Hasil Pencarian

Institut Drawing Bandung

Pameran Merespons Kenangan di Bandung Tampilkan Karya 14 Seniman yang Terinspirasi Artefak Vintage

Sebuah benda lama sering kali menyimpan cerita yang tidak lekang oleh waktu. Peralatan rumah tangga, mesin ketik, radio lawas, hingga berbagai artefak tradisional bukan sekadar benda koleksi, melainkan juga menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini. Gagasan inilah yang diangkat dalam pameran kolektif Merespons Kenangan, yang menghadirkan karya-karya 14 seniman dari Institut Drawing Bandung. Pameran yang berlangsung di Studio Rosid, Jalan Cigadung Raya Tengah, Kota Bandung, pada 13–31 Juli 2026 tersebut mengajak pengunjung menikmati dialog antara seni drawing dengan benda-benda vintage yang telah menjadi bagian dari sejarah kehidupan masyarakat. Melalui pendekatan yang beragam, para seniman mencoba menafsirkan ulang kenangan, memori, serta nilai budaya yang terkandung dalam setiap artefak. Hasilnya bukan sekadar pameran gambar, melainkan pengalaman visual yang menghubungkan sejarah, ruang, dan ekspresi artistik dalam satu kesatuan. Studio Rosid Disulap Menjadi Ruang Dialog Seni dan Memori Kurator pameran sekaligus seniman, Isa Perkasa, menjelaskan bahwa Studio Rosid memiliki koleksi benda-benda lawas yang tersusun di berbagai sudut ruangan. Keberadaan artefak tersebut menghadirkan suasana layaknya museum mini yang menyimpan beragam jejak kehidupan masa lampau. Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk mengabadikan koleksi tersebut melalui foto maupun media sosial. Namun, bagi Institut Drawing Bandung, koleksi vintage tersebut justru menjadi tantangan kreatif. Alih-alih hanya memanfaatkan ruang sebagai lokasi pameran, para seniman memilih membangun dialog visual melalui karya drawing yang merespons keberadaan benda-benda tersebut. "Kami ingin merespons kenangan melalui karya drawing, bukan sekadar memajang karya di antara benda-benda lama," ungkap Isa. Lebih dari Sekadar Memindahkan Karya ke Ruang Pamer Menurut Isa Perkasa, proses kurasi dalam pameran ini tidak dilakukan secara sederhana. Setiap karya ditempatkan dengan mempertimbangkan hubungan visual, simbolik, dan naratif terhadap artefak yang berada di sekitarnya. Dengan demikian, kehadiran karya drawing tidak hanya menjadi pelengkap ruangan, tetapi mampu membangun makna baru melalui kontras maupun keselarasan dengan benda-benda peninggalan masa lalu. Ia juga menilai bahwa medium drawing memiliki karakter tersendiri yang tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan karya seni lain maupun benda-benda fungsional modern. Melalui pameran ini, para seniman diajak kembali merefleksikan bagaimana akar tradisi masih dapat menjadi sumber inspirasi dalam praktik seni kontemporer. Beragam Medium dan Pendekatan Artistik Mayoritas anggota Institut Drawing Bandung dikenal berkarya menggunakan medium konvensional. Beberapa media yang digunakan antara lain: Pensil grafit. Charcoal. Bolpoin. Cat air di atas kertas. Meski demikian, eksplorasi yang dihadirkan tidak berhenti pada teknik menggambar realistis. Para peserta juga menghadirkan berbagai pendekatan kreatif, seperti: Menggambar artefak dan suasana ruang. Instalasi berbasis drawing. Karya abstrak. Figur manusia. Eksplorasi simbol visual. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa drawing memiliki kemungkinan ekspresi yang sangat luas dan mampu beradaptasi dengan berbagai konteks ruang. Menghadirkan Ruang Percakapan antara Seniman dan Artefak Seniman sekaligus pegiat Institut Drawing Bandung, Anton Susanto, menyebut pameran ini sebagai ruang dialog yang mempertemukan tiga unsur utama, yaitu gagasan seniman, artefak budaya, dan perkembangan drawing masa kini. Menurutnya, setiap peserta diberi kebebasan untuk mengeksplorasi tema kenangan sesuai pendekatan artistik masing-masing. Hasilnya, setiap karya menghadirkan sudut pandang yang berbeda terhadap benda-benda vintage yang memenuhi ruang Studio Rosid. Ragam Interpretasi dari Para Seniman Keunikan pameran semakin terasa karena setiap seniman mengolah tema dengan cara yang berbeda. Beberapa di antaranya adalah: Ferry Curtis Ferry Curtis mengembangkan konsep drawing melalui pendekatan teks yang kemudian dialihwahanakan menjadi karya musik. Pendekatan lintas disiplin tersebut memperlihatkan bahwa drawing tidak selalu berhenti pada media visual semata. Yoyo Hartanto, Setiyono Wibowo, dan Yus R. Arwadinata Ketiga seniman tersebut lebih memilih mengeksplorasi benda-benda artefak melalui teknik cat air. Objek-objek vintage serta suasana Studio Rosid diterjemahkan ke dalam karya dengan nuansa yang lembut sekaligus penuh detail. Hawe Setiawan Hawe Setiawan menghadirkan respons terhadap tema pameran melalui perpaduan narasi tulisan dan visual. Kombinasi keduanya menciptakan pengalaman membaca sekaligus menikmati gambar dalam satu rangkaian karya. Firman Lubis, Deden Imanudin, Rendra Santana, Prabu Perdana, dan Andi Yudha Asfandiar Kelima seniman tersebut mengangkat isu budaya dalam cakupan yang lebih luas. Karya-karya mereka banyak berbicara mengenai hubungan manusia dengan lingkungan, tradisi, serta nilai-nilai budaya yang terus mengalami perubahan. Rosid Lengkapi Dialog Melalui Karya Potret Seniman Sebagai pemilik Studio Rosid sekaligus seniman, Rosid turut ambil bagian dalam pameran. Alih-alih hanya menyediakan ruang beserta koleksi artefaknya, ia juga menghadirkan karya berupa gambar wajah para anggota Institut Drawing Bandung. Inisiatif tersebut menciptakan hubungan timbal balik antara ruang, koleksi artefak, dan para peserta pameran sehingga interaksi artistik tidak berjalan satu arah. Drawing Terus Berkembang sebagai Medium Ekspresi Anton Susanto menilai pameran Merespons Kenangan menjadi wadah eksplorasi yang penting bagi para seniman drawing. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan hanya menjadi ajang memamerkan karya, melainkan juga kesempatan untuk menguji berbagai kemungkinan baru dalam praktik seni rupa. Melalui dialog dengan benda-benda yang memiliki nilai sejarah, para seniman diajak memperluas cara pandang terhadap medium drawing sebagai sarana berekspresi sekaligus media refleksi budaya. Pameran yang Menghubungkan Masa Lalu dan Kreativitas Masa Kini Pameran Merespons Kenangan memperlihatkan bagaimana benda-benda vintage dapat menjadi sumber inspirasi yang kaya bagi praktik seni kontemporer. Artefak yang dahulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari kini memperoleh makna baru melalui interpretasi para seniman, sehingga menghadirkan pengalaman visual yang tidak hanya menarik secara estetis, tetapi juga mengajak pengunjung merenungkan hubungan antara memori, sejarah, dan identitas budaya. Melalui kolaborasi 14 seniman Institut Drawing Bandung, Studio Rosid menjelma menjadi ruang kreatif yang mempertemukan tradisi dengan gagasan kekinian. Pameran ini sekaligus menunjukkan bahwa medium drawing masih memiliki relevansi kuat sebagai bahasa visual yang mampu merespons perubahan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.

Rekomendasi 26 Jul 2026