Hasil Pencarian

doom spending

Doom Spending Gen Z: Kenapa Saat Cemas Malah Makin Sering Checkout?

Pernah merasa stres, membuka aplikasi belanja, lalu tiba-tiba sudah memasukkan beberapa barang ke keranjang? Awalnya mungkin hanya ingin melihat-lihat, tetapi ujung-ujungnya tombol checkout justru ditekan. Kebiasaan seperti ini bisa terasa menyenangkan untuk sementara. Mendapatkan barang baru, makanan favorit, atau sesuatu yang sudah lama diinginkan memang dapat memberikan rasa puas sesaat. Namun, jika belanja mulai digunakan sebagai cara utama untuk meredakan kecemasan dan dilakukan berulang kali meski kondisi keuangan tidak mendukung, perilaku tersebut perlu diperhatikan. Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai doom spending. Istilah tersebut menggambarkan kecenderungan menghabiskan uang sebagai respons terhadap stres, kecemasan, ketidakpastian ekonomi, atau kekhawatiran mengenai masa depan. Fenomena ini banyak dibahas dalam konteks Gen Z karena kemudahan transaksi digital dan tingginya paparan media sosial membuat proses dari "ingin beli" hingga "barang dikirim" bisa berlangsung sangat cepat. Apa Itu Doom Spending? Secara sederhana, doom spending adalah kebiasaan berbelanja secara impulsif untuk mendapatkan rasa nyaman ketika sedang menghadapi tekanan emosional atau merasa pesimistis terhadap kondisi masa depan. Berbeda dari belanja biasa, keputusan dalam doom spending lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi emosi daripada kebutuhan yang sudah direncanakan. Misalnya, seseorang baru saja mengalami hari yang buruk. Ia kemudian membuka marketplace dan membeli pakaian, skincare, makanan, atau gadget kecil dengan alasan, "Aku pantas mendapatkan ini setelah hari yang berat." Sekali dilakukan belum tentu menjadi masalah. Namun, pola tersebut patut diperhatikan apabila belanja terus digunakan sebagai pelarian setiap kali muncul stres atau kecemasan. Artikel Pikiran-Rakyat.com juga menekankan bahwa doom spending bukan sekadar kebiasaan boros, melainkan respons emosional yang dapat muncul ketika seseorang merasa tidak yakin terhadap kondisi finansial atau masa depannya. Kenapa Gen Z Bisa Terjebak Doom Spending? Ada kombinasi faktor yang membuat perilaku ini semakin mudah terjadi. Bukan hanya soal keinginan membeli barang, tetapi juga bagaimana seseorang berinteraksi dengan media sosial, teknologi pembayaran, dan tekanan kehidupan sehari-hari. 1. Belanja Jadi Jalan Cepat untuk Memperbaiki Mood Saat sedang sedih, bosan, stres, atau cemas, aktivitas yang memberikan kepuasan instan dapat terasa menarik. Checkout menjadi salah satu bentuk "hadiah" yang mudah didapat. Tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan rasa puas karena proses pembelian bisa selesai hanya dengan beberapa sentuhan di layar. Masalahnya, rasa senang tersebut belum tentu bertahan lama. Setelah efek kepuasannya berkurang, seseorang bisa kembali merasa stres—bahkan ditambah rasa bersalah karena uang sudah terpakai. Pola seperti inilah yang membuat belanja emosional berpotensi menjadi kebiasaan berulang. 2. Media Sosial Tidak Pernah Berhenti Menawarkan Tren Scroll media sosial beberapa menit saja sudah cukup untuk menemukan rekomendasi outfit, tempat makan, destinasi wisata, skincare, gadget, sampai berbagai produk yang sedang viral. Ketika paparan tersebut terjadi terus-menerus, standar tentang "apa yang harus dimiliki" juga bisa ikut berubah. Seseorang mungkin awalnya tidak membutuhkan barang tertentu. Namun, setelah melihat banyak orang menggunakannya, muncul perasaan seperti: "Kayaknya aku juga butuh." "Semua orang sudah punya." "Kalau tidak beli sekarang nanti kehabisan." "Aku ketinggalan tren." "Sekali-sekali self-reward tidak apa-apa." Tekanan semacam itu dapat semakin kuat ketika promosi influencer, diskon terbatas, dan algoritma platform terus menghadirkan produk yang sesuai dengan minat pengguna. Artikel sumber juga mengaitkan media sosial, tekanan sosial, tren, dan promosi influencer dengan dorongan konsumtif. Doom Spending dan FOMO: Kombinasi yang Bikin Dompet Tipis Ada satu faktor lain yang sering berjalan beriringan dengan doom spending, yaitu FOMO atau fear of missing out. Ketika sebuah produk sedang viral, seseorang bisa merasa harus segera membeli sebelum tren berakhir. Ditambah dengan flash sale, gratis ongkir, countdown, dan notifikasi promo, keputusan yang seharusnya dipikirkan lebih matang akhirnya dilakukan secara spontan. Kemudahan pembayaran digital juga membuat "rasa kehilangan uang" menjadi kurang terasa dibandingkan ketika seseorang harus menyerahkan uang tunai secara langsung. Sejumlah penelitian di Indonesia pada 2026 turut mengkaji hubungan antara perilaku doom spending dengan media sosial, gaya hidup, tekanan sosial, dan kemudahan teknologi pembayaran. Belanja Normal vs Doom Spending, Apa Bedanya? Tidak semua aktivitas belanja berarti doom spending. Membeli baju baru, makan di restoran, pergi berlibur, atau memberikan hadiah untuk diri sendiri tetap bisa menjadi bagian dari pengelolaan keuangan yang normal selama dilakukan sesuai kemampuan dan sudah diperhitungkan. Perbedaannya lebih terlihat dari alasan, pola, dan dampaknya terhadap kondisi keuangan. Belanja normal Doom spending Sudah direncanakan Sering terjadi secara spontan Berdasarkan kebutuhan atau anggaran Dipicu emosi atau kecemasan Pengeluaran masih sesuai kemampuan Bisa mengganggu kondisi keuangan Tidak harus dilakukan untuk merasa lebih baik Belanja menjadi cara utama meredakan stres Setelah membeli tidak muncul pola penyesalan berulang Sering diikuti rasa bersalah atau khawatir Jadi, seseorang tidak bisa langsung disebut melakukan doom spending hanya karena sesekali membeli barang sebagai bentuk self-reward. Yang perlu diperhatikan adalah apakah belanja tersebut sudah menjadi pola pelarian emosional. 5 Tanda Kamu Mulai Terjebak Doom Spending Tidak ada satu ciri yang secara otomatis bisa digunakan untuk menentukan seseorang mengalami doom spending. Namun, beberapa pola berikut dapat menjadi bahan refleksi: 1. Checkout Saat Sedang Stres Kamu lebih sering membuka marketplace ketika sedang menghadapi masalah, merasa kesepian, bosan, atau cemas. 2. Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan Setelah transaksi selesai, baru muncul pertanyaan, "Sebenarnya aku beli ini buat apa?" 3. Self-Reward Terus-Menerus Memberikan hadiah untuk diri sendiri bukan sesuatu yang salah. Namun, jika hampir setiap kali merasa tidak nyaman kamu langsung mengeluarkan uang, pola tersebut perlu diperhatikan. 4. Mengabaikan Kondisi Keuangan Tabungan belum aman, tagihan masih menunggu, tetapi keinginan untuk checkout tetap sulit dihentikan. 5. Senang Sebentar, Menyesal Kemudian Kepuasan muncul ketika transaksi berhasil, tetapi beberapa waktu kemudian muncul rasa bersalah karena pengeluaran tersebut. Jika pola seperti ini terus berulang, masalahnya mungkin bukan sekadar "kurang bisa menabung", melainkan adanya hubungan emosional yang perlu diperhatikan dalam cara mengelola uang. Dampaknya Bukan Cuma Saldo Berkurang Doom spending sering terlihat sebagai persoalan keuangan. Padahal, efeknya dapat merambat ke berbagai aspek lain. Pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali bisa terlihat tidak berbahaya. Misalnya, sekali checkout hanya Rp50.000 atau Rp100.000. Namun, jika dilakukan berkali-kali dalam sebulan, totalnya dapat menjadi jauh lebih besar. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang: kesulitan mencapai target tabungan; menunda pembayaran kebutuhan penting; semakin bergantung pada utang atau fasilitas kredit; mengalami stres karena kondisi keuangan; merasa bersalah setelah berbelanja; terus menggunakan belanja sebagai pelarian dari stres. Di sinilah muncul sebuah siklus yang perlu diwaspadai: stres → belanja → merasa lega → kondisi keuangan terganggu → muncul stres baru → belanja lagi. Cara Menghentikan Doom Spending Tanpa Harus Anti-Belanja Solusinya bukan berarti kamu harus berhenti membeli sesuatu yang menyenangkan. Yang lebih penting adalah membuat jarak antara emosi dan keputusan finansial. Terapkan Aturan Jeda Sebelum Checkout Saat muncul keinginan membeli barang yang tidak direncanakan, jangan langsung membayar. Berikan jeda beberapa jam atau bahkan satu hari. Setelah emosi lebih stabil, tanyakan kembali: "Kalau aku tidak sedang stres, apakah aku masih ingin membeli barang ini?" Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar keputusan awal lebih dipengaruhi emosi daripada kebutuhan. Buat Anggaran Khusus untuk Self-Reward Self-reward tetap boleh dilakukan. Justru, menyediakan anggaran khusus dapat membuat aktivitas tersebut lebih terkontrol. Misalnya, setelah kebutuhan utama, tabungan, dan kewajiban finansial terpenuhi, sebagian uang dapat dialokasikan untuk hiburan atau keinginan pribadi. Dengan begitu, menikmati hasil kerja tidak harus selalu diikuti rasa bersalah. Kurangi Pemicu dari Media Sosial Kalau setiap membuka media sosial kamu selalu tergoda berbelanja, coba evaluasi akun yang diikuti. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan: mute akun yang terlalu sering memicu keinginan belanja; matikan notifikasi promo; berhenti mengikuti akun yang membuatmu terus membandingkan gaya hidup; hapus aplikasi marketplace untuk sementara jika diperlukan; jangan membuka marketplace ketika sedang sangat emosional. Mengurangi pemicu bukan berarti harus meninggalkan media sosial sepenuhnya. Tujuannya adalah menciptakan ruang agar keputusan membeli tidak selalu dibuat dalam kondisi impulsif. Coba Ganti "Checkout" dengan Aktivitas Lain Jika tujuan sebenarnya adalah mencari rasa nyaman, belanja bukan satu-satunya pilihan. Ketika dorongan untuk checkout muncul karena stres, coba lakukan aktivitas yang memberikan jeda tanpa menguras saldo, misalnya: berjalan kaki; menonton film; memasak; olahraga ringan; membaca; mendengarkan musik; berbicara dengan teman; tidur atau beristirahat jika memang sedang kelelahan. Kuncinya adalah mencari tahu apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan. Bisa jadi yang dicari bukan barang baru, melainkan istirahat, hiburan, perhatian, atau rasa aman. Masa Depan Finansial Tidak Harus Dipikirkan dengan Cemas Salah satu hal menarik dari doom spending adalah hubungan antara perilaku konsumsi dan cara seseorang memandang masa depan. Ketika masa depan terasa tidak pasti, sebagian orang mungkin berpikir bahwa menabung untuk sesuatu yang jauh terasa kurang menarik dibandingkan menikmati uang sekarang. Fenomena tersebut juga menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai bagaimana generasi muda memandang uang, pekerjaan, biaya hidup, dan pencapaian finansial. Namun, pilihan finansial tidak harus berada di antara dua ekstrem: menghabiskan semuanya sekarang atau menabung sampai tidak menikmati hidup. Pilihan yang lebih realistis adalah membangun keseimbangan. Tetap menikmati hasil kerja sambil memastikan kebutuhan dasar, kewajiban, tabungan, dan tujuan finansial mendapatkan porsi yang jelas. Doom Spending Bukan Label untuk Semua Gen Z Penting untuk tidak menyederhanakan fenomena ini menjadi anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang boros. Doom spending lebih tepat dipahami sebagai pola perilaku konsumsi yang dapat muncul ketika tekanan emosional, ketidakpastian finansial, paparan media sosial, dan kemudahan transaksi bertemu. Fenomena ini juga tidak terbatas pada satu generasi saja. Karena itu, fokusnya bukan mencari siapa yang salah, melainkan mengenali pola yang terjadi pada diri sendiri. Kalau belanja memang sudah menjadi cara utama untuk mengatasi kecemasan dan mulai mengganggu kondisi keuangan, mengambil jeda dan mencari dukungan yang tepat bisa menjadi langkah yang lebih sehat. Pada akhirnya, self-reward seharusnya membuat hidup terasa lebih menyenangkan, bukan membuat masalah baru setelah transaksi selesai.

Gaya Hidup 30 Sep 2026