Abu Vulkanik Bisa Ganggu Kulit? Ini Cara Melindungi Diri Biar Nggak Salah Langkah
Ketika abu vulkanik mulai menyebar setelah erupsi gunung api, masker biasanya menjadi perlengkapan pertama yang langsung dicari. Padahal, perlindungan diri tidak berhenti pada saluran pernapasan.
Partikel abu juga dapat menempel pada kulit, rambut, pakaian, dan mata. Jika paparan berlangsung cukup lama, kulit dapat mengalami iritasi, terutama ketika abu bergesekan dengan permukaan kulit atau dibiarkan menempel terlalu lama.
Karena itu, ketika wilayah tempat tinggal terdampak hujan abu, perlindungan tubuh perlu dilakukan secara menyeluruh. Mengurangi bagian kulit yang terbuka, menggunakan pelindung mata, dan membatasi aktivitas di luar ruangan merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Dr. Arini Astasari Widodo juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan pakaian tertutup dan tidak menggosok kulit yang sudah terkena abu vulkanik.
Kenapa Abu Vulkanik Perlu Diwaspadai Kulit?
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material yang dilepaskan saat aktivitas vulkanik dapat mengandung partikel yang mengiritasi tubuh, sementara paparan juga dapat mengganggu mata dan saluran pernapasan.
CDC menyarankan masyarakat menghindari kontak dengan abu sebisa mungkin dan menutup kulit untuk mengurangi risiko iritasi. Orang yang harus berada di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang serta pelindung mata.
Masalahnya, risiko tidak hanya muncul ketika abu sedang turun. Partikel yang sudah mengendap di jalan, halaman, atap, kendaraan, maupun benda lain dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau saat proses pembersihan dilakukan.
Artinya, kehati-hatian tetap diperlukan bahkan setelah hujan abu berhenti.
1. Tutup Kulit Sebelum Keluar Rumah
Cara paling sederhana untuk mengurangi kontak langsung dengan abu adalah mengurangi area tubuh yang terbuka.
Saat harus keluar rumah, gunakan pakaian yang menutupi sebagian besar permukaan kulit. Pilihan praktisnya antara lain:
-
Baju lengan panjang.
-
Celana panjang.
-
Sepatu tertutup.
-
Sarung tangan ketika membersihkan abu.
-
Topi atau penutup kepala.
-
Pelindung mata atau goggles.
Dokter kulit yang dikutip Pikiran Rakyat juga merekomendasikan pakaian lengan panjang, celana panjang, sepatu tertutup, topi, dan sarung tangan untuk mengurangi paparan abu pada kulit.
CDC memberikan anjuran serupa, termasuk menggunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang ketika seseorang harus berada di luar saat terdapat abu vulkanik.
Jadi, sebelum keluar rumah, jangan hanya mengecek apakah sudah memakai masker. Pastikan kulit juga mendapatkan perlindungan.
2. Jangan Menggosok Kulit yang Sudah Dipenuhi Abu
Ini salah satu kesalahan yang perlu dihindari.
Ketika melihat tangan atau wajah tertutup abu, refleks pertama mungkin adalah mengusapnya menggunakan tangan, tisu, atau kain. Padahal, tindakan tersebut dapat membuat partikel abu bergesekan dengan permukaan kulit.
Dokter Arini mengingatkan agar kulit yang terkena abu tidak langsung digosok. Jika paparan cukup banyak, kulit sebaiknya dibersihkan secara lembut terlebih dahulu.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan?
Jika kulit terkena abu:
-
Hindari menggosok area tersebut.
-
Bersihkan dengan cara yang lembut.
-
Gunakan air untuk membantu mengangkat partikel.
-
Setelah bersih, keringkan kulit dengan lembut.
-
Perhatikan apakah muncul iritasi atau keluhan lain.
Prinsipnya sederhana: angkat abu dari kulit, bukan menggosokkannya semakin kuat.
3. Jangan Lupa Lindungi Mata
Kulit bukan satu-satunya bagian tubuh yang bisa terkena paparan.
Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata. Karena itu, penggunaan pelindung mata menjadi penting terutama ketika seseorang harus berada di luar ruangan atau melakukan pembersihan setelah hujan abu.
CDC merekomendasikan goggles untuk membantu melindungi mata dari abu vulkanik.
Kacamata biasa belum tentu memberikan perlindungan yang sama dengan goggles yang dirancang untuk menutup area mata dengan lebih baik. Jika kondisi abu cukup pekat, sebaiknya kurangi aktivitas luar ruangan daripada mengandalkan perlengkapan perlindungan saja.
4. Masker Tetap Penting, Tapi Pilih Perlindungan yang Tepat
Walaupun artikel ini berfokus pada kulit, perlindungan pernapasan tetap tidak boleh diabaikan.
Abu vulkanik dapat mengganggu sistem pernapasan. CDC merekomendasikan respirator N95 yang disetujui NIOSH ketika harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu yang masuk ke dalam rumah. Respirator tersebut perlu terpasang rapat agar dapat memberikan perlindungan sebagaimana mestinya.
Jika kamu memiliki kondisi pernapasan seperti asma, kewaspadaan perlu ditingkatkan karena paparan abu dan gas vulkanik dapat memperburuk gejala.
Jadi, perlindungan ideal saat abu vulkanik menyebar sebenarnya merupakan kombinasi antara perlindungan kulit, mata, dan saluran pernapasan.
5. Bagaimana dengan Sunscreen Saat Ada Abu Vulkanik?
Pertanyaan ini cukup penting, terutama bagi orang yang sudah menjadikan sunscreen sebagai bagian dari rutinitas harian.
Jawabannya: sunscreen tetap diperlukan ketika kulit berpotensi terpapar sinar ultraviolet. Kehadiran awan atau abu di atmosfer tidak berarti paparan UV otomatis hilang. Dokter Arini juga menegaskan bahwa sunscreen tetap diperlukan dalam kondisi tersebut.
Namun, ada satu hal yang lebih penting: jangan mengoleskan ulang sunscreen di atas kulit yang masih dipenuhi abu.
Jika kulit sudah terkena banyak abu, bersihkan terlebih dahulu secara lembut, keringkan, kemudian aplikasikan kembali sunscreen.
Dengan kata lain, urutannya bukan:
abu menempel → langsung tambah sunscreen.
Tetapi:
bersihkan kulit → keringkan → aplikasikan sunscreen kembali.
Hal ini membantu mencegah partikel abu terus bergesekan dengan permukaan kulit ketika produk diratakan.
6. Saat Hujan Abu Deras, Lebih Baik Kurangi Aktivitas di Luar
Tidak semua kondisi dapat diatasi dengan menambah perlengkapan perlindungan.
Ketika hujan abu cukup berat, pilihan paling aman adalah mengurangi aktivitas di luar ruangan dan tetap berada di dalam rumah jika kondisi memungkinkan. Anjuran tersebut juga disampaikan dokter kulit yang dikutip Pikiran Rakyat.
CDC juga menyarankan masyarakat untuk tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup ketika abu vulkanik berada di udara.
Jadi, perlengkapan pelindung bukan alasan untuk tetap beraktivitas di luar jika sebenarnya tidak diperlukan.
7. Hati-Hati Saat Membersihkan Abu di Rumah
Risiko paparan dapat meningkat ketika proses pembersihan dilakukan tanpa persiapan.
Abu yang sudah mengendap bisa kembali beterbangan ketika disapu atau terganggu. Karena itu, kegiatan membersihkan lingkungan setelah hujan abu sebaiknya dilakukan dengan perlindungan yang sesuai.
CDC menyarankan penggunaan respirator N95 ketika membersihkan abu, selain perlindungan kulit dan mata.
Sebelum membersihkan area rumah, perhatikan pula kondisi lingkungan. Jika abu masih turun dengan intensitas tinggi atau ada peringatan dari otoritas, jangan memaksakan diri untuk melakukan pembersihan.
Kelompok yang Perlu Lebih Waspada
Tidak semua orang memiliki respons tubuh yang sama terhadap paparan abu vulkanik.
CDC menyebut anak-anak, orang dengan asma, serta mereka yang memiliki kondisi pernapasan atau jantung kronis termasuk kelompok yang berisiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan abu dan gas vulkanik.
Untuk kulit, perhatian ekstra juga diperlukan pada anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki eksim atau kulit sangat sensitif. Dokter Arini menyarankan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan apabila keluhan kulit tergolong berat atau tidak membaik setelah kulit dibersihkan.
Checklist Perlindungan Saat Abu Vulkanik Menyebar
Agar tidak ada yang terlewat, gunakan checklist sederhana sebelum keluar rumah:
-
Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang.
-
Pilih sepatu tertutup.
-
Gunakan sarung tangan ketika perlu membersihkan abu.
-
Lindungi mata dengan goggles.
-
Gunakan respirator yang sesuai, terutama N95 ketika harus berada di luar atau membersihkan abu.
-
Kurangi aktivitas luar ruangan saat hujan abu berat.
-
Jangan menggosok kulit yang sudah terkena abu.
-
Bersihkan kulit secara lembut sebelum mengoleskan kembali sunscreen.
-
Tutup pintu dan jendela ketika abu sedang menyebar.
-
Ikuti informasi serta instruksi dari otoritas setempat.
CDC menekankan bahwa masyarakat perlu mengikuti arahan otoritas setempat selama erupsi maupun setelahnya karena kondisi abu dan kualitas udara dapat berubah.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis?
Paparan ringan mungkin hanya menimbulkan rasa tidak nyaman pada kulit. Namun, jangan mengabaikan keluhan yang berat atau menetap.
Jika setelah paparan abu muncul iritasi kulit yang tidak membaik setelah dibersihkan, sebaiknya pertimbangkan pemeriksaan medis. Hal serupa berlaku ketika muncul gangguan pernapasan atau gejala lain yang menetap setelah menjauh dari area abu.
CDC menyarankan orang yang mengalami gejala setelah paparan untuk segera menjauh dari sumber paparan. Jika keluhan tetap berlanjut, hubungi tenaga kesehatan.
Lindungi Kulit, Bukan Sekadar Pakai Masker
Abu vulkanik memang sering dikaitkan dengan risiko gangguan pernapasan, tetapi perlindungan tubuh seharusnya dilakukan secara lebih menyeluruh.
Menutup kulit dengan pakaian yang sesuai, melindungi mata, menggunakan respirator yang tepat, mengurangi aktivitas di luar saat hujan abu berat, serta membersihkan abu dari kulit secara lembut merupakan langkah yang jauh lebih penting daripada sekadar menambah produk skincare.
Sunscreen pun tetap dapat digunakan ketika diperlukan, tetapi kulit harus dibersihkan terlebih dahulu jika sudah dipenuhi abu. Jangan sampai niat melindungi kulit justru membuat partikel abu terus bergesekan karena produk langsung dioleskan di atas permukaan yang kotor.
Pada kondisi erupsi, prinsip paling sederhana adalah kurangi paparan sebanyak mungkin dan ikuti arahan otoritas setempat. Perlindungan yang tepat bukan soal terlihat paling siap menghadapi abu, melainkan memastikan tubuh mendapatkan paparan sesedikit mungkin.