work-life balance
Burnout Jadi Istilah Populer di Kalangan Gen Z, Seberapa Tinggi Tingkat Stres Pekerja Indonesia?
Istilah burnout semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari, terutama di kalangan Gen Z dan pekerja muda. Kata tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan kondisi lelah secara fisik maupun mental akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung terus-menerus. Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin kompetitif, mulai dari target yang tinggi, beban kerja yang padat, hingga tantangan menjaga work-life balance, kesehatan mental menjadi isu yang semakin mendapat perhatian. Namun, apakah pekerja di Indonesia benar-benar mengalami tingkat stres yang tinggi? Temuan terbaru justru menunjukkan gambaran yang cukup berbeda dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Indonesia Masuk Negara dengan Tingkat Stres Kerja Relatif Rendah Laporan Gallup's State of the Global Workplace Report yang dirangkum oleh Seasia Stats memperlihatkan adanya perbedaan cukup besar terkait tingkat stres harian yang dialami pekerja di kawasan Asia Tenggara sepanjang 2026. Dalam survei tersebut, 14 persen pekerja di Indonesia mengaku mengalami stres setiap hari saat bekerja. Persentase itu menempatkan Indonesia di urutan kedelapan dari sembilan negara Asia Tenggara yang masuk dalam laporan. Posisi Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Vietnam yang mencatat angka terendah, yakni 13 persen. Meski tergolong rendah dibanding negara tetangga, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa sebagian pekerja Indonesia masih menghadapi tekanan psikologis dalam aktivitas sehari-hari. Filipina Catat Tingkat Stres Kerja Tertinggi di Asia Tenggara Berbeda dengan Indonesia, Filipina menjadi negara dengan tingkat stres kerja harian paling tinggi di kawasan. Sebanyak 50 persen pekerja di negara tersebut mengaku mengalami stres setiap hari. Posisi berikutnya ditempati Singapura dengan 43 persen, disusul Kamboja yang mencapai 34 persen. Sementara itu, Myanmar, Laos, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam berada di bawahnya dengan persentase yang bervariasi. Daftar Tingkat Stres Kerja Harian di Asia Tenggara 2026 Berikut persentase pekerja yang mengaku mengalami stres setiap hari berdasarkan laporan tersebut: Filipina: 50 persen Singapura: 43 persen Kamboja: 34 persen Myanmar: 30 persen Laos: 26 persen Thailand: 25 persen Malaysia: 20 persen Indonesia: 14 persen Vietnam: 13 persen Data tersebut memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar antarnegeri dalam menghadapi tekanan di lingkungan kerja. Mengapa Tingkat Stres Pekerja Berbeda di Setiap Negara? Perbedaan angka dalam laporan Gallup tidak selalu berarti kualitas lingkungan kerja di suatu negara lebih baik atau lebih buruk dibanding negara lain. Tingkat stres pekerja dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: Beban kerja dan target yang harus dicapai. Budaya organisasi di perusahaan. Tingkat kesejahteraan karyawan. Kondisi ekonomi dan biaya hidup. Dukungan terhadap kesehatan mental. Fleksibilitas jam kerja dan kebijakan perusahaan. Selain itu, faktor budaya juga dapat memengaruhi cara seseorang melaporkan kondisi emosionalnya. Di beberapa negara, pekerja mungkin lebih terbuka mengungkapkan stres, sementara di negara lain masih ada kecenderungan untuk menyimpannya. Burnout Tidak Sama dengan Stres Biasa Meski sering digunakan secara bergantian, burnout dan stres sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Stres biasanya muncul sebagai respons terhadap tekanan tertentu dan dapat berkurang setelah masalah terselesaikan. Sementara itu, burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang terjadi akibat stres berkepanjangan, terutama yang berkaitan dengan pekerjaan. Beberapa tanda burnout yang perlu diwaspadai antara lain: Merasa lelah hampir setiap hari. Sulit berkonsentrasi saat bekerja. Kehilangan motivasi atau semangat. Mudah marah atau frustrasi. Produktivitas terus menurun. Sulit memisahkan urusan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Apabila berlangsung dalam waktu lama, burnout dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun psikologis. Angka Rendah Bukan Berarti Indonesia Bebas dari Burnout Meski hanya mencatat 14 persen pekerja yang mengaku mengalami stres setiap hari, bukan berarti persoalan kesehatan mental di tempat kerja telah selesai. Masih banyak pekerja yang menghadapi tekanan akibat target kerja, lembur, ketidakpastian karier, hingga tuntutan untuk selalu produktif. Di sisi lain, meningkatnya kesadaran mengenai kesehatan mental membuat semakin banyak pekerja mulai berani membicarakan kondisi emosional mereka dan mencari bantuan ketika diperlukan. Karena itu, perusahaan tetap memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan suportif. Cara Mengurangi Risiko Burnout di Tempat Kerja Mencegah burnout membutuhkan upaya bersama dari perusahaan maupun pekerja. Beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko tersebut antara lain: Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Mengatur waktu istirahat secara konsisten. Berkomunikasi dengan atasan ketika beban kerja terlalu berat. Menetapkan batasan jam kerja agar tidak terus terhubung dengan pekerjaan. Meluangkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan di luar pekerjaan. Memanfaatkan layanan konseling atau dukungan psikologis jika diperlukan. Langkah-langkah sederhana tersebut dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus kesehatan mental dalam jangka panjang. Kesehatan Mental Kini Menjadi Bagian Penting Dunia Kerja Hasil survei mengenai tingkat stres pekerja di Asia Tenggara menunjukkan bahwa tekanan kerja masih menjadi tantangan di berbagai negara, meski tingkatnya berbeda-beda. Indonesia memang termasuk negara dengan persentase stres harian yang relatif rendah dibandingkan negara tetangga. Namun, kondisi tersebut tidak boleh membuat perhatian terhadap kesehatan mental berkurang. Di era kerja modern, produktivitas yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga oleh terciptanya lingkungan kerja yang sehat, komunikasi yang baik, serta dukungan terhadap kesejahteraan mental setiap pekerja.