Jill Roberts
Pakar Penyakit Menular Ungkap Kebiasaan Bersih yang Sebenarnya Tak Perlu Berlebihan
Menjaga kebersihan memang penting untuk mengurangi risiko infeksi. Namun, bukan berarti setiap benda, pakaian, atau permukaan harus terus-menerus dibersihkan hingga steril. Para pakar penyakit menular justru menilai bahwa terlalu fokus pada hal yang sebenarnya berisiko rendah dapat membuat seseorang kelelahan dan cemas tanpa memberikan perlindungan kesehatan yang berarti. Jill Roberts, ahli epidemiologi molekuler sekaligus profesor di University of South Florida College of Public Health, memiliki pengalaman menarik saat mengajarkan mahasiswanya tentang risiko mikroba. Setiap tahun, Roberts meminta mahasiswa mengambil sampel usap dari benda yang dianggap paling kotor di lingkungan kampus. Sebagian besar mahasiswa langsung memilih kamar mandi. Namun, hasilnya justru sering mengarah pada tempat yang tidak mereka duga, seperti laboratorium komputer. Kondisi tersebut dapat dijelaskan karena kamar mandi biasanya dibersihkan secara rutin, sedangkan benda yang disentuh banyak orang, seperti keyboard komputer, belum tentu mendapat perhatian yang sama. Dari sini terlihat bahwa sesuatu yang tampak menjijikkan belum tentu menjadi sumber risiko penyakit terbesar. Sebaliknya, benda yang terlihat biasa saja bisa menjadi media perpindahan mikroorganisme jika sering disentuh banyak orang. Kebersihan Bukan Berarti Harus Serba Steril Dalam kehidupan sehari-hari, tubuh manusia memang terus bersentuhan dengan berbagai mikroorganisme. Tidak semuanya berbahaya. Bahkan, sebagian mikroba merupakan bagian dari ekosistem alami tubuh dan memiliki fungsi tertentu. Karena itu, para pakar penyakit menular cenderung menggunakan pendekatan manajemen risiko. Fokusnya bukan menghilangkan seluruh mikroorganisme dari lingkungan, melainkan memprioritaskan tindakan yang benar-benar memberikan manfaat kesehatan. Berikut beberapa kebiasaan yang menurut para ahli tidak perlu dilakukan secara berlebihan. 1. Tidak Perlu Mengelap Semua Permukaan Setiap Saat Dr. Peter Chin-Hong, spesialis penyakit menular dari University of California, San Francisco, lebih memilih memperhatikan kualitas udara dibandingkan terus-menerus membersihkan setiap permukaan. Bukan berarti kebersihan permukaan tidak penting. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), misalnya, tetap merekomendasikan pembersihan permukaan dapur yang terkena daging mentah. Namun, membersihkan setiap gagang pintu atau meja tanpa henti bukanlah prioritas utama dalam semua situasi. Menurut Chin-Hong, memperbaiki ventilasi, seperti membuka jendela ketika ada tamu, dapat menjadi langkah yang lebih berarti untuk mengurangi risiko penularan penyakit melalui udara. Kapan Permukaan Perlu Mendapat Perhatian Lebih? Pembersihan lebih penting dilakukan ketika permukaan: terkena cairan tubuh; bersentuhan dengan daging atau bahan makanan mentah; sering disentuh banyak orang; terlihat kotor; digunakan oleh seseorang yang sedang sakit. Dengan pendekatan tersebut, waktu dan tenaga dapat difokuskan pada area yang memang memiliki risiko lebih besar. 2. Seprai Tidak Harus Selalu Dicuci Setiap Minggu Rutinitas mencuci seprai setiap minggu memang dapat dilakukan jika sesuai dengan kebiasaan pribadi. Namun, apabila jadwal tersebut sesekali berubah menjadi dua minggu sekali, Roberts menilai orang sehat tidak perlu langsung merasa bersalah. Tempat tidur bukan otomatis menjadi sumber utama penyakit menular. Manusia juga tidak hidup dalam lingkungan yang benar-benar steril. Meski demikian, frekuensi mencuci seprai dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Orang yang banyak berkeringat, memiliki alergi tertentu, atau mengalami kondisi kulit tertentu mungkin membutuhkan rutinitas pencucian yang berbeda. 3. Sabun Antibakteri Bukan Keharusan Untuk menjaga kebersihan tangan, sabun biasa sebenarnya sudah dapat digunakan secara efektif. Karena itu, Chin-Hong tidak secara khusus mencari produk dengan label antibakteri. Yang jauh lebih penting adalah kapan tangan dicuci dan bagaimana prosesnya dilakukan. Beberapa waktu penting untuk mencuci tangan antara lain: sebelum makan; setelah menggunakan toilet; setelah memegang bahan makanan mentah; setelah merawat orang sakit; setelah tangan terlihat atau terasa kotor. Artinya, konsistensi mencuci tangan lebih penting daripada sibuk mencari produk dengan kandungan tambahan tertentu. 4. Jaket Tidak Harus Dicuci Setiap Kali Dipakai Pakaian luar seperti jaket biasanya tidak bersentuhan langsung dengan kulit sepanjang waktu. Karena itu, mencucinya setiap kali selesai digunakan tidak selalu diperlukan. Kondisinya berbeda dengan pakaian yang menyerap banyak keringat, terutama kaus kaki. Area yang hangat dan lembap dapat menjadi lingkungan yang lebih mendukung pertumbuhan jamur. Daripada menerapkan aturan yang sama pada seluruh jenis pakaian, lebih baik melihat seberapa sering pakaian digunakan, apakah terkena keringat, kotoran, atau cairan, serta bagaimana pakaian tersebut disimpan. 5. Sushi Tidak Harus Dihindari Selamanya Dr. Heidi Torres dari Weill Cornell Medicine tidak menganggap sushi atau beef tartare harus otomatis dihindari. Namun, pilihan tempat makan menjadi faktor penting ketika seseorang mengonsumsi makanan mentah atau setengah matang. Memilih restoran dengan reputasi baik, memperhatikan standar kebersihan, serta memastikan makanan disimpan dan disajikan dengan baik dapat membantu mengurangi risiko. Meski demikian, makanan mentah tetap membawa risiko infeksi yang lebih tinggi dibandingkan makanan yang dimasak matang. Karena itu, orang yang sedang hamil, memiliki daya tahan tubuh rendah, atau termasuk kelompok rentan sebaiknya lebih berhati-hati dan mengikuti anjuran tenaga kesehatan. 6. Tak Perlu Takut Berlebihan Mencoba Kuliner Lokal Berwisata ke negara atau daerah baru sering membuat seseorang khawatir terhadap keamanan makanan dan air. Dr. Daniel Griffin, kepala divisi penyakit menular di Island Infectious Disease Medical, justru mengambil pendekatan dengan melakukan persiapan sebelum bepergian. Bagi wisatawan, langkah pencegahan dapat dilakukan dengan: memastikan vaksinasi sesuai kebutuhan perjalanan; mencari informasi mengenai penyakit yang umum di destinasi; memahami keamanan air minum; memilih makanan yang diolah dengan baik; berhati-hati terhadap makanan mentah jika kondisi sanitasi tidak jelas. Dengan persiapan tersebut, kewaspadaan tetap terjaga tanpa harus membuat perjalanan dipenuhi rasa takut. 7. Tote Bag Tidak Harus Langsung Dicuci Setiap Kali Dipakai Tas belanja berbahan kain memang dapat terkontaminasi kotoran atau mikroorganisme. Namun, jika penggunaannya terbatas dan bahan makanan dikemas dengan baik, tas tersebut tidak harus langsung dicuci setiap selesai berbelanja. Situasinya tentu berbeda apabila tote bag terkena cairan dari daging mentah atau bahan makanan lain. Dalam kondisi tersebut, tas sebaiknya segera dibersihkan. Roberts menyarankan penggunaan tas kain yang mudah dicuci untuk membawa bahan makanan sehingga pengguna tidak perlu terlalu khawatir apabila tas menjadi kotor. 8. Ponsel Tidak Perlu Didisinfeksi Setiap Malam Ponsel memang sering berpindah dari tangan ke berbagai tempat sehingga permukaannya dapat mengandung mikroorganisme, termasuk bakteri seperti E. coli. Namun, Dr. Ashley Drews dari Houston Methodist mengaku tidak membersihkan ponselnya setiap malam. Pendekatan yang lebih sederhana adalah memperhatikan kondisi perangkat. Ketika layar atau bagian permukaan ponsel mulai terlihat kotor, barulah dilakukan pembersihan menggunakan bahan yang sesuai dengan perangkat, seperti tisu beralkohol atau kain bersih. Kebiasaan tersebut juga lebih realistis untuk dilakukan secara konsisten dibandingkan membuat jadwal disinfeksi yang terlalu ketat. Yang Penting Bukan Menghilangkan Risiko hingga Nol Salah satu kesalahan dalam menjaga kebersihan adalah menganggap setiap aktivitas harus berada dalam kategori "aman 100 persen" atau "berbahaya". Dalam kenyataannya, hampir semua aktivitas memiliki tingkat risiko tertentu. Para pakar penyakit menular lebih menekankan pada mengurangi risiko yang signifikan daripada berusaha menghilangkan seluruh risiko dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, mencuci tangan setelah menggunakan toilet memberikan manfaat yang jelas. Begitu pula dengan menjaga ventilasi ruangan dan memperhatikan keamanan makanan. Sebaliknya, mengelap ponsel berkali-kali sehari atau merasa bersalah karena terlambat mencuci seprai belum tentu memberikan manfaat yang sebanding. Fokus pada Kebiasaan yang Memberikan Dampak Pendekatan sederhana yang bisa diterapkan adalah membagi kebiasaan kebersihan menjadi tiga kategori: Prioritas tinggi mencuci tangan pada waktu yang tepat; menjaga keamanan makanan; membersihkan permukaan yang terkena bahan mentah; menjaga ventilasi; mengikuti vaksinasi sesuai kebutuhan. Dilakukan sesuai kondisi mencuci pakaian tertentu; membersihkan ponsel; mencuci tote bag; membersihkan permukaan rumah. Tidak perlu dilakukan secara obsesif mengejar kondisi rumah yang benar-benar steril; membersihkan setiap benda setiap saat; menghindari seluruh makanan atau aktivitas hanya karena kemungkinan adanya mikroba. Pada akhirnya, menjaga kebersihan bukan berarti harus hidup dalam lingkungan yang steril. Kunci kesehatan justru terletak pada kemampuan mengenali risiko yang benar-benar penting dan mengambil langkah pencegahan secara proporsional. Dengan begitu, kebersihan tetap terjaga tanpa membuat aktivitas sehari-hari dipenuhi rasa cemas terhadap kuman.