kolesterol LDL
6 Metode Seduh Kopi yang Bisa Menaikkan Kolesterol LDL, Espresso Bukan yang Tertinggi
Bagi banyak orang, kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Namun, selain jenis biji dan jumlah kopi yang diminum, metode seduh kopi ternyata juga dapat memengaruhi jumlah senyawa tertentu yang masuk ke dalam tubuh. Perhatian khusus diberikan pada metode yang tidak menggunakan filter kertas. Dalam proses tersebut, minyak alami kopi yang mengandung senyawa diterpen, terutama cafestol dan kahweol, lebih banyak terbawa ke dalam minuman. Kedua senyawa tersebut diketahui dapat meningkatkan kadar kolesterol, termasuk kolesterol LDL. Kondisi ini terutama perlu diperhatikan oleh orang yang sudah memiliki kadar LDL tinggi atau faktor risiko penyakit kardiovaskular. Bukan berarti semua kopi harus dihindari, tetapi cara penyeduhan dan jumlah konsumsi dapat menjadi pertimbangan. Lantas, metode seduh kopi mana yang paling berpotensi meningkatkan kolesterol LDL? Berikut urutannya berdasarkan kandungan diterpen yang dilaporkan dalam penelitian. 1. Kopi Turki atau Kopi Rebus Paling Tinggi Kopi Turki menempati posisi teratas karena proses pembuatannya tidak melewati penyaringan menggunakan kertas. Bubuk kopi dan air dipanaskan secara perlahan hingga mendidih sehingga minyak kopi beserta diterpen tetap berada dalam minuman. Dalam penelitian yang dikutip, satu cangkir kopi ala Turki dapat mengandung sekitar 5,3 miligram cafestol dan 5,4 miligram kahweol. Bahkan, kopi rebus ala Skandinavia dilaporkan dapat memiliki kandungan hingga sekitar 7,2 miligram cafestol dan kahweol per cangkir. Dampaknya juga pernah diamati dalam penelitian. Konsumsi empat hingga enam cangkir kopi rebus setiap hari selama sembilan minggu pada studi 1989 dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol serum, termasuk LDL, sekitar 10 persen. Perubahan serupa tidak ditemukan pada kelompok yang mengonsumsi kopi dengan metode penyaringan. 2. French Press, Nikmat tetapi Perlu Diperhatikan French press menjadi metode berikutnya yang perlu diperhatikan. Berbeda dengan kopi saring, metode ini menggunakan plunger dengan saringan logam. Saringan tersebut tidak mampu menahan minyak kopi sebanyak filter kertas. Akibatnya, cafestol dan kahweol masih dapat masuk ke dalam cangkir. Sebuah penelitian pada 1996 menemukan kandungan sekitar 3,5 miligram cafestol dan 4,4 miligram kahweol per cangkir kopi French press. Penelitian lain pada 2000 juga menemukan konsumsi kopi French press selama 12 minggu berkaitan dengan perubahan aktivitas cholesteryl ester transfer protein (CETP), yaitu protein yang berperan dalam perpindahan kolesterol dan lemak dalam darah. Karena itu, bagi orang yang sedang mengontrol LDL, konsumsi kopi French press dalam jumlah besar sebaiknya tidak dilakukan secara berlebihan. 3. Espresso Ternyata Bukan yang Paling Berisiko Banyak orang mungkin mengira espresso otomatis menjadi pilihan paling berisiko karena rasanya lebih pekat dan dibuat tanpa filter kertas. Kenyataannya, kandungan diterpen espresso berada di bawah kopi Turki dan French press. Espresso dibuat dengan mendorong air panas bertekanan tinggi melewati bubuk kopi yang sangat halus. Meski tidak menggunakan filter kertas, jumlah diterpen yang masuk dalam satu sajian relatif lebih rendah. Data yang dikutip menunjukkan satu cangkir espresso mengandung sekitar 1,5 miligram cafestol dan 1,8 miligram kahweol. Namun, bukan berarti espresso dapat dikonsumsi tanpa memperhatikan jumlahnya. Konsumsi minuman berbasis espresso dalam jumlah lebih tinggi juga pernah dikaitkan dengan kadar kolesterol yang lebih tinggi dalam penelitian observasional. Jadi, yang Perlu Diperhatikan Bukan Hanya Jenis Kopinya Secangkir espresso dan segelas besar minuman berbasis espresso tentu menghasilkan paparan yang berbeda. Tambahan susu, gula, krimer, atau sirup juga dapat mengubah profil nutrisi minuman secara keseluruhan. Karena itu, ketika membicarakan kopi dan kolesterol, jumlah konsumsi, ukuran sajian, serta metode seduh sama-sama perlu diperhatikan. 4. Moka Pot Masih Mengandung Diterpen Moka pot juga menggunakan sistem penyaringan berbahan logam, bukan filter kertas. Bubuk kopi ditempatkan pada bagian saringan, kemudian air panas didorong melewatinya ketika alat dipanaskan. Karena tidak menggunakan filter kertas, sebagian minyak kopi masih dapat masuk ke dalam minuman. Meski begitu, kandungan diterpennya dilaporkan lebih rendah daripada kopi Turki dan French press. Dalam data yang dikutip, satu cangkir kopi moka pot mengandung sekitar 1,1 miligram cafestol dan 1,4 miligram kahweol. Artinya, pencinta moka pot tidak otomatis harus berhenti minum kopi. Yang lebih penting adalah memperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsinya sebagai bagian dari pola makan secara keseluruhan. 5. Kopi Instan Memiliki Kandungan Diterpen Rendah Kopi instan justru berada di kelompok yang lebih rendah dalam hal kandungan cafestol dan kahweol. Penelitian yang dikutip memperkirakan satu cangkir kopi instan mengandung sekitar 0,2 miligram cafestol dan 0,2 miligram kahweol. Rendahnya kadar tersebut berkaitan dengan proses pengolahan kopi instan yang menghilangkan sebagian besar minyak kopi. Menariknya, penelitian berbasis data UK Biobank yang dipublikasikan pada 2022 menemukan bahwa konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi per hari, termasuk kopi instan dan kopi bubuk, berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian yang lebih rendah dibandingkan tidak minum kopi. Namun, hasil tersebut merupakan penelitian observasional. Artinya, temuan tersebut belum dapat membuktikan bahwa konsumsi kopi secara langsung menyebabkan risiko penyakit menjadi lebih rendah. 6. Pour Over dengan Filter Kertas Jadi Pilihan Lebih Ramah LDL Bagi orang yang ingin tetap menikmati kopi sekaligus mengurangi paparan cafestol dan kahweol, pour over dengan filter kertas dapat menjadi salah satu pilihan menarik. Pada metode ini, air panas dituangkan secara perlahan ke bubuk kopi yang berada di atas filter kertas. Filter tersebut membantu menahan sebagian besar minyak kopi sehingga lebih sedikit diterpen yang masuk ke dalam minuman. Data yang dikutip menunjukkan kandungan sekitar 0,1 miligram cafestol dan 0,1 miligram kahweol per cangkir. Perbedaan tersebut cukup besar jika dibandingkan dengan metode tanpa filter kertas, terutama kopi Turki dan French press. Mana Metode Seduh Kopi yang Sebaiknya Dipilih? Jika fokus utama adalah mengurangi paparan senyawa kopi yang dapat meningkatkan LDL, metode dengan filter kertas menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan. Secara sederhana, urutannya berdasarkan kandungan diterpen yang disebutkan dalam data di atas adalah: Kopi Turki/kopi rebus: paling tinggi. French press: tinggi. Espresso: lebih rendah dibandingkan dua metode di atas. Moka pot: relatif lebih rendah. Kopi instan: sangat rendah. Pour over dengan filter kertas: paling rendah dalam daftar ini. Namun, urutan tersebut bukan berarti seseorang harus langsung menghindari metode tertentu. Efek terhadap kadar kolesterol juga dipengaruhi oleh seberapa banyak kopi dikonsumsi, frekuensi minum, pola makan, kondisi kesehatan, dan faktor risiko individu. Tips Minum Kopi bagi yang Sedang Menjaga Kolesterol Beberapa langkah sederhana yang dapat dipertimbangkan: Pilih kopi dengan filter kertas jika ingin mengurangi cafestol dan kahweol. Perhatikan jumlah cangkir per hari, terutama jika memiliki kadar LDL tinggi. Batasi tambahan gula, krimer, dan sirup yang dapat meningkatkan asupan kalori. Jangan hanya melihat jenis kopi, tetapi perhatikan juga ukuran sajian dan frekuensinya. Periksa kadar kolesterol secara berkala jika memiliki riwayat kolesterol tinggi atau faktor risiko penyakit jantung. Pada akhirnya, metode seduh kopi memang dapat memengaruhi kandungan diterpen dalam minuman, tetapi kesehatan jantung tidak ditentukan oleh satu cangkir kopi saja. Pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, berat badan, kualitas tidur, dan faktor kesehatan lainnya juga memiliki peran penting. Bagi pencinta kopi yang sedang menjaga kadar kolesterol LDL, mengganti metode seduh tanpa filter dengan kopi yang menggunakan filter kertas dapat menjadi salah satu langkah sederhana tanpa harus sepenuhnya meninggalkan kebiasaan minum kopi.