petani
Gen Z Susah Cari Kerja? Profesi “Jadul” Ini Justru Diprediksi Jadi Pekerjaan Masa Depan
Bagi sebagian anak muda, menjadi petani mungkin bukan pilihan karier yang langsung terlintas ketika memikirkan masa depan. Profesi tersebut masih sering dikaitkan dengan sawah, lumpur, pekerjaan fisik, dan kehidupan pedesaan. Namun, gambaran itu perlahan mulai berubah. Di tengah kondisi ketika Gen Z susah cari kerja, perkembangan kecerdasan buatan atau AI justru membuat sejumlah profesi tradisional kembali mendapat perhatian. Salah satunya adalah petani. Profesi yang selama ini dianggap “jadul” ternyata memiliki prospek yang cukup menarik. Bahkan, sektor pertanian diproyeksikan menjadi salah satu bidang pekerjaan dengan pertumbuhan tinggi secara global hingga 2030. Laporan Future of Jobs Report 2025 yang dirilis World Economic Forum (WEF) menempatkan petani dan pekerja pertanian dalam kelompok profesi yang diperkirakan mengalami pertumbuhan tinggi. WEF memperkirakan sektor tersebut membutuhkan tambahan sekitar 35 juta pekerja dalam lima tahun mendatang. Angka itu menunjukkan paradoks menarik dalam perkembangan dunia kerja. Ketika berbagai perusahaan semakin mengandalkan otomatisasi dan AI, kebutuhan terhadap pekerjaan yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar manusia justru tetap meningkat. Mengapa Profesi Petani Bisa Menjadi Pekerjaan Masa Depan? Pertumbuhan populasi dunia menjadi salah satu alasan utama mengapa sektor pertanian tetap membutuhkan tenaga kerja. Semakin banyak manusia yang hidup di bumi, semakin besar pula kebutuhan terhadap pangan. Pada saat bersamaan, sektor pertanian harus menghadapi tantangan perubahan iklim, keterbatasan sumber daya, serta kebutuhan meningkatkan produktivitas. Situasi tersebut membuat regenerasi petani menjadi semakin penting. Presiden World Farmers' Organisation, Arnold Puech Pays d'Alissac, sebelumnya mengingatkan bahwa banyak petani akan memasuki masa pensiun. Kondisi tersebut membuka ruang bagi generasi muda untuk masuk dan meneruskan sektor pertanian. Dengan demikian, peluang di bidang pertanian bukan hanya muncul karena lapangan kerja baru, tetapi juga karena adanya kekosongan tenaga kerja akibat pergantian generasi. Dunia Tidak Bisa Berhenti Membutuhkan Pangan Persoalan pangan merupakan kebutuhan fundamental yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh tren teknologi. Jumlah penduduk dunia diperkirakan terus bertambah hingga mencapai sekitar 10,3 miliar orang pada 2080-an. Kenaikan populasi tersebut otomatis meningkatkan kebutuhan terhadap produksi pangan. World Resources Institute memperkirakan dunia perlu menutup food gap sekitar 56 persen pada 2050 agar pasokan makanan mampu memenuhi kebutuhan populasi global. Tantangannya semakin kompleks karena peningkatan produksi harus dilakukan di tengah tekanan perubahan iklim. Karena itu, petani masa depan tidak hanya dituntut mampu menanam dan memanen. Mereka juga akan berhadapan dengan teknologi, data, efisiensi produksi, hingga metode pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Petani Masa Depan Tidak Harus Identik dengan Cangkul Persepsi bahwa menjadi petani berarti harus mengandalkan tenaga fisik sepanjang hari juga mulai kurang relevan. Perkembangan smart farming memungkinkan teknologi digunakan untuk membantu berbagai tahapan produksi pertanian. Sensor dapat digunakan untuk memantau kondisi tanah, drone membantu mengawasi lahan, sementara sistem berbasis data dapat mendukung pengambilan keputusan terkait irigasi maupun pemupukan. Beberapa teknologi yang berpotensi semakin banyak digunakan dalam pertanian modern antara lain: sensor kelembapan dan kondisi tanah; drone untuk pemantauan lahan; sistem irigasi otomatis; aplikasi pengelolaan pertanian; teknologi prediksi cuaca; kecerdasan buatan untuk analisis data pertanian; otomatisasi sejumlah proses produksi. Artinya, generasi muda yang masuk ke sektor pertanian justru memiliki kesempatan untuk membawa profesi tersebut ke level yang lebih modern. Petani masa depan bisa saja sekaligus menjadi pengelola bisnis, pengguna teknologi, analis data, hingga pelaku pemasaran digital. Ketika AI Mengubah Dunia Kerja, Pasar Tradisional Justru Jadi Pilihan Perubahan dunia kerja akibat AI tidak hanya terlihat melalui laporan atau prediksi lembaga internasional. Fenomena tersebut juga tercermin dalam kisah Xu Peng, aktor asal China berusia 30 tahun. Sebelumnya, Xu dikenal melalui berbagai drama pendek dan kerap mendapatkan peran sebagai karakter CEO. Ia bahkan pernah menjalani proses produksi dengan jadwal sangat padat, mencapai 15–16 jam syuting dalam sehari. Namun, perkembangan teknologi membuat industri yang menjadi sumber penghasilannya mengalami perubahan cepat. Ketika AI mulai digunakan secara masif dalam produksi drama pendek di China, kebutuhan terhadap tenaga manusia di industri tersebut ikut berubah. Xu akhirnya kehilangan pekerjaannya sebagai aktor dan memilih kembali ke kampung halaman di Provinsi Shandong. Keputusan tersebut membawanya ke aktivitas yang sangat berbeda dari dunia hiburan. Dari Aktor Menjadi Pedagang Sayur Setelah meninggalkan Hengdian, salah satu pusat industri film dan televisi China, Xu mulai membantu kakeknya berjualan sayuran di pasar tradisional. Setiap hari, hasil panen keluarga dibawa menggunakan kendaraan listrik menuju pasar. Xu kemudian ikut menjual sayuran di bawah terik matahari. Jika dibandingkan dengan kehidupan sebagai aktor, pekerjaan tersebut tentu terlihat sangat berbeda. Namun, justru di situlah terdapat gambaran menarik mengenai ketahanan sejumlah profesi tradisional. Pekerjaan Xu tidak bergantung pada tren drama pendek, algoritma platform digital, atau kemampuan AI menghasilkan konten. Selama masyarakat masih membutuhkan makanan, aktivitas produksi dan distribusi pangan akan tetap memiliki tempat. Apa yang Bisa Dipelajari Gen Z? Kisah tersebut dapat menjadi pengingat bahwa memilih pekerjaan tidak selalu harus berdasarkan gengsi atau popularitas sebuah profesi. Bagi Gen Z susah cari kerja, melihat sektor yang selama ini kurang dilirik justru dapat membuka perspektif baru. Pertanian, misalnya, dapat dikembangkan menjadi bisnis modern dengan memanfaatkan teknologi dan strategi pemasaran digital. Ada beberapa peluang yang dapat dikembangkan generasi muda di sektor pertanian: Urban farming – memanfaatkan lahan terbatas untuk menghasilkan sayuran atau tanaman pangan. Agritech – mengembangkan atau menggunakan teknologi untuk meningkatkan efisiensi pertanian. Peternakan modern – menggabungkan sistem otomatisasi dan pengelolaan data. Bisnis hasil pertanian – mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah. Pemasaran digital – menjual hasil pertanian secara langsung melalui marketplace dan media sosial. Agrowisata – menggabungkan kegiatan pertanian dengan sektor pariwisata. Dengan model seperti ini, menjadi petani tidak selalu berarti hanya bekerja sebagai tenaga produksi. Ada peluang untuk membangun usaha, merek, jaringan distribusi, dan bahkan perusahaan berbasis teknologi. Profesi “Jadul” Belum Tentu Kehilangan Masa Depan Perkembangan AI memang akan mengubah banyak pekerjaan. Sejumlah tugas yang sebelumnya dilakukan manusia dapat menjadi otomatis, sementara profesi baru juga akan bermunculan. Namun, perubahan tersebut tidak berarti seluruh pekerjaan tradisional kehilangan relevansi. Justru sebaliknya, sektor yang berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia berpotensi tetap memiliki permintaan tinggi. Pangan merupakan salah satu kebutuhan tersebut. Petani juga dapat menjadi bagian dari transformasi teknologi. Generasi baru tidak harus mengulang pola pertanian puluhan tahun lalu. Mereka dapat menggabungkan pengetahuan bertani dengan AI, sensor, drone, otomatisasi, analisis data, dan pemasaran digital. Pada akhirnya, pertanyaan tentang pekerjaan masa depan mungkin bukan hanya mengenai profesi mana yang terlihat paling modern. Pertanyaan yang lebih penting adalah pekerjaan apa yang tetap dibutuhkan manusia ketika teknologi berkembang semakin cepat? Salah satu jawabannya bisa jadi justru profesi yang selama ini dianggap sederhana: petani. Di tengah kondisi Gen Z susah cari kerja, sektor pertanian menawarkan sebuah peluang yang menarik. Dunia membutuhkan lebih banyak pangan, sementara generasi petani lama perlahan memasuki masa pensiun. Jika teknologi ikut dimanfaatkan, profesi petani bahkan dapat berubah menjadi salah satu ladang cuan dan pekerjaan masa depan yang lebih modern.