Paskibraka
Husein Mutahar, Pencipta Lagu Hari Merdeka dan Sosok Penting di Balik Paskibraka
Setiap 17 Agustus, suasana perayaan kemerdekaan Indonesia hampir selalu diramaikan oleh lagu-lagu perjuangan. Salah satu yang paling mudah dikenali adalah “Hari Merdeka”, dengan lirik pembuka yang begitu melekat di ingatan masyarakat: “Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita.” Lagu tersebut bukan sekadar pengiring perayaan HUT RI. Di balik irama mars yang membangkitkan semangat itu terdapat sosok Husein Mutahar, seorang komponis, pejuang, birokrat, sekaligus tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah upacara kemerdekaan Indonesia. Menariknya, kiprah Mutahar tidak berhenti pada dunia musik. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam merintis sistem pengibaran Bendera Pusaka yang kemudian berkembang menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Husein Mutahar dan Lahirnya Lagu Hari Merdeka Husein Mutahar lahir di Semarang pada 5 Agustus 1916. Sepanjang hidupnya, ia dikenal memiliki perhatian besar terhadap musik dan kebangsaan. Lagu “Hari Merdeka” yang diciptakannya pertama kali diperkenalkan pada 1946. Lagu tersebut kemudian menjadi salah satu karya patriotik yang terus dinyanyikan dalam berbagai momentum nasional. Karya Mutahar tidak hanya terbatas pada “Hari Merdeka”. Ia juga menciptakan “Syukur” pada 1944, “Dirgahayu Indonesia”, Himne Universitas Indonesia, serta sejumlah karya lain yang menggambarkan semangat kebangsaan dan kecintaannya terhadap Indonesia. Popularitas “Hari Merdeka” pun bertahan melewati berbagai generasi. Pada 1998, lagu tersebut direkam kembali dalam album Simfoni Negeriku dengan aransemen yang lebih megah. Prosesnya melibatkan Addie M.S. bersama Victoria Philharmonic Orchestra, serta aransemen Singgih Sanjaya bersama Twilite Orchestra and Chorus. Kemudian pada 2006, lagu tersebut kembali dibawakan dalam album Kumpulan Lagu Wajib melalui kolaborasi penyanyi cilik Lidya Lau dan Surya Children Choir. Bukan Cuma Musisi, Mutahar Juga Punya Peran dalam Sejarah Paskibraka Nama Husein Mutahar juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah Paskibraka. Perannya bermula ketika Mutahar dipercaya menjadi ajudan pribadi Presiden Soekarno. Pada masa revolusi, pusat pemerintahan Indonesia sempat berada di Yogyakarta karena situasi keamanan di Jakarta. Pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1946, Soekarno memberikan tugas kepada Mutahar untuk mempersiapkan pelaksanaan upacara. Dalam kondisi serba terbatas, Mutahar memiliki gagasan agar pengibaran Bendera Pusaka dilakukan oleh para pemuda dan pemudi yang mewakili berbagai daerah Indonesia. Namun, keterbatasan situasi saat itu membuat gagasan tersebut belum dapat diwujudkan sepenuhnya. Sebagai gantinya, ia memilih lima pemuda di Yogyakarta untuk menjadi petugas upacara. Formasi tersebut terdiri atas dua laki-laki dan tiga perempuan serta dimaknai sebagai simbol lima sila Pancasila. Mutahar juga disebut merancang pakaian petugas dengan mengambil inspirasi dari gaya pakaian militer yang kerap dikenakan Soekarno. Formasi 17-8-45 yang Menjadi Cikal Bakal Paskibraka Gagasan Mutahar mengenai pengibaran Bendera Pusaka kemudian mengalami perkembangan. Pada 1967, Presiden Soeharto kembali memberikan kepercayaan kepada Mutahar untuk menyusun tata laksana upacara pengibaran bendera. Dari sinilah formasi Paskibraka kemudian dikembangkan menjadi tiga kelompok yang menyimbolkan tanggal kemerdekaan Indonesia, yaitu 17-8-45. Pembagian tersebut terdiri atas: Kelompok 17, berperan sebagai kelompok pemandu. Kelompok 8, menjadi pasukan inti pembawa dan pengibar bendera. Kelompok 45, bertugas sebagai kelompok pengawal. Para anggota direkrut dari kalangan kepanduan atau Pramuka di ibu kota. Konsep tersebut kemudian menjadi bagian dari tradisi upacara kemerdekaan yang terus dikenal masyarakat Indonesia. Dengan demikian, ketika masyarakat menyaksikan Paskibraka menjalankan tugas pada setiap 17 Agustus, ada sejarah panjang yang ikut berada di balik formasi tersebut. Jejak Perjuangan Mutahar Tidak Hanya di Musik Sebelum dikenal sebagai komponis dan tokoh pemerintahan, Mutahar juga pernah terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Ia tercatat ikut dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Setelah itu, perjalanan kariernya berkembang di lingkungan pemerintahan dan militer. Mutahar pernah menjabat sebagai Sekretaris Panglima Angkatan Laut RI pada 1945 dan kemudian menduduki sejumlah posisi penting di lingkungan Sekretariat Negara. Kariernya juga berlanjut ke bidang diplomasi. Ia dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan pada 1969–1973. Setelah itu, ia masih menjalankan tugas pemerintahan hingga dipercaya menjadi Penjabat Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri pada 1974. Dari Lagu hingga Upacara, Warisannya Masih Terasa Kiprah Husein Mutahar memperlihatkan bahwa kontribusi seseorang terhadap bangsa tidak selalu hadir dalam satu bidang saja. Ia meninggalkan karya melalui musik sekaligus memberikan gagasan yang kemudian berkembang dalam tradisi upacara kemerdekaan. Sejumlah penghargaan juga diberikan kepadanya, termasuk Bintang Mahaputra dan Bintang Gerilya. Ia turut mendapatkan pengakuan atas kiprahnya dalam dunia kepanduan. Bagi generasi sekarang, sosok Husein Mutahar dapat dikenang bukan hanya sebagai pencipta lagu “Hari Merdeka”. Ia merupakan bagian dari sejarah yang menghubungkan musik perjuangan, kepanduan, upacara kemerdekaan, dan perjalanan awal Republik Indonesia. Setiap kali lagu “Hari Merdeka” kembali berkumandang pada 17 Agustus, liriknya bukan hanya mengingatkan masyarakat pada tanggal Proklamasi. Lagu tersebut juga menjadi pengingat bahwa di balik tradisi kemerdekaan yang kini terasa akrab, terdapat karya dan pengabdian tokoh-tokoh yang ikut membentuk perjalanan Indonesia.