanan, atau sekadar mencari menu untuk sahur, tempat makan 24 jam bisa menjadi penyelamat. Berikut lima tempat makan rating tinggi di Bandung yang bisa kamu masukkan ke daftar kulineran malam. 1. Mang Loong, Rating 4,6 dan Pilihan Chinese Food Halal Alamat: Jl. Dr. Cipto No. 22, Pasir Kaliki, Cicendo, Kota Bandung Kalau sedang ingin makan berat, Mang Loong bisa menjadi salah satu pilihan. Tempat makan ini tercatat memiliki rating Google 4,6, sekaligus menjadi yang tertinggi dalam daftar tersebut. Menu yang tersedia cukup beragam, mulai dari Bubur Spesial Mang Loong, bebek panggang, kwetiau, hingga dimsum. Porsinya yang relatif besar juga membuat tempat ini cocok untuk makan bersama. Jadi, kalau datang beramai-ramai setelah nongkrong atau perjalanan malam, beberapa menu bisa dipesan untuk disantap sharing. Cocok untuk siapa? Mang Loong bisa dipertimbangkan jika kamu: Ingin makanan berat setelah aktivitas malam. Datang bersama teman atau keluarga. Suka menu Chinese food halal. Mencari tempat makan dengan pilihan menu yang cukup beragam. 2. FORK Braga, Nongkrong Malam di Kawasan Ikonik Bandung Alamat: Jl. Lembong No. 8, Braga, Sumur Bandung, Kota Bandung Ingin makan sekaligus menikmati suasana kawasan Braga? FORK Braga dapat menjadi pilihan. Tempat makan ini memiliki rating Google 4,5 dan berada di salah satu kawasan yang cukup dikenal wisatawan maupun warga Bandung. Menu yang ditawarkan lebih mengarah pada hidangan modern ala kafe dan western. Lokasinya yang strategis membuat tempat ini menarik untuk dijadikan titik kumpul ketika malam belum ingin berakhir. Buat Gen Z yang suka nongkrong sambil ngobrol panjang, tempat seperti ini punya nilai tambah karena aktivitas makan bisa sekaligus menjadi bagian dari agenda malam di pusat Kota Bandung. 3. Bubur Ayam Bejo Special Kosambi, Ringan tapi Tetap Mengenyangkan Alamat: Jl. A. Yani No. 221-223, Kebon Pisang, Kota Bandung Tidak semua rasa lapar tengah malam harus dibalas dengan makanan berat. Kalau ingin sesuatu yang lebih sederhana dan hangat, Bubur Ayam Bejo Special Kosambi bisa masuk daftar. Tempat ini memiliki rating Google 4,4. Menu utamanya berupa bubur ayam hangat dengan berbagai pilihan topping. Dalam artikel sumber, harga satu porsinya disebut berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000. Bubur juga cukup fleksibel untuk berbagai situasi. Bisa menjadi pilihan ketika baru pulang kerja, ingin mengisi perut sebelum tidur, ataupun membutuhkan menu sahur yang praktis. 4. Warkop H. Mahmud, Teman Begadang di Kawasan Dago Alamat: Jl. Ir. H. Juanda No. 343, Dago, Coblong, Kota Bandung Buat yang mencari tempat untuk duduk santai sambil menikmati makanan dan minuman, Warkop H. Mahmud layak dipertimbangkan. Rating Google tempat ini tercatat 4,3. Salah satu menu yang menjadi pilihan adalah Mie Bangladesh, ditemani teh tarik serta aneka camilan ringan. Konsep warung kopi membuat tempat ini terasa lebih cocok untuk agenda nongkrong malam. Tidak harus datang karena lapar berat; sekadar ingin menikmati makanan sambil ngobrol hingga larut pun bisa. Bagi mahasiswa, pekerja malam, atau kelompok pertemanan yang sering punya agenda setelah tengah malam, tempat makan 24 jam seperti ini cukup praktis. 5. Nasi Goreng Aep's, Porsi Jumbo Sejak 1994 Alamat: Jl. Dr. Setiabudi No. 143, Gegerkalong, Sukasari, Kota Bandung Kalau nasi goreng menjadi comfort food kamu, Nasi Goreng Aep's bisa menjadi pilihan saat perut mulai meminta asupan setelah tengah malam. Tempat makan ini memiliki rating Google 4,1 dan disebut telah berdiri sejak 1994. Salah satu karakter yang membuatnya dikenal adalah porsi makanan yang besar. Pilihan menunya tidak hanya nasi goreng biasa. Ada nasi goreng kerang, nasi goreng kambing pedas, bihun goreng, hingga capcay. Dengan pilihan tersebut, kamu bisa menyesuaikan menu berdasarkan selera. Mau nasi goreng dengan rasa lebih kuat, makanan berbahan mi, atau menu berkuah dan sayuran, tersedia beberapa opsi. Kenapa Tempat Makan 24 Jam Jadi Andalan? Keberadaan tempat makan yang buka sepanjang hari sebenarnya bukan hanya soal mengatasi rasa lapar. Bagi kota dengan aktivitas malam yang cukup dinamis, jam operasional panjang memberikan fleksibilitas bagi orang dengan rutinitas berbeda. Misalnya, pekerja dengan jadwal malam tidak perlu khawatir mencari makanan setelah jam makan normal. Wisatawan juga memiliki lebih banyak pilihan ketika tiba di Bandung pada malam hari. Beberapa situasi yang membuat tempat makan 24 jam cukup berguna antara lain: Lapar setelah nongkrong: Tidak perlu buru-buru pulang hanya karena tempat makan tutup. Pulang kerja malam: Makanan tetap bisa dicari setelah jam kerja selesai. Perjalanan dini hari: Bisa menjadi tempat singgah untuk mengisi tenaga. Sahur: Restoran atau warung 24 jam dapat menjadi alternatif ketika tidak sempat menyiapkan makanan. Kumpul bersama teman: Agenda ngobrol bisa dilanjutkan tanpa terlalu terpaku pada jam operasional. Jangan Cuma Lihat Rating, Cek Juga Kebutuhanmu Rating Google memang bisa menjadi salah satu pertimbangan awal ketika memilih tempat makan, tetapi bukan satu-satunya patokan. Selera setiap orang berbeda. Ada yang lebih mementingkan harga, ada yang mencari porsi besar, sementara yang lain justru mempertimbangkan suasana dan lokasi. Sebelum berangkat, ada baiknya kamu juga mengecek kembali jam operasional dan kondisi tempat makan melalui kanal resmi atau profil bisnis terbaru. Jam buka, menu, harga, dan ketersediaan makanan dapat berubah sewaktu-waktu. Saat Lapar Tengah Malam Menyerang, Bandung Punya Banyak Pilihan Lapar tengah malam tidak selalu berarti harus berakhir dengan makanan instan. Di Bandung, ada sejumlah tempat yang tetap buka 24 jam dengan karakter menu berbeda-beda. Mang Loong menawarkan pilihan Chinese food halal dengan porsi besar. FORK Braga cocok untuk yang ingin makan di kawasan strategis. Bubur Ayam Bejo dapat menjadi pilihan yang lebih ringan, sedangkan Warkop H. Mahmud cocok untuk agenda nongkrong malam. Sementara itu, Nasi Goreng Aep's bisa dipilih pencinta makanan dengan porsi jumbo. Jadi, ketika jam sudah menunjukkan tengah malam dan perut mulai berbunyi, tidak perlu panik. Tinggal sesuaikan pilihan dengan menu, lokasi, suasana, dan budget yang kamu punya.

Rekomendasi Daily • 10 Sep 2026

5 Serabi Legendaris di Bandung yang Wajib Masuk Wishlist Kuliner Gen Z

Bandung memang tidak pernah kehabisan pilihan kuliner. Di tengah menjamurnya coffee shop, dessert kekinian, dan tempat makan yang Instagramable, jajanan tradisional seperti serabi atau surabi justru masih punya penggemarnya sendiri. Menariknya, sejumlah penjual serabi legendaris di Bandung mampu bertahan selama puluhan tahun. Resep dan cara memasak tradisional tetap dipertahankan, sementara pilihan topping terus mengikuti selera pelanggan. Serabi sendiri dikenal sebagai jajanan berbahan dasar tepung beras. Di Bandung, makanan ini bisa ditemukan dalam versi manis maupun gurih, dengan karakter rasa yang berbeda di setiap tempat. Kalau kamu sedang menyusun itinerary kuliner Bandung, lima tempat berikut bisa menjadi opsi untuk masuk wishlist. 1. Serabi Mirasa, Ada Sejak 1986 Alamat: Jl. Karang Anyar No.60, Karanganyar, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung. Nama Serabi Mirasa sudah menemani pencinta jajanan tradisional Bandung sejak 1986. Salah satu daya tariknya justru terletak pada proses memasak yang masih menggunakan tungku berbahan bakar kayu atau arang. Cara memasak tersebut membuat pengalaman menikmati serabi terasa berbeda. Aroma khas dari proses pemanggangan menjadi salah satu karakter yang melekat pada kuliner ini. Salah satu menu yang menjadi ciri Serabi Mirasa adalah serabi pandan yang disajikan bersama kuah kinca. Perpaduan rasa gurih dari serabi dan manisnya kinca membuat menu klasik ini tetap menarik dicoba. 2. Surabi Cihapit, Eksis Sejak 1993 Alamat: Jl. Sabang No.65, Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung. Kalau kamu mencari surabi dengan pilihan rasa yang lebih beragam, Surabi Cihapit bisa menjadi salah satu tujuan. Tempat ini telah berjualan sejak 1993 dan sampai sekarang masih dikenal sebagai salah satu nama lama dalam peta kuliner Bandung. Menu tradisional seperti kinca dan oncom tersedia berdampingan dengan pilihan topping yang lebih modern. Ada cokelat, keju, telur, dan berbagai pilihan lainnya. Tekstur surabinya juga menjadi salah satu daya tarik karena dikenal lembut dengan ukuran yang cukup besar. 3. Serabi Kinca Suji, Punya Warna Hijau Alami Alamat: Jl. Lodaya No.31, Malabar, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. Serabi tidak selalu identik dengan warna putih atau kecokelatan. Di Serabi Kinca Suji, tampilannya justru menjadi salah satu hal yang mudah dikenali. Sudah hadir sejak 2001, serabi ini menggunakan daun suji untuk memberikan warna hijau alami pada adonannya. Penyajiannya kemudian dilengkapi kinca yang memiliki rasa manis dan tekstur kental. Buat yang ingin mengeksplorasi rasa, pilihan menunya tidak berhenti pada kinca original. Tersedia pula varian durian, rum, hingga serabi dengan topping oncom. Dengan karakter tersebut, tempat ini cocok dimasukkan ke daftar kulineran bagi kamu yang ingin mencoba versi serabi yang sedikit berbeda dari sajian klasik. 4. Surabi Waroeng Setiabudhi, Masih Mengandalkan Tungku Arang Alamat: Jl. Dr. Setiabudhi No.175, Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung. Pengalaman makan surabi tidak hanya ditentukan oleh topping. Cara memasaknya pun dapat menjadi bagian dari daya tarik. Hal itu yang masih dipertahankan Surabi Waroeng Setiabudhi. Tempat yang telah berdiri sejak 2009 ini menggunakan tungku arang dan wadah tanah liat dalam proses memasaknya. Pilihan menunya juga cukup luas. Pengunjung dapat memilih surabi dengan cita rasa manis maupun gurih, kemudian menyesuaikannya dengan berbagai topping yang tersedia. Buat pencinta kuliner tradisional, metode memasak seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan jajanan yang dibuat menggunakan peralatan modern. 5. Serabi Enhaii, Pilihan Buat Pemburu Kuliner Tengah Malam Alamat: Jl. Dr. Setiabudhi No.175, Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung. Buat yang sering lapar tengah malam, Serabi Enhaii punya keunggulan yang cukup menarik: tempat ini disebut buka selama 24 jam. Serabi Enhaii telah hadir sejak 1999. Berdasarkan informasi yang dicantumkan dalam artikel sumber, pilihan menunya mencapai sekitar 34 varian gurih dan 34 varian manis. Artinya, pengunjung punya banyak pilihan untuk menentukan serabi sesuai selera, baik yang lebih suka rasa manis maupun penyuka topping gurih. Jam operasional seperti ini juga membuat serabi tidak hanya menjadi pilihan untuk sarapan atau camilan sore. Jajanan tradisional tersebut bisa menjadi alternatif kuliner ketika keinginan ngemil datang di luar jam makan biasa. Kenapa Serabi Lawas Masih Menarik Buat Gen Z? Kuliner tradisional tidak selalu harus tampil dengan konsep kuno agar bisa tetap diminati. Justru perpaduan antara resep lama dan variasi topping baru membuat serabi masih relevan untuk generasi sekarang. Ada beberapa alasan kenapa kuliner seperti serabi layak masuk daftar eksplorasi: Punya cerita panjang: beberapa penjual telah bertahan sejak puluhan tahun lalu. Pilihan rasa makin variatif: selain kinca dan oncom, tersedia pula topping seperti cokelat, keju, durian, hingga telur. Proses memasak menjadi pengalaman: penggunaan tungku arang dan wadah tanah liat memberi karakter tersendiri. Cocok untuk kulineran santai: serabi bisa dinikmati sebagai camilan tanpa harus menghabiskan banyak waktu. Bisa jadi bagian dari wisata kuliner: satu makanan bisa menjadi alasan untuk menjelajahi kawasan Bandung yang berbeda. Keberadaan tempat-tempat tersebut menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak harus bersaing dengan makanan kekinian menggunakan cara yang sama. Konsistensi rasa, metode memasak, dan kemampuan beradaptasi justru bisa menjadi alasan sebuah jajanan bertahan lintas generasi. Mau Kulineran di Bandung? Jangan Cuma Cari yang Viral Berburu makanan yang sedang viral memang menyenangkan, tetapi sesekali mencoba kuliner yang sudah bertahan puluhan tahun juga bisa memberikan pengalaman berbeda. Lima serabi legendaris di Bandung di atas menawarkan karakter masing-masing. Ada yang mengandalkan aroma tungku arang, ada yang dikenal dengan warna hijau dari daun suji, ada pula yang menawarkan puluhan pilihan topping hingga bisa dinikmati kapan saja. Jadi, kalau agenda berikutnya adalah kulineran di Bandung, jangan hanya memasukkan tempat yang baru buka ke dalam wishlist. Serabi yang telah melewati perjalanan panjang juga layak diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari itinerary kuliner kamu.

Rekomendasi Daily • 10 Sep 2026

Situ Cipanten Majalengka Makin Hits, Dulu Sumber Pengairan Kini Jadi Spot Liburan Seru

Kalau biasanya sebuah danau dikenal karena pemandangannya, Situ Cipanten di Majalengka punya cerita yang lebih panjang. Sebelum ramai didatangi wisatawan, kawasan ini terlebih dahulu dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan pengairan pertanian masyarakat. Situ Cipanten berada di Desa Gunung Kuning, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka. Kini, kawasan tersebut telah berkembang menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan suasana hijau, air danau yang jernih, hingga berbagai wahana rekreasi. Pemerintah Kabupaten Majalengka juga memasukkan Situ Cipanten dalam daftar destinasi unggul daerah. Perubahannya tidak terjadi dalam semalam. Ada proses panjang yang melibatkan pemerintah desa dan masyarakat setempat hingga kawasan yang dahulu relatif sepi tersebut mulai dikenal sebagai tempat wisata. Dari Kawasan Pengairan hingga Jadi Destinasi Wisata Situ Cipanten mulai dibangun sekitar era 1970-an dengan fungsi utama sebagai sumber pengairan untuk mendukung kebutuhan pertanian di wilayah sekitar. Selama bertahun-tahun, fungsi tersebut menjadi prioritas. Kawasan danau belum dikelola sebagai destinasi wisata sehingga suasananya relatif sepi. Pada periode 1980-an hingga awal 2000-an, minimnya perawatan membuat area sekitar danau dipenuhi pepohonan lebat. Kondisi tersebut bahkan sempat membuat Situ Cipanten dianggap cukup menyeramkan oleh sebagian masyarakat setempat. Namun, kesan tersebut perlahan berubah setelah kawasan mulai ditata kembali. 2016 Jadi Titik Balik Situ Cipanten Upaya pembenahan mulai dilakukan pada 2016. Pemerintah desa bersama masyarakat, terutama kalangan pemuda, bergotong royong membersihkan sekaligus menata kawasan Situ Cipanten. Perbaikan tidak hanya dilakukan di sekitar danau. Akses menuju lokasi juga ikut dibenahi agar kawasan tersebut lebih siap menerima pengunjung. Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam perubahan Situ Cipanten. Menurut pengelola yang dikutip Kabar Cirebon, semangat gotong royong tetap menjadi bagian dari pengelolaan, termasuk untuk menjaga kebersihan lingkungan. Setelah melalui proses penataan, Situ Cipanten mulai dibuka sebagai objek wisata pada 2017. Sejumlah fasilitas dan wahana kemudian ditambahkan untuk membuat pengalaman pengunjung semakin beragam. Airnya Bisa Berubah Warna, Ini yang Bikin Penasaran Salah satu daya tarik yang membuat Situ Cipanten berbeda adalah karakter warna airnya. Dalam kondisi tertentu, warna air danau dapat terlihat berbeda mengikuti perubahan musim. Saat musim hujan, air dapat tampak lebih bening atau kebiruan, sedangkan pada musim kemarau warnanya dapat berubah menjadi kehijauan. Fenomena tersebut dilaporkan berkaitan dengan kondisi sumber mata air yang memasok danau serta perubahan kondisi lingkungan selama pergantian musim. Karena itu, tampilan Situ Cipanten bisa memberikan pengalaman visual yang berbeda pada waktu kunjungan yang berbeda pula. Bagi pencinta fotografi, perubahan karakter air ini tentu menjadi salah satu alasan menarik untuk datang kembali. Bukan Cuma Duduk Menikmati Pemandangan Situ Cipanten tidak hanya menawarkan pemandangan danau. Setelah dikembangkan menjadi kawasan wisata, sejumlah wahana dan aktivitas juga tersedia untuk pengunjung. Beberapa di antaranya meliputi: Sepeda gantung. Perahu bebek. Ayunan. Area berenang. Aktivitas memberi makan ikan. Area bersantai di sekitar danau. Ketersediaan berbagai aktivitas tersebut membuat Situ Cipanten dapat dinikmati dengan gaya yang berbeda. Pengunjung yang ingin santai bisa menikmati suasana sekitar danau, sedangkan mereka yang mencari aktivitas lebih seru dapat mencoba wahana yang tersedia. Sepeda Gantung Jadi Salah Satu Wahana Favorit Dari berbagai fasilitas yang tersedia, sepeda gantung menjadi salah satu wahana yang paling mencuri perhatian. Pengunjung dapat melintasi area danau dari ketinggian sambil melihat hamparan air dan pepohonan di sekitarnya. Selain menawarkan pengalaman berbeda, wahana tersebut juga menjadi salah satu spot yang banyak dimanfaatkan untuk mengambil foto. Namun, seperti halnya wahana wisata lain, keselamatan tetap harus menjadi prioritas. Ikuti aturan pengelola, gunakan perlengkapan keselamatan yang tersedia, dan jangan memaksakan diri jika merasa tidak nyaman berada di ketinggian. Suasana Alam Jadi Nilai Jual Utama Daya tarik Situ Cipanten bukan hanya berasal dari wahana buatan. Pepohonan yang mengelilingi kawasan danau memberikan nuansa hijau yang membuat suasananya berbeda dari destinasi rekreasi yang didominasi bangunan. Kombinasi antara permukaan air, pepohonan, dan udara kawasan yang relatif sejuk menjadikan Situ Cipanten cocok bagi wisatawan yang ingin mencari suasana santai. Pengunjung pun dapat memilih untuk tidak mencoba seluruh wahana. Duduk di tepi danau, menikmati pemandangan, mengambil foto, atau menghabiskan waktu bersama keluarga juga bisa menjadi bagian dari pengalaman wisata. Kenapa Situ Cipanten Menarik untuk Liburan Singkat? Bagi wisatawan yang tidak memiliki banyak waktu, destinasi seperti Situ Cipanten menawarkan format liburan yang cukup fleksibel. Satu kunjungan bisa diisi dengan berbagai aktivitas tanpa harus membuat agenda terlalu padat. Misalnya, pagi atau siang digunakan untuk menikmati suasana dan mencoba wahana, kemudian waktu berikutnya dimanfaatkan untuk bersantai di sekitar danau. Untuk anak-anak, keberadaan wahana dan aktivitas air dapat membuat kunjungan terasa lebih menarik. Sementara bagi orang dewasa, lanskap alamnya dapat menjadi alasan untuk sekadar beristirahat dari rutinitas. Ide aktivitas saat berkunjung Kalau ingin kunjungan terasa lebih maksimal, beberapa aktivitas berikut bisa dicoba: Berkeliling dan menikmati pemandangan danau. Mencoba sepeda gantung jika memenuhi ketentuan keselamatan. Menikmati wahana perahu bebek. Mengabadikan perubahan warna air dan lanskap sekitar. Menghabiskan waktu bersama keluarga di area yang tersedia. Menikmati suasana tanpa harus mengejar semua wahana. Dengan begitu, liburan tidak harus selalu dipenuhi aktivitas. Menikmati suasana dengan ritme yang santai juga bisa menjadi tujuan. Pengembangan Wisata Tetap Harus Berjalan Bersama Konservasi Semakin populer sebuah destinasi, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga lingkungan. Hal tersebut juga menjadi perhatian dalam pengembangan Situ Cipanten. Pengelola berencana menambah fasilitas pendukung dan memperluas area bersantai, tetapi perawatan kawasan hijau di sekitar danau juga tetap dilakukan. Upaya menjaga lingkungan menjadi penting karena karakter alam justru merupakan bagian dari daya tarik Situ Cipanten. Jika kawasan sekitar danau rusak atau tidak terawat, pengalaman wisata yang menjadi alasan orang datang juga bisa ikut berubah. Karena itu, wisatawan juga mempunyai peran sederhana dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Saat berkunjung, biasakan: Tidak membuang sampah sembarangan. Tidak merusak tanaman atau fasilitas. Mengikuti aturan di sekitar wahana. Tidak memberi makan ikan sembarangan jika tidak diizinkan. Menjaga volume suara agar tidak mengganggu pengunjung lain. Menghormati lingkungan dan masyarakat sekitar. Hal-hal kecil tersebut terlihat sederhana, tetapi menjadi bagian penting dari keberlanjutan destinasi wisata alam. Situ Cipanten Bukan Sekadar Danau Wisata Perjalanan Situ Cipanten dari kawasan yang awalnya dibangun untuk mendukung pengairan pertanian hingga menjadi destinasi wisata menunjukkan bagaimana sebuah ruang yang sudah lama dimanfaatkan masyarakat dapat memiliki fungsi tambahan. Perubahan tersebut tidak hanya terjadi karena pembangunan fasilitas. Keterlibatan masyarakat dalam membersihkan, menata, dan merawat kawasan turut menjadi bagian dari prosesnya. Kini, wisatawan datang bukan hanya untuk melihat danau, tetapi juga menikmati berbagai wahana dan suasana alam yang ditawarkan. Keunikan perubahan warna air pun memberikan identitas tersendiri bagi Situ Cipanten. Saat musim berganti, wajah danau dapat memberikan pengalaman visual yang berbeda. Kalau Lagi Cari Wisata Alam di Majalengka, Bisa Masuk List Situ Cipanten menawarkan kombinasi yang cukup lengkap: cerita sejarah, lanskap alam, aktivitas rekreasi, serta keterlibatan masyarakat dalam pengembangannya. Destinasi ini juga menunjukkan bahwa wisata alam tidak selalu harus dibangun dari nol. Kawasan yang sebelumnya memiliki fungsi penting bagi masyarakat dapat dikembangkan menjadi ruang rekreasi tanpa meninggalkan fungsi lingkungan dan nilai sosialnya. Jadi, kalau sedang mencari destinasi untuk wisata Majalengka, Situ Cipanten layak masuk dalam daftar. Bukan cuma karena airnya yang bisa berubah warna atau wahana yang tersedia, tetapi juga karena ada cerita panjang di balik perubahan kawasan ini. Dari tempat yang dulu identik dengan kawasan sepi dan sumber pengairan, Situ Cipanten kini telah berubah menjadi ruang wisata yang lebih hidup. Tantangannya ke depan adalah memastikan perkembangan tersebut tetap berjalan beriringan dengan kelestarian alam dan keterlibatan masyarakat setempat.

Rekomendasi Daily • 09 Sep 2026

Abu Vulkanik Bisa Ganggu Kulit? Ini Cara Melindungi Diri Biar Nggak Salah Langkah

Ketika abu vulkanik mulai menyebar setelah erupsi gunung api, masker biasanya menjadi perlengkapan pertama yang langsung dicari. Padahal, perlindungan diri tidak berhenti pada saluran pernapasan. Partikel abu juga dapat menempel pada kulit, rambut, pakaian, dan mata. Jika paparan berlangsung cukup lama, kulit dapat mengalami iritasi, terutama ketika abu bergesekan dengan permukaan kulit atau dibiarkan menempel terlalu lama. Karena itu, ketika wilayah tempat tinggal terdampak hujan abu, perlindungan tubuh perlu dilakukan secara menyeluruh. Mengurangi bagian kulit yang terbuka, menggunakan pelindung mata, dan membatasi aktivitas di luar ruangan merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan. Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan pakaian tertutup dan tidak menggosok kulit yang sudah terkena abu vulkanik. Kenapa Abu Vulkanik Perlu Diwaspadai Kulit? Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material yang dilepaskan saat aktivitas vulkanik dapat mengandung partikel yang mengiritasi tubuh, sementara paparan juga dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan. CDC menyarankan masyarakat menghindari kontak dengan abu sebisa mungkin dan menutup kulit untuk mengurangi risiko iritasi. Orang yang harus berada di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang serta pelindung mata. Masalahnya, risiko tidak hanya muncul ketika abu sedang turun. Partikel yang sudah mengendap di jalan, halaman, atap, kendaraan, maupun benda lain dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau saat proses pembersihan dilakukan. Artinya, kehati-hatian tetap diperlukan bahkan setelah hujan abu berhenti. 1. Tutup Kulit Sebelum Keluar Rumah Cara paling sederhana untuk mengurangi kontak langsung dengan abu adalah mengurangi area tubuh yang terbuka. Saat harus keluar rumah, gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar permukaan kulit. Pilihan praktisnya antara lain: Baju lengan panjang. Celana panjang. Sepatu tertutup. Sarung tangan ketika membersihkan abu. Topi atau penutup kepala. Pelindung mata atau goggles. Dokter kulit yang dikutip Pikiran Rakyat juga merekomendasikan pakaian lengan panjang, celana panjang, sepatu tertutup, topi, dan sarung tangan untuk mengurangi paparan abu pada kulit. CDC memberikan anjuran serupa, termasuk menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang ketika seseorang harus berada di luar saat terdapat abu vulkanik. Jadi, sebelum keluar rumah, jangan hanya mengecek apakah sudah memakai masker. Pastikan kulit juga mendapatkan perlindungan. 2. Jangan Menggosok Kulit yang Sudah Dipenuhi Abu Ini salah satu kesalahan yang perlu dihindari. Ketika melihat tangan atau wajah tertutup abu, refleks pertama mungkin adalah mengusapnya menggunakan tangan, tisu, atau kain. Padahal, tindakan tersebut dapat membuat partikel abu bergesekan dengan permukaan kulit. Dokter Arini mengingatkan agar kulit yang terkena abu tidak langsung digosok. Jika paparan cukup banyak, kulit sebaiknya dibersihkan secara lembut terlebih dahulu. Apa yang Sebaiknya Dilakukan? Jika kulit terkena abu: Hindari menggosok area tersebut. Bersihkan dengan cara yang lembut. Gunakan air untuk membantu mengangkat partikel. Setelah bersih, keringkan kulit dengan lembut. Perhatikan apakah muncul iritasi atau keluhan lain. Prinsipnya sederhana: angkat abu dari kulit, bukan menggosokkannya semakin kuat. 3. Jangan Lupa Lindungi Mata Kulit bukan satu-satunya bagian tubuh yang bisa terkena paparan. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata. Karena itu, penggunaan pelindung mata menjadi penting terutama ketika seseorang harus berada di luar ruangan atau melakukan pembersihan setelah hujan abu. CDC merekomendasikan goggles untuk membantu melindungi mata dari abu vulkanik. Kacamata biasa belum tentu memberikan perlindungan yang sama dengan goggles yang dirancang untuk menutup area mata dengan lebih baik. Jika kondisi abu cukup pekat, sebaiknya kurangi aktivitas luar ruangan daripada mengandalkan perlengkapan perlindungan saja. 4. Masker Tetap Penting, Tapi Pilih Perlindungan yang Tepat Walaupun artikel ini berfokus pada kulit, perlindungan pernapasan tetap tidak boleh diabaikan. Abu vulkanik dapat mengganggu sistem pernapasan. CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH ketika harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu yang masuk ke dalam rumah. Respirator tersebut perlu terpasang rapat agar dapat memberikan perlindungan sebagaimana mestinya. Jika kamu memiliki kondisi pernapasan seperti asma, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena paparan abu dan gas vulkanik dapat memperburuk gejala. Jadi, perlindungan ideal saat abu vulkanik menyebar sebenarnya merupakan kombinasi antara perlindungan kulit, mata, dan saluran pernapasan. 5. Bagaimana dengan Sunscreen Saat Ada Abu Vulkanik? Pertanyaan ini cukup penting, terutama bagi orang yang sudah menjadikan sunscreen sebagai bagian dari rutinitas harian. Jawabannya: sunscreen tetap diperlukan ketika kulit berpotensi terpapar sinar ultraviolet. Kehadiran awan atau abu di atmosfer tidak berarti paparan UV otomatis hilang. Dokter Arini juga menegaskan bahwa sunscreen tetap diperlukan dalam kondisi tersebut. Namun, ada satu hal yang lebih penting: jangan mengoleskan ulang sunscreen di atas kulit yang masih dipenuhi abu. Jika kulit sudah terkena banyak abu, bersihkan terlebih dahulu secara lembut, keringkan, kemudian aplikasikan kembali sunscreen. Dengan kata lain, urutannya bukan: abu menempel → langsung tambah sunscreen. Tetapi: bersihkan kulit → keringkan → aplikasikan sunscreen kembali. Hal ini membantu mencegah partikel abu terus bergesekan dengan permukaan kulit ketika produk diratakan. 6. Saat Hujan Abu Deras, Lebih Baik Kurangi Aktivitas di Luar Tidak semua kondisi dapat diatasi dengan menambah perlengkapan perlindungan. Ketika hujan abu cukup berat, pilihan paling aman adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam rumah jika kondisi memungkinkan. Anjuran tersebut juga disampaikan dokter kulit yang dikutip Pikiran Rakyat. CDC juga menyarankan masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup ketika abu vulkanik berada di udara. Jadi, perlengkapan pelindung bukan alasan untuk tetap beraktivitas di luar jika sebenarnya tidak diperlukan. 7. Hati-Hati Saat Membersihkan Abu di Rumah Risiko paparan dapat meningkat ketika proses pembersihan dilakukan tanpa persiapan. Abu yang sudah mengendap bisa kembali beterbangan ketika disapu atau terganggu. Karena itu, kegiatan membersihkan lingkungan setelah hujan abu sebaiknya dilakukan dengan perlindungan yang sesuai. CDC menyarankan penggunaan respirator N95 ketika membersihkan abu, selain perlindungan kulit dan mata. Sebelum membersihkan area rumah, perhatikan pula kondisi lingkungan. Jika abu masih turun dengan intensitas tinggi atau ada peringatan dari otoritas, jangan memaksakan diri untuk melakukan pembersihan. Kelompok yang Perlu Lebih Waspada Tidak semua orang memiliki respons tubuh yang sama terhadap paparan abu vulkanik. CDC menyebut anak-anak, orang dengan asma, serta mereka yang memiliki kondisi pernapasan atau jantung kronis termasuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu dan gas vulkanik. Untuk kulit, perhatian ekstra juga diperlukan pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki eksim atau kulit sangat sensitif. Dokter Arini menyarankan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila keluhan kulit tergolong berat atau tidak membaik setelah kulit dibersihkan. Checklist Perlindungan Saat Abu Vulkanik Menyebar Agar tidak ada yang terlewat, gunakan checklist sederhana sebelum keluar rumah: Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang. Pilih sepatu tertutup. Gunakan sarung tangan ketika perlu membersihkan abu. Lindungi mata dengan goggles. Gunakan respirator yang sesuai, terutama N95 ketika harus berada di luar atau membersihkan abu. Kurangi aktivitas luar ruangan saat hujan abu berat. Jangan menggosok kulit yang sudah terkena abu. Bersihkan kulit secara lembut sebelum mengoleskan kembali sunscreen. Tutup pintu dan jendela ketika abu sedang menyebar. Ikuti informasi serta instruksi dari otoritas setempat. CDC menekankan bahwa masyarakat perlu mengikuti arahan otoritas setempat selama erupsi maupun setelahnya karena kondisi abu dan kualitas udara dapat berubah. Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis? Paparan ringan mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman pada kulit. Namun, jangan mengabaikan keluhan yang berat atau menetap. Jika setelah paparan abu muncul iritasi kulit yang tidak membaik setelah dibersihkan, sebaiknya pertimbangkan pemeriksaan medis. Hal serupa berlaku ketika muncul gangguan pernapasan atau gejala lain yang menetap setelah menjauh dari area abu. CDC menyarankan orang yang mengalami gejala setelah paparan untuk segera menjauh dari sumber paparan. Jika keluhan tetap berlanjut, hubungi tenaga kesehatan. Lindungi Kulit, Bukan Sekadar Pakai Masker Abu vulkanik memang sering dikaitkan dengan risiko gangguan pernapasan, tetapi perlindungan tubuh seharusnya dilakukan secara lebih menyeluruh. Menutup kulit dengan pakaian yang sesuai, melindungi mata, menggunakan respirator yang tepat, mengurangi aktivitas di luar saat hujan abu berat, serta membersihkan abu dari kulit secara lembut merupakan langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar menambah produk skincare. Sunscreen pun tetap dapat digunakan ketika diperlukan, tetapi kulit harus dibersihkan terlebih dahulu jika sudah dipenuhi abu. Jangan sampai niat melindungi kulit justru membuat partikel abu terus bergesekan karena produk langsung dioleskan di atas permukaan yang kotor. Pada kondisi erupsi, prinsip paling sederhana adalah kurangi paparan sebanyak mungkin dan ikuti arahan otoritas setempat. Perlindungan yang tepat bukan soal terlihat paling siap menghadapi abu, melainkan memastikan tubuh mendapatkan paparan sesedikit mungkin.

Rekomendasi Daily • 08 Sep 2026

5 Kesalahan Pakai Sunscreen yang Sering Dilakukan, Jangan Sampai Skincare Jadi Sia-Sia

Sudah rajin memakai sunscreen setiap pagi, tetapi kulit masih mudah kusam, belang, atau muncul flek hitam? Jangan langsung menyimpulkan bahwa produk yang digunakan tidak cocok. Bisa jadi, masalahnya justru ada pada cara pemakaian. Sunscreen memang menjadi salah satu bagian penting dalam rutinitas perawatan kulit. Produk ini membantu melindungi kulit dari paparan sinar ultraviolet atau UV yang dapat menyebabkan sunburn, penuaan dini, perubahan warna kulit, hingga meningkatkan risiko kanker kulit. Karena itu, pemakaian sunscreen yang benar sama pentingnya dengan memilih produk yang sesuai. Masalahnya, masih banyak kebiasaan kecil yang membuat perlindungan sunscreen tidak bekerja secara optimal. Mulai dari baru menggunakannya setelah keluar rumah sampai lupa mengoleskan pada area tubuh yang sering terpapar matahari. Kalau kamu merasa sudah rajin memakai sunscreen tetapi hasilnya belum maksimal, coba cek lima kesalahan berikut. 1. Baru Pakai Sunscreen Saat Sudah Keluar Rumah Pernah buru-buru memakai sunscreen ketika sudah berada di luar rumah karena baru sadar belum menggunakannya? Kebiasaan ini sebaiknya diubah. American Academy of Dermatology (AAD) merekomendasikan sunscreen diaplikasikan sekitar 15 menit sebelum keluar rumah. Dengan begitu, kulit sudah mendapatkan perlindungan ketika mulai terpapar sinar matahari. Jadi, jangan jadikan sunscreen sebagai produk yang baru dipakai ketika matahari sudah terasa menyengat. Lebih praktis jika sunscreen dijadikan tahap tetap dalam rutinitas pagi. Setelah skincare selesai dan sebelum mulai beraktivitas di luar ruangan, aplikasikan sunscreen secara merata pada kulit yang tidak tertutup pakaian. Jangan Terjebak Anggapan “Nanti Juga Bisa Dipakai di Luar” Mengaplikasikan sunscreen setelah terpapar matahari bukan berarti perlindungan sebelumnya bisa digantikan begitu saja. Kalau kamu harus keluar rumah pukul 08.00, misalnya, jangan baru mengoleskan sunscreen ketika sudah sampai di tempat tujuan. Masukkan penggunaannya ke dalam rutinitas persiapan sebelum berangkat. 2. Pakainya Terlalu Tipis karena Takut Lengket Ini salah satu dilema yang cukup familiar, terutama bagi pemilik kulit berminyak. Sunscreen dipakai sedikit supaya wajah tidak terasa berat, tidak mengilap, atau tidak meninggalkan rasa lengket. Masalahnya, jumlah produk yang terlalu sedikit dapat membuat tingkat perlindungan yang diperoleh jauh dari yang diuji pada label produk. AAD menyebut banyak orang hanya menggunakan sekitar 20–50 persen dari jumlah sunscreen yang sebenarnya dibutuhkan. Untuk perlindungan tubuh secara keseluruhan pada area yang tidak tertutup pakaian, panduan AAD menggunakan sekitar 1 ounce atau kurang lebih satu takaran shot glass. Untuk wajah, salah satu panduan praktis yang umum digunakan adalah metode dua jari. Namun, cara tersebut sebaiknya dipahami sebagai panduan praktis, bukan ukuran universal untuk semua produk karena tekstur dan kemasan sunscreen dapat berbeda. Yang terpenting, jangan sengaja mengurangi jumlah hanya karena ingin hasil akhir yang lebih ringan. Kalau Tidak Suka Teksturnya, Ganti Formulanya Daripada menggunakan sunscreen terlalu sedikit, solusi yang lebih masuk akal adalah mencari formula yang sesuai dengan kebutuhan kulit. Misalnya: Kulit berminyak dapat mempertimbangkan formula yang terasa ringan. Kulit kering dapat memilih tekstur yang lebih melembapkan. Kulit sensitif sebaiknya memperhatikan kandungan yang berpotensi mengiritasi. Untuk aktivitas luar ruangan, pertimbangkan sunscreen broad-spectrum dan water-resistant dengan SPF 30 atau lebih. Dengan begitu, kamu tidak perlu mengorbankan jumlah pemakaian hanya demi mendapatkan sensasi nyaman. 3. Merasa Sekali Pakai Sudah Cukup Seharian Sunscreen bukan produk yang cukup diaplikasikan sekali pada pagi hari lalu dilupakan sampai malam. Ketika seseorang berada di luar ruangan, perlindungan sunscreen dapat berkurang karena waktu, keringat, air, atau aktivitas yang membuat produk terhapus dari permukaan kulit. AAD merekomendasikan pengaplikasian ulang sekitar setiap dua jam ketika berada di luar ruangan, serta segera setelah berenang atau berkeringat banyak. Artinya, kebutuhan reapply sebenarnya bergantung pada aktivitas. Kalau seharian berada di dalam ruangan dan jauh dari paparan matahari langsung, situasinya berbeda dengan seseorang yang bekerja di luar, olahraga, berenang, atau melakukan perjalanan di bawah sinar matahari. Bagaimana Kalau Sedang Makeup? Reapply sunscreen memang menjadi lebih rumit ketika wajah sudah menggunakan makeup. Namun, solusi bukan berarti melewatkannya sama sekali. Produk sunscreen dengan format tertentu dapat memudahkan pengaplikasian ulang, tetapi tetap perhatikan petunjuk pemakaian produk. Jika kamu menggunakan sunscreen spray, misalnya, AAD mengingatkan agar produk semprot tidak diarahkan ke wajah atau area mulut dan tidak digunakan dengan cara yang berisiko terhirup. Untuk perlindungan yang lebih konsisten, jangan hanya mengandalkan trik praktis. Pilih metode reapply yang benar-benar memungkinkan kamu mendapatkan jumlah produk yang memadai. 4. Wajah Dapat Sunscreen, Tapi Leher dan Telinga Lupa Rutinitas skincare sering berhenti di wajah. Padahal, bagian kulit lain yang tidak tertutup pakaian juga bisa terpapar sinar UV. Leher, telinga, punggung tangan, kaki, bagian atas telapak kaki, hingga area kulit kepala yang menipis dapat menjadi bagian yang terlewat saat sunscreen diaplikasikan. AAD secara khusus mengingatkan agar sunscreen digunakan pada seluruh kulit yang tidak tertutup pakaian. Kebiasaan melewatkan area tertentu mungkin tidak terasa efeknya dalam sehari. Namun, paparan UV terjadi berulang kali sehingga perlindungan seharusnya tidak hanya berfokus pada bagian wajah yang paling terlihat. Untuk bibir, kamu juga bisa menggunakan lip balm yang mengandung SPF 30 atau lebih. Coba Gunakan “Checklist Tubuh” Sebelum keluar rumah, cek area yang kemungkinan terkena matahari: Wajah. Leher. Telinga. Punggung tangan. Lengan. Kaki atau bagian lain yang tidak tertutup pakaian. Bibir dengan produk yang memiliki SPF. Cara sederhana ini bisa membantu mengurangi kemungkinan ada bagian yang terlewat. 5. Menganggap Hari Mendung Berarti Bebas UV Langit mendung sering membuat orang berpikir bahwa sunscreen tidak lagi diperlukan. Padahal, awan tidak otomatis menghilangkan paparan UV. AAD menyebut hingga sekitar 80 persen sinar UV matahari yang berbahaya dapat menembus awan. Karena itu, rutinitas perlindungan matahari tetap relevan ketika kamu beraktivitas di luar ruangan meskipun langit terlihat abu-abu. Bahkan, UVA dapat menembus kaca jendela. Sinar UVA berkontribusi terhadap penuaan kulit dan perubahan warna, sedangkan UVB merupakan penyebab utama sunburn. Jadi, cuaca mendung bukan alasan otomatis untuk menghapus sunscreen dari rutinitas pagi. Bukan Cuma Sunscreen, Perlindungan Kulit Perlu Kombinasi Sunscreen memang penting, tetapi perlindungan terhadap sinar matahari tidak seharusnya hanya mengandalkan satu produk. AAD merekomendasikan kombinasi beberapa langkah, termasuk mencari tempat teduh dan menggunakan pakaian pelindung, topi bertepi lebar, serta kacamata hitam dengan perlindungan UV ketika memungkinkan. Pendekatan ini menjadi semakin penting ketika kamu berada di luar ruangan dalam waktu lama. Jadi, rutinitas yang lebih lengkap bukan hanya “pakai sunscreen lalu selesai”, tetapi juga mempertimbangkan kapan dan berapa lama kamu berada di bawah matahari. Cara Simpel Biar Sunscreen Tidak Lagi Asal Pakai Kalau ingin membuat rutinitas lebih mudah diingat, gunakan pola sederhana berikut: Pilih sunscreen broad-spectrum dengan SPF 30 atau lebih. Aplikasikan sebelum keluar rumah, bukan setelah terlanjur terpapar matahari. Gunakan dalam jumlah yang cukup, jangan terlalu tipis. Pastikan area kulit yang terbuka ikut terlindungi. Reapply sekitar setiap dua jam saat berada di luar ruangan. Ulangi lebih cepat setelah berenang atau berkeringat banyak. Tetap gunakan perlindungan saat cuaca mendung. Lengkapi dengan pakaian pelindung dan tempat teduh ketika memungkinkan. Satu hal yang juga sering dilupakan adalah memeriksa label produk. Sunscreen memiliki karakteristik berbeda-beda, termasuk tingkat SPF, broad-spectrum protection, dan ketahanan terhadap air. Jangan hanya memilih produk berdasarkan tren atau kemasan yang terlihat menarik. Jadi, Selama Ini Kamu Masih Salah Pakai Sunscreen? Menggunakan sunscreen setiap hari memang merupakan kebiasaan yang baik, tetapi efektivitas perlindungannya sangat dipengaruhi oleh cara penggunaan. Memakainya terlalu sedikit, lupa reapply, hanya mengoleskan pada wajah, atau mengabaikannya ketika mendung dapat membuat perlindungan yang diharapkan tidak maksimal. Panduan dermatologi juga menekankan pentingnya penggunaan sunscreen secara tepat sekaligus melengkapinya dengan strategi perlindungan dari matahari lainnya. Jadi, kalau selama ini kamu merasa sudah rajin memakai sunscreen tetapi masih sering melewatkan beberapa langkah di atas, tidak perlu langsung mengganti semua produk skincare. Coba perbaiki cara pakainya terlebih dahulu. Bisa jadi, masalahnya bukan pada sunscreen yang kamu gunakan, melainkan pada rutinitas pemakaiannya.

Rekomendasi Daily • 07 Sep 2026

7 Tempat Wisata Dieng yang Cocok Buat Healing, dari Telaga hingga Kawah Vulkanik

Butuh kabur sebentar dari rutinitas tanpa harus mencari liburan yang terlalu mewah? Gunung Dieng bisa menjadi salah satu pilihan. Udara dingin, hamparan perbukitan, telaga, kawah, hingga situs bersejarah membuat kawasan ini punya suasana yang berbeda dari destinasi wisata perkotaan. Buat kamu yang sedang mencari tempat untuk menenangkan pikiran, perjalanan ke Dieng tidak harus diisi dengan agenda padat. Justru, menikmati kabut pagi, berjalan santai, atau sekadar duduk melihat lanskap pegunungan bisa menjadi bagian paling menyenangkan dari perjalanan. Dataran Tinggi Dieng berada di kisaran 2.000 meter di atas permukaan laut. Kawasannya membentang di wilayah Wonosobo dan Banjarnegara dengan karakter alam serta budaya yang beragam. Karena itu, satu perjalanan ke Dieng bisa diisi dengan banyak pengalaman berbeda. Kenapa Dieng Cocok untuk Liburan yang Lebih Slow? Ada alasan mengapa Dieng sering masuk daftar destinasi untuk mencari suasana yang lebih tenang. Temperatur yang sejuk, lanskap pegunungan, perkebunan, telaga, dan kabut membuat ritme perjalanan terasa lebih santai. Menariknya, konsep healing di Dieng tidak harus diterjemahkan sebagai aktivitas tertentu. Kamu bisa memilih perjalanan yang minim agenda jika memang ingin beristirahat, atau justru menggabungkannya dengan aktivitas outdoor bagi yang membutuhkan suasana lebih aktif. Jadi, sebelum menentukan tujuan, tentukan dulu jenis pengalaman yang ingin didapatkan. Ingin suasana hening: pilih telaga. Ingin melihat panorama dari ketinggian: pilih area perbukitan. Suka fenomena alam: kunjungi kawasan kawah. Ingin wisata yang punya nilai sejarah: masukkan kompleks candi. Ingin aktivitas lebih ramai: pilih destinasi yang menyediakan camping atau kendaraan wisata. 1. Telaga Warna, Tempat Pas untuk Menikmati Dieng Tanpa Buru-Buru Telaga Warna merupakan salah satu destinasi yang paling dikenal di kawasan Dieng. Pepohonan dan perbukitan mengelilingi telaga sehingga suasananya terasa jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Sesuai namanya, permukaan air telaga dapat memperlihatkan perubahan warna dalam kondisi tertentu. Kandungan sulfur dan pantulan cahaya menjadi beberapa faktor yang memengaruhi tampilan tersebut. Daya tarik Telaga Warna bukan hanya pada fenomena airnya. Ketika kabut turun, lanskap di sekitarnya justru menghadirkan suasana yang lebih sunyi dan dramatis. Bagi yang ingin healing ke Gunung Dieng, tempat ini cocok untuk menikmati perjalanan secara perlahan. Tidak perlu menjadikan setiap sudut sebagai spot foto. Berjalan santai, menikmati udara dingin, lalu berhenti sejenak untuk melihat telaga sudah cukup menjadi pengalaman. 2. Batu Pandang Ratapan Angin, Saatnya Lihat Dieng dari Atas Kalau kamu lebih suka menikmati panorama luas, Batu Pandang Ratapan Angin bisa dimasukkan ke dalam itinerary. Dari lokasi ini, Telaga Warna dan Telaga Pengilon dapat terlihat dari ketinggian. Pemandangan tersebut membuat kawasan ini menarik bagi wisatawan yang gemar menikmati lanskap alam sekaligus mencari tempat untuk mengambil foto. Waktu kunjungan juga dapat memengaruhi pengalaman. Saat cuaca cerah, bentang alam bisa terlihat lebih luas. Namun, jangan langsung kecewa ketika kabut datang. Kabut justru menjadi salah satu karakter khas Dieng. Pemandangan yang tertutup sebagian dapat memberikan atmosfer berbeda dan membuat pengalaman terasa lebih unik. Jika ingin mendapatkan panorama yang maksimal, periksa prakiraan cuaca sebelum berangkat. 3. Kawah Sikidang, Healing dengan Melihat Kekuatan Alam Healing tidak selalu berarti mencari tempat yang sepenuhnya sunyi. Bagi sebagian orang, melihat langsung aktivitas alam justru bisa menjadi pengalaman yang menarik. Kawah Sikidang menjadi salah satu destinasi yang menawarkan pengalaman tersebut. Kawasan ini memiliki kawah vulkanik yang dapat diamati dari area wisata. Wisatawan juga dapat mencapai area kawah utama melalui Jembatan Kayangan yang memiliki panjang sekitar 1.150 meter berdasarkan informasi Dinas Pariwisata Jawa Tengah. Namun, karena merupakan kawasan vulkanik aktif, aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Saat berada di Kawah Sikidang: Ikuti jalur yang sudah ditentukan. Jangan memasuki area terlarang. Perhatikan instruksi pengelola. Jangan terlalu dekat dengan sumber gas atau kepundan. Segera menjauh jika terdapat perubahan kondisi yang membahayakan. Jadi, menikmati Kawah Sikidang boleh saja, tetapi tetap prioritaskan keselamatan dibanding mendapatkan foto yang lebih dekat dengan kawah. 4. Kompleks Candi Arjuna, Liburan Sekaligus Menyentuh Sejarah Dieng ternyata tidak hanya menawarkan wisata alam. Kompleks Candi Arjuna bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menggabungkan pemandangan pegunungan dengan perjalanan sejarah. Kompleks ini terdiri atas lima bangunan, yaitu Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar. Candi Arjuna sendiri diperkirakan dibangun sekitar tahun 809 Masehi. Berjalan di antara bangunan candi dengan latar pegunungan memberikan pengalaman yang berbeda dari wisata alam biasa. Destinasi ini juga cocok untuk kamu yang ingin membuat perjalanan lebih beragam. Setelah menikmati telaga dan perbukitan, suasana bersejarah di kompleks candi bisa menjadi perubahan ritme yang menarik. 5. Telaga Merdada, Pilihan untuk Kamu yang Suka Suasana Lebih Sepi Tidak semua tempat wisata harus menawarkan banyak wahana. Telaga Merdada justru menarik karena karakter alamnya yang relatif sederhana. Telaga ini berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Sumurup, dengan kawasan perkebunan kentang masyarakat di sekelilingnya. Dinas Pariwisata Jawa Tengah mencatat Telaga Merdada sebagai salah satu destinasi wisata alam di Kabupaten Banjarnegara. Pemandangan telaga yang berpadu dengan area perkebunan memberikan pengalaman yang lebih natural. Tidak ada kebutuhan untuk terus berpindah tempat agar perjalanan terasa menyenangkan. Kalau tujuanmu adalah menikmati Dieng dengan tempo lambat, Telaga Merdada bisa menjadi pilihan yang menarik. 6. Telaga Dringo, Buat yang Ingin Merasakan Sisi Alami Dieng Telaga Dringo dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang ingin mencari panorama alam dengan suasana yang lebih tenang. Destinasi ini berada di kawasan Dieng dengan ketinggian sekitar 2.222 meter di atas permukaan laut berdasarkan informasi Dinas Pariwisata Jawa Tengah. Karakter dataran tinggi membuat persiapan perjalanan menjadi penting. Udara dingin dapat terasa lebih kuat, terutama pada pagi hari atau ketika cuaca berubah. Karena itu, jangan lupa membawa pakaian hangat dan menyiapkan waktu perjalanan yang cukup. Tidak perlu membuat itinerary terlalu padat jika memang ingin menikmati kawasan ini dengan santai. 7. Dieng Park, Pilihan Buat yang Ingin Healing Sambil Beraktivitas Kalau konsep healing versimu justru lebih aktif, Dieng Park bisa menjadi alternatif. Dari kawasan ini, wisatawan dapat menikmati panorama Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Selain menikmati pemandangan, tersedia pula sejumlah aktivitas seperti camping, menjelajah menggunakan jeep, hingga ATV berdasarkan informasi pariwisata Jawa Tengah. Pilihan aktivitas yang beragam membuat Dieng Park cukup fleksibel untuk perjalanan bersama teman, keluarga, maupun pasangan. Kamu bisa memilih aktivitas sesuai energi dan waktu yang tersedia. Tidak ingin terlalu capek? Nikmati panorama. Ingin pengalaman lebih seru? Aktivitas outdoor bisa dimasukkan ke agenda. Mana Destinasi Dieng yang Paling Cocok Buat Kamu? Dengan tujuh pilihan tersebut, itinerary perjalanan sebenarnya bisa disesuaikan dengan karakter masing-masing wisatawan. Kalau tujuan utamanya benar-benar ingin istirahat Prioritaskan Telaga Warna atau Telaga Merdada. Keduanya lebih cocok untuk perjalanan dengan tempo santai dan tidak terlalu banyak aktivitas. Kalau ingin konten foto yang lebih kuat Batu Pandang Ratapan Angin bisa dimasukkan dalam agenda, terutama jika kondisi cuaca mendukung. Kompleks Candi Arjuna juga dapat menjadi pilihan untuk mendapatkan suasana foto yang berbeda. Kalau ingin perjalanan lebih aktif Kawah Sikidang dan Dieng Park dapat memberikan pengalaman yang lebih beragam. Namun, aktivitas tetap perlu disesuaikan dengan kondisi fisik dan aturan keselamatan di lokasi. Kalau suka wisata sejarah Kompleks Candi Arjuna layak mendapat tempat dalam itinerary. Perjalanan ke Dieng pun tidak hanya berisi pemandangan alam, tetapi juga memperkenalkan warisan sejarah kawasan tersebut. Jangan Paksakan Tujuh Tempat dalam Satu Hari Kesalahan yang cukup mudah dilakukan saat berwisata adalah memasukkan terlalu banyak destinasi ke dalam satu itinerary. Memang terlihat menarik jika tujuh lokasi berhasil dikunjungi dalam sehari. Namun, hasil akhirnya bisa berupa perjalanan yang melelahkan karena sebagian besar waktu justru habis di perjalanan. Untuk konsep healing, itinerary yang lebih longgar justru lebih masuk akal. Misalnya, satu hari dapat difokuskan pada Telaga Warna, Batu Pandang Ratapan Angin, dan Kompleks Candi Arjuna. Hari berikutnya bisa digunakan untuk mengeksplorasi destinasi lain seperti Telaga Merdada, Telaga Dringo, atau Dieng Park. Dengan pola tersebut, waktu untuk menikmati setiap tempat menjadi lebih panjang dan perjalanan tidak terasa seperti mengejar daftar destinasi. Tips Sebelum Healing ke Gunung Dieng Dataran tinggi membutuhkan persiapan yang sedikit berbeda dibandingkan wisata di kawasan perkotaan. Beberapa hal berikut sebaiknya disiapkan sebelum berangkat: Bawa pakaian hangat, terutama jika berangkat pagi atau berencana bermalam. Gunakan alas kaki yang nyaman, karena beberapa lokasi membutuhkan aktivitas berjalan. Cek kondisi cuaca sebelum berangkat, terutama jika ingin menikmati panorama dari ketinggian. Perhatikan kondisi tubuh, karena udara dan ketinggian dapat terasa berbeda bagi sebagian orang. Patuhi aturan kawasan wisata, khususnya ketika berada di area vulkanik seperti Kawah Sikidang. Jangan membuang sampah sembarangan agar lingkungan Dieng tetap terjaga. Sisakan waktu untuk istirahat, jangan membuat seluruh agenda terlalu padat. Satu hal lagi yang tidak kalah penting adalah memeriksa informasi terbaru sebelum berangkat. Kondisi cuaca, akses jalan, aturan kunjungan, maupun operasional destinasi dapat berubah sewaktu-waktu. Healing ke Dieng Tidak Harus Mahal atau Ribet Dieng punya banyak alasan untuk dimasukkan ke dalam daftar perjalanan ketika rutinitas mulai terasa melelahkan. Udara sejuk, telaga, pegunungan, kawah, situs sejarah, hingga berbagai aktivitas outdoor tersedia dalam satu kawasan. Tujuh tempat wisata di atas juga memperlihatkan bahwa setiap destinasi memiliki karakter berbeda. Telaga Warna menawarkan suasana tenang, Batu Pandang Ratapan Angin memberikan panorama dari ketinggian, Kawah Sikidang menghadirkan pengalaman vulkanik, sementara Kompleks Candi Arjuna membawa wisatawan lebih dekat dengan sejarah. Sementara itu, Telaga Merdada dan Telaga Dringo cocok untuk perjalanan yang lebih santai, sedangkan Dieng Park dapat dipilih jika ingin menambahkan aktivitas rekreasi. Pada akhirnya, healing tidak selalu berarti pergi jauh atau menghabiskan banyak uang. Kadang yang dibutuhkan hanya suasana baru, udara yang lebih sejuk, pemandangan yang berbeda, dan waktu untuk berhenti sejenak dari rutinitas. Kalau itu yang sedang kamu cari, Gunung Dieng bisa menjadi salah satu tempat untuk mengambil jeda sebelum kembali menjalani hari-hari seperti biasa.

Rekomendasi Daily • 07 Sep 2026

8 Tempat Wisata Brebes yang Cocok Buat Healing, dari Kebun Teh hingga Pantai

Kalau mendengar nama Brebes, telur asin dan bawang merah mungkin menjadi dua hal yang langsung terlintas. Namun, kabupaten di Jawa Tengah ini ternyata punya pilihan liburan yang jauh lebih beragam. Buat kamu yang sedang mencari tempat untuk kabur sebentar dari rutinitas, tempat wisata Brebes menawarkan banyak suasana. Ada perkebunan teh di kawasan pegunungan, telaga yang dikelilingi pepohonan, air terjun, waduk, wisata mangrove, sampai pantai di kawasan pesisir. Keberagaman tersebut membuat Brebes menarik untuk dijadikan tujuan perjalanan singkat. Tidak semua liburan harus dipenuhi agenda padat. Terkadang, menikmati udara sejuk, berjalan santai, atau duduk melihat lanskap alam sudah cukup untuk membuat perjalanan terasa berbeda. Pemerintah Kabupaten Brebes juga memasukkan sejumlah destinasi alam seperti Telaga Ranjeng, kawasan perkebunan teh Kaligua, Waduk Penjalin, Curug Putri, Pantai Randusanga, dan Waduk Malahayu dalam pengembangan pariwisata daerah. Mau Liburan Santai? Pilih Destinasi Sesuai Mood Menariknya, tempat wisata alam di Brebes tidak menawarkan pengalaman yang seragam. Karakter setiap destinasi justru berbeda sehingga perjalanan bisa disesuaikan dengan tujuan liburan. Kalau ingin udara dingin dan pemandangan hijau, kawasan Paguyangan bisa menjadi pilihan. Sementara itu, wisatawan yang lebih suka suasana air dapat mempertimbangkan waduk atau telaga. Untuk pengalaman pesisir, Pantai Randusanga dan kawasan mangrove Pandansari menawarkan nuansa yang berbeda. Berikut delapan destinasi yang bisa masuk daftar perjalanan. 1. Agrowisata Kaligua, Saatnya Kabur ke Tengah Kebun Teh Agrowisata Kaligua berada di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, di kawasan kaki Gunung Slamet. Hamparan tanaman teh menjadi lanskap utama yang membuat tempat ini cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Bukan cuma pemandangan kebun teh yang bisa dinikmati. Kawasan Kaligua juga menawarkan sejumlah aktivitas, mulai dari mengunjungi Gua Jepang dan mata air Tuk Bening hingga berjalan di Jembatan Ceria. Bagi yang ingin aktivitas lebih menantang, tersedia pula pilihan hiking menuju Puncak Sakub. Area perkemahan dan penginapan juga menjadi bagian dari pilihan fasilitas yang tersedia di kawasan tersebut. Kaligua paling cocok untuk kamu yang ingin membuat perjalanan terasa lebih lambat. Datang pagi, menikmati udara pegunungan, berjalan santai di area perkebunan, lalu menghabiskan waktu tanpa terburu-buru bisa menjadi agenda sederhana yang justru menyenangkan. 2. Telaga Ranjeng, Tempat Menepi dari Ramainya Rutinitas Masih berada di kawasan Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Telaga Ranjeng menghadirkan suasana yang lebih tenang. Kawasan ini tercatat sebagai bagian dari pariwisata alam Kabupaten Brebes sekaligus cagar alam dengan luas sekitar 48,50 hektare. Pepohonan dan lingkungan pegunungan membuat suasananya terasa berbeda dari destinasi wisata yang ramai aktivitas. Telaga Ranjeng juga mempunyai keterkaitan dengan tradisi masyarakat setempat. Pada Juni 2026, kawasan tersebut menjadi lokasi tradisi Ratiban yang diikuti ribuan warga Desa Pandansari sebagai bentuk syukur atas hasil bumi dan anugerah alam. Jadi, perjalanan ke Telaga Ranjeng bukan hanya soal mencari latar foto. Ada sisi alam dan budaya yang bisa ikut dikenali selama berada di kawasan tersebut. 3. Curug Putri, Buat yang Suka Wisata dengan Sedikit Tantangan Kalau konsep liburanmu tidak cukup hanya duduk menikmati pemandangan, Curug Putri bisa dipertimbangkan. Destinasi ini berada di kawasan Sirampog dan tercatat sebagai salah satu wisata alam Kabupaten Brebes. Lingkungan air terjun memberikan pengalaman yang berbeda karena perjalanan menuju kawasan alam biasanya juga menjadi bagian dari aktivitas wisata. Suara air, pepohonan, dan suasana sekitar membuat perjalanan ke curug terasa lebih dekat dengan alam. Namun, sebelum berangkat, kondisi cuaca dan keamanan akses sebaiknya diperiksa terlebih dahulu. Untuk destinasi seperti Curug Putri, sepatu yang nyaman dan perlengkapan yang sesuai medan akan lebih berguna daripada sekadar membawa outfit untuk foto. 4. Wana Wisata Sirah Pemali Winduaji, Pilihan untuk Liburan Tanpa Buru-Buru Tidak semua perjalanan harus diisi dengan aktivitas yang melelahkan. Wana Wisata Sirah Pemali Winduaji bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam dengan tempo lebih santai. Destinasi ini tercatat dalam daftar wisata alam Jawa Tengah. Kawasan Winduaji juga berada di wilayah yang memiliki potensi wisata lain, termasuk Waduk Penjalin. Konsep seperti ini cocok bagi kamu yang ingin pergi bersama keluarga atau sahabat tanpa membuat itinerary terlalu padat. Satu lokasi yang dinikmati dengan tenang terkadang justru terasa lebih berkesan dibanding mengejar lima atau enam destinasi dalam sehari. 5. Waduk Penjalin, Nongkrong Santai dengan Lanskap Perairan Waduk Penjalin berada di kawasan Paguyangan dan termasuk dalam daftar kawasan pariwisata alam Kabupaten Brebes. Pemandangan perairan yang berpadu dengan lingkungan sekitar memberikan pilihan aktivitas yang lebih santai. Bagi penggemar fotografi, lanskap waduk juga bisa menjadi objek menarik, terutama ketika kondisi cahaya sedang mendukung. Destinasi seperti ini bisa dimasukkan ke itinerary jika kamu tidak ingin setiap perjalanan dipenuhi aktivitas fisik. Namun, jika datang bersama anak-anak, tetap pilih area yang aman untuk beraktivitas dan ikuti aturan yang diberlakukan oleh pengelola. 6. Desa Wisata Mangrove Pandansari, Melihat Sisi Lain Brebes Brebes ternyata tidak hanya punya kawasan pegunungan. Di Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes, terdapat Desa Wisata Mangrove Pandansari yang menawarkan pengalaman wisata pesisir. Lokasinya tercatat sekitar 17 kilometer dari ibu kota Kabupaten Brebes dan dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Mangrove Pandansari. Kawasan mangrove menarik bukan hanya karena pemandangannya. Ekosistem bakau mempunyai fungsi penting bagi wilayah pesisir, termasuk membantu menahan dan memecah gelombang serta mengurangi dampak abrasi. Karena itu, wisata mangrove bisa menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin mendapatkan pengalaman berbeda sekaligus memahami pentingnya menjaga lingkungan pesisir. 7. Pantai Randusanga Indah, Kalau Mood-mu Lagi Butuh Laut Setelah menikmati udara pegunungan, kamu bisa beralih ke sisi pesisir Brebes. Pantai Randusanga Indah berada di Desa Randusanga Kulon, Kecamatan Brebes, dan termasuk destinasi wisata alam sekaligus objek wisata unggulan daerah. Karakter tempat ini tentu berbeda dengan Kaligua atau Telaga Ranjeng. Jika kawasan pegunungan menawarkan udara sejuk dan lanskap hijau, Randusanga menghadirkan suasana laut yang lebih terbuka. Destinasi ini dapat menjadi pilihan untuk perjalanan bersama keluarga maupun sekadar mencari suasana baru dari rutinitas. Jadi, kalau definisi healing versimu adalah duduk menikmati pemandangan laut, Brebes juga punya pilihannya. 8. Waduk Malahayu, Menutup Perjalanan dengan Suasana Tenang Waduk Malahayu berada di Kecamatan Banjarharjo dan tercatat sebagai salah satu objek wisata unggulan Kabupaten Brebes. Kawasan ini dapat menjadi pilihan untuk wisatawan yang ingin mengeksplorasi sisi lain Brebes di luar destinasi pegunungan. Lanskap perairan juga membuatnya cocok dimasukkan dalam perjalanan yang mengutamakan suasana santai. Jika datang bersama keluarga atau orang terdekat, waktu perjalanan bisa dibuat lebih fleksibel. Tidak harus mengejar banyak aktivitas, cukup menikmati pemandangan dan suasana sekitar. Tempat Wisata Brebes Mana yang Paling Cocok Buat Kamu? Kalau masih bingung menentukan destinasi, pilihan bisa disesuaikan dengan gaya liburan: Ingin udara sejuk: Agrowisata Kaligua. Mencari suasana tenang: Telaga Ranjeng. Suka petualangan: Curug Putri. Ingin liburan santai: Wana Wisata Sirah Pemali Winduaji. Suka lanskap perairan: Waduk Penjalin. Tertarik wisata lingkungan: Desa Wisata Mangrove Pandansari. Mau menikmati suasana laut: Pantai Randusanga Indah. Ingin eksplorasi kawasan waduk: Waduk Malahayu. Dengan begitu, kamu tidak perlu memilih destinasi hanya berdasarkan foto yang terlihat menarik di media sosial. Tentukan dulu pengalaman seperti apa yang ingin didapatkan. Sebelum Berangkat, Jangan Cuma Siapkan Outfit Wisata alam membutuhkan persiapan yang sedikit berbeda dibanding jalan-jalan di pusat kota. Sebelum berangkat ke tempat wisata Brebes, beberapa hal berikut layak diperhatikan: Periksa cuaca. Hujan dapat memengaruhi kenyamanan maupun keamanan, terutama untuk destinasi air terjun dan kawasan pegunungan. Sesuaikan dengan kondisi fisik. Beberapa tempat membutuhkan aktivitas berjalan kaki atau melewati medan yang tidak semudah jalan perkotaan. Cari informasi terbaru. Jam operasional, akses, fasilitas, dan tarif dapat berubah sehingga informasi lama di media sosial belum tentu masih berlaku. Bawa perlengkapan yang sesuai. Sepatu nyaman, pakaian yang sesuai cuaca, air minum, dan perlengkapan pribadi lebih penting daripada sekadar mengejar foto. Jangan meninggalkan sampah. Keindahan destinasi alam akan tetap bisa dinikmati wisatawan berikutnya jika kebersihannya dijaga. Hormati warga dan aturan lokal. Hal ini semakin penting ketika berkunjung ke desa wisata, kawasan konservasi, maupun tempat yang memiliki nilai budaya. Brebes Bukan Cuma Soal Telur Asin Delapan destinasi tersebut memperlihatkan betapa beragamnya tempat wisata Brebes. Satu kabupaten bisa menawarkan pengalaman mulai dari kebun teh di kawasan pegunungan hingga wisata mangrove dan pantai di wilayah pesisir. Pemerintah Jawa Tengah juga mencatat berbagai destinasi alam Brebes dalam statistik pariwisatanya, termasuk Kaligua, Curug Putri, Pantai Randusanga, Telaga Ranjeng, Waduk Malahayu, Waduk Penjalin, dan wisata mangrove Pandansari. Karena pilihan yang tersedia cukup banyak, liburan tidak harus dibuat rumit. Pilih satu atau dua destinasi yang paling sesuai dengan tujuan perjalanan, cek kondisi terbaru sebelum berangkat, lalu nikmati waktunya tanpa terlalu sibuk mengejar konten. Sebab, terkadang liburan yang paling berkesan bukan perjalanan dengan destinasi terbanyak, melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan pikiran sedikit lebih ringan.

Rekomendasi Daily • 07 Sep 2026

Polusi Udara Lagi Tinggi? 8 Minuman Ini Bisa Jadi Teman untuk Jaga Tubuh Tetap Fit

Ketika kualitas udara sedang buruk, perhatian biasanya langsung tertuju pada masker, kondisi langit, atau seberapa tebal kabut polusi yang terlihat. Padahal, menjaga kondisi tubuh dari dalam juga tetap penting, salah satunya dengan memastikan kebutuhan cairan dan nutrisi terpenuhi. Selain air putih, ada sejumlah minuman berbahan alami yang dapat dimasukkan ke dalam pola makan sehari-hari. Mulai dari teh hijau dengan lemon, smoothie matcha, hingga minuman biji chia, pilihan tersebut menawarkan cairan sekaligus berbagai zat gizi. Artikel sumber yang mengutip ahli gizi Kaur Paul dari Hindustan Times menyebut delapan minuman yang dapat menjadi pilihan untuk mendukung tubuh ketika menghadapi paparan polusi. Namun, perlu dipahami bahwa minuman tersebut bukan obat atau pelindung langsung dari polusi udara. Mengurangi paparan tetap menjadi langkah utama. Kenapa Hidrasi Tetap Penting Saat Udara Buruk? Ketika kondisi udara memburuk, menjaga asupan cairan tetap cukup merupakan bagian dari kebiasaan hidup sehat. Minuman juga bisa menjadi cara praktis untuk memasukkan sejumlah nutrisi dari bahan makanan seperti buah, sayuran, rempah, atau biji-bijian. Namun, jangan sampai istilah seperti “detoks” membuat kita menganggap satu jenis minuman mampu membersihkan paru-paru dari polutan. Tubuh memang memiliki sistem alami untuk mengolah dan membuang zat sisa. Karena itu, pilihan minuman sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat, bukan sebagai solusi tunggal untuk menghadapi polusi. 8 Minuman yang Bisa Masuk Menu Harian Kalau kamu ingin variasi selain air putih, berikut delapan pilihan yang disebut dalam artikel sumber. 1. Teh Hijau dengan Lemon Buat yang suka minuman simpel tetapi tetap punya rasa, kombinasi teh hijau dan lemon bisa dicoba. Teh hijau mengandung katekin, kelompok senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan. Sementara itu, lemon menyediakan vitamin C. Kombinasi keduanya dapat menjadi pilihan minuman pendamping sarapan atau aktivitas pagi. Artikel sumber menyebut teh hijau dan lemon sebagai salah satu minuman yang dapat membantu mendukung tubuh menghadapi paparan polusi. Tips: jika menggunakan teh hijau, perhatikan tambahan gula. Minuman yang sehat bisa berubah menjadi tinggi gula jika terlalu banyak pemanis ditambahkan. 2. Smoothie Matcha Matcha bukan cuma soal estetika minuman yang cocok difoto untuk Instagram. Bubuk matcha dapat dikombinasikan dengan bayam, pisang, dan susu almond untuk membuat smoothie. Campuran tersebut memberikan cairan sekaligus berbagai vitamin dan mineral dari bahan penyusunnya. Artikel sumber memasukkan smoothie matcha sebagai salah satu opsi minuman yang dapat mendukung kesehatan tubuh ketika kualitas udara sedang menjadi perhatian. Matcha Bisa Jadi Pilihan untuk yang Bosan Air Putih Kalau kamu sulit memenuhi kebutuhan cairan karena bosan dengan air putih, variasi rasa bisa membuat kebiasaan minum terasa lebih menyenangkan. Tetapi perhatikan kandungan gula dan kafeinnya, terutama jika smoothie atau matcha dibuat dengan tambahan sirup, krimer, atau pemanis dalam jumlah besar. 3. Teh Kunyit dan Jahe Dua bahan dapur ini sudah lama digunakan dalam berbagai olahan makanan dan minuman. Kunyit dan jahe memiliki senyawa yang dikaitkan dengan aktivitas antiinflamasi. Dalam artikel sumber, keduanya disebut sebagai pilihan minuman yang dapat mendukung tubuh ketika menghadapi kondisi yang berkaitan dengan polusi udara. Sedikit madu dapat ditambahkan untuk memperkaya rasa. Cara membuatnya juga cukup sederhana. Kunyit dan jahe dapat diseduh menggunakan air hangat, kemudian disesuaikan rasanya dengan bahan tambahan yang diinginkan. Cocok untuk Teman di Sore Hari Jika kamu ingin mengganti minuman manis kemasan dengan sesuatu yang lebih sederhana, teh rempah bisa menjadi alternatif. Tetap saja, minuman ini tidak menggantikan pola makan seimbang dan bukan terapi untuk gangguan pernapasan. 4. Air Lemon Tidak sempat membuat smoothie atau merebus rempah? Air lemon jauh lebih praktis. Cukup tambahkan irisan atau perasan lemon ke dalam air. Minuman ini bisa disajikan dingin maupun hangat sesuai selera. Artikel sumber mengaitkan air lemon dengan dukungan terhadap fungsi hati dan proses pencernaan. Namun, istilah “detoks” perlu dipahami secara hati-hati. Air lemon bukan minuman ajaib yang otomatis mengeluarkan polutan dari tubuh. Keunggulan paling sederhananya adalah membuat air terasa lebih menarik sehingga kamu mungkin lebih mudah memenuhi kebutuhan cairan. 5. Infused Water Mentimun dan Mint Buat yang kurang suka air putih karena rasanya terlalu plain, infused water bisa menjadi solusi sederhana. Mentimun dan daun mint dapat dimasukkan ke dalam air untuk menghasilkan rasa yang lebih segar. Dalam artikel sumber, mentimun disebut dapat membantu asupan hidrasi, sedangkan mint memberikan sensasi menyegarkan. Cara Simpel Membuatnya Kamu bisa mencoba: Iris mentimun tipis-tipis. Tambahkan beberapa lembar daun mint. Masukkan ke dalam botol berisi air. Simpan beberapa waktu di kulkas. Nikmati dalam keadaan dingin. Tidak perlu menambahkan gula jika ingin mempertahankan konsep minuman yang ringan. 6. Jus Bit dan Wortel Kalau kamu ingin mendapatkan minuman dengan rasa lebih kuat sekaligus memasukkan sayuran ke dalam menu, kombinasi bit dan wortel dapat dicoba. Keduanya mengandung berbagai nutrisi dan senyawa tanaman. Artikel sumber memasukkan jus bit dan wortel dalam daftar minuman yang dinilai dapat mendukung fungsi hati dan memberikan asupan nutrisi bagi tubuh. Agar lebih seimbang, hindari menambahkan gula terlalu banyak. Rasa manis alami dari wortel dan bit sebenarnya sudah cukup kuat. 7. Jus Lidah Buaya Lidah buaya ternyata tidak hanya populer sebagai bahan perawatan kulit. Dalam artikel sumber, jus lidah buaya disebut memiliki sifat antiinflamasi dan dimasukkan sebagai salah satu pilihan minuman untuk mendukung tubuh menghadapi paparan polusi. Resep sederhananya adalah mencampurkan sekitar satu sendok makan jus lidah buaya dengan air dan sedikit perasan lemon. Tetapi ada catatan penting: tidak semua produk lidah buaya aman dikonsumsi langsung, terutama jika bagian tanaman atau produk belum diproses untuk konsumsi. Gunakan produk yang memang diperuntukkan sebagai bahan pangan dan ikuti petunjuk penggunaannya. 8. Minuman Biji Chia Biji chia bisa menjadi pilihan bagi kamu yang ingin menambahkan serat ke dalam menu. Cara membuatnya pun cukup praktis. Rendam chia seed di dalam air hingga mengembang, kemudian tambahkan sedikit lemon atau jeruk nipis. Artikel sumber menyebut kandungan serat dalam chia seed dapat membantu proses pencernaan dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama. Jika baru mengonsumsi chia seed, sebaiknya mulai dari jumlah kecil dan pastikan asupan cairan tetap cukup. Bukan Minumannya yang Jadi “Tameng” Utama Ada satu hal yang jangan sampai terlewat ketika membahas minuman untuk melindungi tubuh dari polusi udara. Minuman bernutrisi dapat mendukung kesehatan secara umum, tetapi tidak bisa menggantikan langkah untuk mengurangi paparan polutan. WHO merekomendasikan berbagai pendekatan untuk menurunkan paparan, termasuk mengurangi waktu di lingkungan dengan polusi tinggi serta menyesuaikan lokasi dan waktu aktivitas di luar ruangan. Artinya, jangan sampai seseorang merasa aman berada di tengah udara yang sangat tercemar hanya karena sudah minum teh hijau atau jus buah. Saat Kualitas Udara Memburuk, Coba Lakukan Ini Beberapa langkah yang lebih langsung untuk mengurangi paparan antara lain: Periksa informasi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas luar ruangan. Kurangi aktivitas berat di luar ketika polusi sedang tinggi. Pilih waktu dan lokasi aktivitas dengan kualitas udara yang lebih baik. Hindari area dengan lalu lintas kendaraan yang sangat padat jika memungkinkan. Gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai ketika kondisi mengharuskannya. CDC juga menyarankan menyesuaikan waktu dan lokasi aktivitas berdasarkan kualitas udara serta mengurangi aktivitas luar ruangan ketika polusi diperkirakan memburuk. Untuk paparan partikel, respirator yang sesuai dan memiliki fit yang baik memberikan perlindungan lebih dibandingkan penutup wajah biasa. Pilih Minuman Sesuai Kebutuhan, Bukan Karena Tren Delapan minuman tadi tidak harus dikonsumsi semuanya dalam satu hari. Justru, pilih berdasarkan kebutuhan dan kebiasaan makanmu. Kalau ingin hidrasi:Infused water mentimun dan mint atau air lemon bisa menjadi pilihan. Kalau ingin tambahan sayuran:Jus bit dan wortel atau smoothie matcha dapat dipertimbangkan. Kalau suka minuman hangat:Teh hijau atau teh kunyit dan jahe bisa masuk daftar. Kalau ingin tambahan serat:Minuman chia seed dapat menjadi alternatif. Dengan cara tersebut, minuman bukan sekadar mengikuti tren kesehatan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pola makan yang lebih beragam. Jangan Lupakan Air Putih Meski artikel ini membahas delapan alternatif, air putih tetap tidak perlu ditinggalkan. Minuman dengan lemon, mint, matcha, atau buah memang bisa membuat rutinitas hidrasi terasa lebih menarik. Namun, kebutuhan cairan tidak harus dipenuhi melalui minuman “fancy”. Bahkan, semakin sederhana minumannya, semakin mudah pula mengontrol tambahan gula dan kalori. Polusi Tinggi? Jangan Hanya Andalkan Minuman Ketika kualitas udara sedang buruk, menjaga pola makan dan hidrasi memang tetap penting. Delapan minuman di atas dapat menjadi variasi yang menyediakan cairan dan nutrisi, tetapi manfaatnya perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tidak ada satu minuman yang mampu menjadi “perisai” terhadap polusi udara. Perlindungan yang lebih penting justru berasal dari upaya mengurangi paparan, termasuk mempertimbangkan waktu dan lokasi aktivitas ketika kualitas udara buruk. Jadi, mau pilih teh hijau dengan lemon, smoothie matcha, infused water, atau chia seed, silakan sesuaikan dengan selera. Yang penting bukan mencari minuman anti-polusi yang terdengar paling ajaib, tetapi membangun kebiasaan sehat sambil tetap mengurangi paparan udara tercemar.

Rekomendasi Daily • 06 Sep 2026

Weekend Run di Bandung: Coba Rute Lari Berbentuk Kucing, Lanjut Kulineran

Weekend bukan cuma waktunya rebahan atau maraton series. Buat kamu yang ingin tetap aktif tetapi nggak mau suasananya terlalu serius, kombinasi weekend run di Bandung dan kulineran bisa menjadi pilihan menarik. Bandung punya banyak jalur yang memungkinkan aktivitas olahraga sekaligus eksplorasi suasana kota. Salah satu yang cukup unik adalah rute lari berbentuk siluet kucing ketika dilihat melalui peta digital. Dengan jarak sekitar 5–6 kilometer, rute ini relatif bersahabat untuk pelari pemula maupun kamu yang sekadar ingin melakukan easy run sambil menikmati suasana Bandung. Lari Sambil Bikin Gambar di Peta, Kok Bisa? Tren membuat bentuk tertentu dari jalur lari sebenarnya memanfaatkan fitur GPS pada aplikasi olahraga seperti Strava. Setiap aktivitas yang direkam akan membentuk garis perjalanan pada peta digital. Dari situlah muncul kreativitas para pelari untuk merancang rute yang bukan hanya menghasilkan jarak tempuh, tetapi juga membentuk gambar tertentu. Salah satunya adalah siluet kucing yang dapat ditemukan di kawasan tengah Kota Bandung. Rute ini bisa dimulai dari kawasan Lapangan Saparua. Karena berada di area perkotaan dengan banyak pilihan tempat makan dan coffee shop, agenda lari pun bisa dilanjutkan dengan sarapan atau nongkrong. Kenapa Rute Ini Menarik? Beberapa alasan yang membuat rute lari berbentuk kucing layak dicoba: Jarak sekitar 5–6 km, cukup untuk easy run. Berada di kawasan tengah Bandung, sehingga akses menuju berbagai tempat relatif mudah. Banyak pilihan kuliner di sekitar jalur. Cocok untuk lari sendirian, bareng pasangan, atau bersama running buddy. Bisa menjadi alternatif weekend activity yang menggabungkan olahraga dan hangout. Setelah Lari, Saatnya Berburu Kuliner Salah satu daya tarik weekend run di Bandung adalah kamu tidak harus langsung pulang setelah menyelesaikan kilometer terakhir. Area yang dilewati atau berada di sekitar rute menyediakan berbagai pilihan untuk mengisi kembali energi. Tinggal sesuaikan dengan mood: mau ngopi, ngemil, atau langsung makan berat. Eskalasi, Pilihan Buat Ngopi dan Ngemil Kalau setelah lari kamu lebih membutuhkan minuman dan camilan, Eskalasi bisa menjadi salah satu opsi. Kedai kopi ini menawarkan minuman dengan karakter creamy serta sejumlah dessert. Beberapa pilihan yang disebutkan antara lain cinnamon roll, cranberry cheese, dan Dubai Chewy Cookie. Beberapa cabangnya juga berada di sekitar kawasan yang berdekatan dengan rute, seperti Jl. Bahureksa, Jl. Cimanuk, dan Jl. Sumbawa. Buat kamu yang menjalankan konsep run, coffee, repeat, tempat seperti ini bisa menjadi titik finish yang pas. Rochi, Buat yang Mau Coba Camilan Unik Rochi dapat menjadi alternatif kalau kamu ingin mencoba jajanan yang berbeda setelah berolahraga. Nama Rochi merupakan gabungan dari kata roti dan mochi. Konsep tersebut tercermin dari perpaduan karakter roti dengan tekstur mochi yang menjadi ciri khas camilan ini. Ukurannya yang relatif kecil juga membuatnya bisa dipilih ketika kamu belum ingin makan makanan berat setelah berlari. Ambrogio untuk Makan Lebih Berat Kalau lari 5–6 kilometer justru membuat perut langsung minta diisi, Ambrogio bisa dipertimbangkan sebagai tempat persinggahan. Pilihan makanan di tempat ini cukup beragam, mulai dari makanan ringan, dessert, hingga menu utama. Kamu juga tetap bisa sekadar menikmati kopi sambil ngobrol bersama teman. Dengan begitu, satu agenda weekend bisa terasa lebih lengkap: lari, makan, lalu quality time. Roti Merak Bisa Jadi Strategi Finish yang Unik Buat pemburu kuliner yang ingin mencoba Roti Merak, ada sedikit trik yang perlu diperhatikan. Popularitasnya membuat antrean pembelian bisa cukup panjang. Bahkan, sejumlah pengunjung disebut rela datang sejak subuh demi mendapatkan roti tersebut. Alih-alih hanya berdiri menunggu, waktu antre bisa dimanfaatkan untuk olahraga. Nomor antrean dapat diambil sekitar pukul 08.00 WIB, kemudian perkiraan waktu pengambilan pesanan bisa digunakan untuk menyelesaikan rute lari terlebih dahulu. Setelah lari selesai, kamu tinggal kembali untuk mengambil pesanan. Roti Merak menggunakan sourdough sebagai bahan dasar dan juga menyediakan pilihan kopi. Formula Weekend yang Bisa Dicoba Kalau ingin membuat agenda lebih terstruktur, kamu bisa menggunakan pola sederhana berikut: 06.00–06.15 WIBPemanasan dan persiapan. 06.15–07.15 WIBMulai weekend run dengan rute berbentuk kucing sekitar 5–6 km. 07.15–07.30 WIBPendinginan, minum, dan istirahat. 07.30 WIB ke atasLanjut sarapan, ngopi, atau berburu camilan. Dengan pola seperti ini, olahraga tidak terasa sebagai kewajiban yang harus segera diselesaikan. Aktivitasnya justru bisa menjadi bagian dari pengalaman menikmati Bandung. Jangan Jadikan Lari sebagai Kompetisi Rute 5–6 kilometer memang terlihat ringan, tetapi kemampuan setiap orang tetap berbeda. Karena itu, jangan merasa harus mengikuti pace pelari lain. Untuk pemula, fokus utama sebaiknya berada pada kemampuan menyelesaikan jarak dengan nyaman. Jika diperlukan, kombinasi lari dan jalan kaki juga tidak menjadi masalah. Beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan sebelum berangkat: Gunakan sepatu yang sudah nyaman dipakai. Lakukan pemanasan sebelum mulai berlari. Bawa air minum atau pastikan ada akses untuk mendapatkan hidrasi. Hindari langsung mengejar pace tinggi pada kilometer awal. Beri waktu tubuh untuk melakukan pendinginan setelah finish. Jangan memaksakan diri jika muncul nyeri yang tidak biasa. Yang paling penting, tetap perhatikan kondisi lalu lintas karena rute berada di kawasan perkotaan dan bukan lintasan khusus untuk pelari. Mau Pengalaman Lari yang Lebih Ramai? Coba MilesFolk 2026 Kalau rute lari mandiri sudah dicoba dan kamu ingin naik level ke suasana race, ada agenda lain yang bisa masuk kalender. MilesFolk 2026 dijadwalkan berlangsung pada 26 September 2026 di Kota Baru Parahyangan. Event ini menyediakan dua kategori, yaitu 5K Fun Run dan 3K Family Run. Menariknya, flag off direncanakan pada pukul 16.00 WIB, sehingga pengalaman berlarinya berbeda dari event yang umumnya digelar pagi hari. Setelah menyelesaikan lomba, peserta juga dapat melanjutkan agenda di sekitar Kota Baru Parahyangan. Kawasan tersebut memiliki sejumlah pilihan untuk bersantai, termasuk area IKEA, Bumi Hejo, maupun ruko-ruko di sekitarnya. Peserta yang menyelesaikan lomba juga mendapatkan medali finisher, sementara race pack mencakup jersey, medali, dan drawstring bag. Weekend Run di Bandung Nggak Harus Serius Pada akhirnya, lari tidak selalu harus dikaitkan dengan mengejar personal best atau mencatat pace tercepat. Rute berbentuk kucing menawarkan cara yang lebih playful untuk menikmati olahraga. Kamu bisa bergerak beberapa kilometer, melihat suasana Bandung dari sudut berbeda, lalu menutup pagi dengan kopi, roti, atau makanan favorit. Jadi, kalau akhir pekan ini kamu bingung mau melakukan apa, mungkin sudah waktunya mencoba formula sederhana: lari dulu, kulineran kemudian. Karena di Bandung, olahraga dan nongkrong ternyata bisa berada dalam satu itinerary.

Rekomendasi Daily • 05 Sep 2026

5 Wisata Murah di Jogja Buat Anak Kos, Budget Tipis Tetap Bisa Healing!

Menjadi mahasiswa baru di Yogyakarta punya banyak cerita untuk dimulai. Selain sibuk beradaptasi dengan kampus, tugas, dan lingkungan baru, ada satu hal yang biasanya tidak kalah menarik: menjelajahi kota tempat tinggal. Kabar baiknya, menikmati Jogja tidak selalu membutuhkan budget besar. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki atau membayar tiket masuk yang relatif ramah untuk kantong mahasiswa. Buat anak kos yang ingin healing setelah jadwal kuliah padat, wisata murah di Jogja berikut bisa menjadi pilihan. Bahkan, beberapa di antaranya tidak mengenakan tiket masuk sehingga uang lebih banyak dapat dialokasikan untuk transportasi atau jajan. Liburan Hemat di Jogja Nggak Harus Keluar Banyak Uang Sebagai mahasiswa, mengatur pengeluaran tentu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, memilih destinasi berdasarkan biaya masuk saja belum cukup. Transportasi, makanan, parkir, dan pengeluaran kecil selama perjalanan juga perlu diperhitungkan. Salah satu trik paling sederhana adalah memilih beberapa lokasi yang letaknya berdekatan sehingga dapat dikunjungi dalam satu perjalanan. Kawasan pusat Kota Yogyakarta menjadi contoh menarik. Malioboro, Titik Nol Kilometer, dan Museum Benteng Vredeburg berada di area yang relatif berdekatan. Dengan begitu, satu kali perjalanan bisa diisi dengan beberapa destinasi sekaligus. 5 Wisata Murah di Jogja yang Ramah Kantong Mahasiswa 1. Malioboro, Tempat Nongkrong yang Nggak Pernah Kehabisan Suasana Kalau baru pertama kali tinggal di Jogja, Malioboro hampir wajib masuk daftar eksplorasi. Kawasan ikonik ini bisa dinikmati tanpa harus membeli tiket masuk. Aktivitasnya pun fleksibel. Mau sekadar jalan kaki, berburu kuliner, mencari oleh-oleh, atau duduk santai menikmati suasana kota, semuanya bisa dilakukan dalam satu kawasan. Lokasinya yang berada di pusat Kota Yogyakarta juga membuat Malioboro relatif strategis untuk dikunjungi. Bagi mahasiswa dengan budget terbatas, berjalan kaki menjadi salah satu cara menikmati kawasan ini tanpa menambah biaya tiket. Info singkat: Lokasi: Jl. Malioboro, Sosromenduran, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta Jam: 24 jam Tiket: Gratis Malioboro paling cocok untuk kamu yang ingin wisata santai tanpa itinerary terlalu kaku. Datang sore, jalan-jalan, lalu cari makanan yang sesuai budget bisa menjadi agenda sederhana untuk melepas penat. 2. Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sekalian Hunting Foto Tidak jauh dari Malioboro terdapat Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Lokasi ini menawarkan suasana perkotaan yang berpadu dengan bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya. Karena letaknya berdekatan dengan Malioboro, kedua tempat tersebut dapat dimasukkan ke dalam satu agenda. Artinya, mahasiswa tidak perlu menyediakan anggaran transportasi untuk berpindah terlalu jauh. Titik Nol Kilometer juga menarik bagi kamu yang suka fotografi atau sekadar ingin mengabadikan momen bersama teman baru dari kampus. Info singkat: Lokasi: Jl. Pangurakan No.1, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta Jam: 24 jam Tiket: Gratis Kalau ingin jalan-jalan sambil mengenal suasana pusat kota, tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan paling hemat. 3. Taman Sari, Wisata Sejarah Sekaligus Spot Foto Buat yang mencari tempat dengan suasana berbeda, Taman Sari dapat menjadi pilihan. Kawasan ini dikenal melalui bangunan bersejarah dan arsitekturnya yang menarik. Berbagai sudut bangunan juga bisa menjadi latar foto, sehingga cocok untuk mahasiswa yang ingin mendapatkan pengalaman wisata sekaligus konten untuk media sosial. Biaya masuk yang tercantum dalam artikel sumber sekitar Rp7.500 per orang, sehingga relatif terjangkau untuk kantong mahasiswa. Jam operasionalnya tercantum mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Info singkat: Lokasi: Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta Jam: 09.00–15.00 WIB Tiket: Sekitar Rp7.500 per orang Karena jam kunjungannya lebih terbatas dibandingkan destinasi yang buka 24 jam, Taman Sari sebaiknya ditempatkan sebagai agenda siang dalam itinerary. 4. Museum Benteng Vredeburg, Jalan-Jalan Sekalian Tambah Wawasan Liburan tidak harus selalu identik dengan nongkrong. Kalau ingin mendapatkan pengalaman yang sekaligus menambah wawasan sejarah, Museum Benteng Vredeburg bisa dimasukkan ke daftar. Lokasinya berada di kawasan pusat kota dan dekat dengan sejumlah destinasi lainnya. Harga tiket yang tercantum dalam sumber sekitar Rp10 ribu, sehingga masih relatif bersahabat bagi mahasiswa. Info singkat: Lokasi: Jl. Margo Mulyo No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta Senin: Tutup Selasa–Kamis: 08.00–20.00 WIB Jumat–Minggu: 08.00–21.00 WIB Tiket: Sekitar Rp10 ribu Museum ini bisa menjadi pilihan ketika kamu ingin mengisi akhir pekan dengan aktivitas yang tidak hanya bersifat hiburan. 5. Alun-Alun Kidul, Pilihan Buat Nongkrong Malam Kalau tipe kamu lebih suka keluar setelah sore atau malam, Alun-Alun Kidul Yogyakarta bisa menjadi alternatif. Tidak ada tiket masuk yang perlu dibayar untuk memasuki kawasan ini. Suasananya juga semakin hidup pada malam hari dengan berbagai pilihan makanan dan minuman yang relatif murah. Pengunjung dapat menikmati sejumlah aktivitas, termasuk mencoba sepeda hias maupun permainan yang tersedia di sekitar kawasan. Info singkat: Lokasi: Jl. Alun-Alun Kidul, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta Jam: 24 jam Tiket: Gratis Bagi anak kos, tempat seperti ini menarik karena kamu bisa menentukan sendiri berapa banyak uang yang ingin dikeluarkan. Tidak perlu membeli tiket mahal untuk menikmati suasana malam. Mau Lebih Hemat? Gabungkan Beberapa Destinasi Sekaligus Salah satu cara paling efektif untuk menekan biaya wisata adalah menghindari perjalanan bolak-balik. Misalnya, kamu bisa membuat itinerary sederhana seperti: Siang: Taman Sari Makan siang sesuai budget Sore: Museum Benteng Vredeburg Jalan menuju kawasan Malioboro Malam: Malioboro Titik Nol Kilometer Lanjut ke Alun-Alun Kidul jika masih ingin jalan-jalan Susunan tersebut hanyalah contoh. Jam operasional masing-masing tempat tetap perlu diperhatikan, terutama Taman Sari dan Museum Benteng Vredeburg. Dengan menggabungkan beberapa lokasi, satu perjalanan bisa memberikan pengalaman lebih banyak tanpa harus mengeluarkan biaya tiket berkali-kali di destinasi yang jauh berbeda. Strategi Budget Wisata ala Anak Kos Budget terbatas bukan berarti pengalaman liburan harus dikurangi. Justru, mahasiswa bisa membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan dengan perencanaan sederhana. Coba gunakan beberapa trik berikut: Tentukan batas pengeluaran sebelum berangkat. Sisihkan uang untuk transportasi terlebih dahulu. Pilih destinasi gratis atau tiket murah. Bawa botol minum sendiri jika memungkinkan. Jangan impulsif membeli oleh-oleh. Pilih tempat makan sesuai budget, bukan sekadar viral. Manfaatkan lokasi yang berdekatan agar biaya perjalanan lebih rendah. Yang sering membuat pengeluaran membengkak justru bukan tiket masuk, melainkan biaya kecil yang terus bertambah sepanjang perjalanan. Pilih Destinasi Berdasarkan Mood Biar tidak bingung menentukan tempat, kamu juga bisa memilih berdasarkan aktivitas yang sedang diinginkan. Kalau ingin jalan santai: Malioboro. Kalau ingin foto-foto: Taman Sari atau Titik Nol Kilometer. Kalau ingin wisata sejarah: Museum Benteng Vredeburg. Kalau ingin suasana malam: Alun-Alun Kidul. Kalau ingin kombinasi beberapa tempat: kawasan Malioboro dan pusat kota bisa menjadi pilihan karena sejumlah destinasi berada relatif berdekatan. Dengan begitu, wisata tidak perlu dibuat rumit. Tinggal tentukan ingin melakukan apa, kemudian pilih tempat yang paling sesuai. Sebelum Berangkat, Cek Lagi Harga dan Jam Buka Informasi tiket dan jam operasional dapat berubah. Karena itu, data di atas sebaiknya digunakan sebagai gambaran awal berdasarkan informasi yang tercantum dalam artikel sumber, bukan patokan permanen. Sebelum berangkat, mahasiswa sebaiknya mengecek kembali informasi terbaru dari pengelola destinasi, terutama jika perjalanan dilakukan pada hari libur atau ada perubahan kebijakan kunjungan. Hal yang perlu dicek antara lain: Harga tiket terbaru. Jam operasional. Hari libur atau jadwal penutupan. Kondisi cuaca. Akses transportasi. Ketentuan kunjungan terbaru. Dengan persiapan tersebut, risiko datang ketika tempat sedang tutup atau biaya yang tersedia tidak mencukupi bisa diminimalkan. Wisata Hemat Bisa Jadi Cara Kenalan dengan Jogja Buat mahasiswa baru, menjelajahi kota tempat kuliah bukan sekadar mencari tempat untuk menghabiskan waktu. Dari perjalanan sederhana, kamu bisa mulai mengenal lingkungan sekitar, mencoba makanan lokal, menemukan tempat favorit, sekaligus membangun pertemanan dengan teman kuliah. Lima wisata murah di Jogja di atas menawarkan karakter yang berbeda. Ada yang cocok untuk jalan santai, berburu foto, belajar sejarah, hingga menikmati suasana malam. Jadi, tidak perlu menunggu punya budget besar untuk mulai mengenal Jogja. Dengan sedikit perencanaan dan kemampuan mengatur pengeluaran, pengalaman liburan tetap bisa seru meski statusnya masih anak kos. Budget boleh mahasiswa, tetapi pengalaman selama kuliah jangan sampai cuma kamar-kampus-kamar.

Rekomendasi Daily • 04 Sep 2026