Mengenal Gerhana Bulan: Proses Terjadinya, Tahapan, dan Jenis-Jenisnya
Langit malam sesekali menghadirkan fenomena astronomi yang menarik untuk diamati, salah satunya gerhana bulan. Peristiwa ini terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan memungkinkan bayangan Bumi jatuh ke permukaan Bulan.
Tidak seperti gerhana Matahari yang membutuhkan perlindungan mata khusus ketika diamati, gerhana bulan dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang. Namun, kemunculannya tidak berlangsung setiap bulan meskipun Bulan mengalami fase purnama secara rutin.
Penyebabnya terletak pada bidang orbit Bulan yang memiliki kemiringan sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibat kemiringan tersebut, Bulan biasanya melintas sedikit di atas atau di bawah bayangan Bumi saat purnama. Gerhana baru dapat terjadi ketika Bulan berada di dekat titik perpotongan orbitnya dengan bidang orbit Bumi.
Bagaimana Gerhana Bulan Bisa Terjadi?
Secara sederhana, gerhana bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Cahaya Matahari yang seharusnya menerangi Bulan kemudian terhalang oleh Bumi sehingga sebagian atau seluruh permukaan Bulan memasuki bayangan planet kita.
Bayangan Bumi terbagi menjadi dua bagian utama:
-
Penumbra, yaitu bagian luar bayangan yang menerima sebagian cahaya Matahari.
-
Umbra, yaitu bagian tengah bayangan yang lebih gelap karena cahaya Matahari terhalang lebih banyak.
Pergerakan Bulan melewati kedua wilayah bayangan tersebut menghasilkan tahapan gerhana yang dapat diamati dari Bumi.
Tahapan Gerhana Bulan dari Awal hingga Berakhir
1. Fase Penumbra atau P1
Rangkaian gerhana dimulai ketika Bulan memasuki wilayah penumbra Bumi. Perubahan tingkat kecerahannya pada tahap ini biasanya sangat tipis sehingga tidak selalu mudah dikenali tanpa pengamatan yang cermat.
Fase ini menjadi penanda bahwa Bulan mulai memasuki rangkaian gerhana.
2. Awal Gerhana Sebagian atau U1
Ketika sebagian permukaan Bulan mulai memasuki umbra, perubahan penampakan menjadi lebih jelas. Bagian Bulan yang berada di dalam umbra tampak lebih gelap dibandingkan bagian lainnya.
Pada gerhana tertentu, rona kemerahan juga dapat mulai terlihat pada area yang memasuki umbra.
3. Awal hingga Puncak Gerhana Total atau U2–U3
Gerhana mencapai tahap total apabila seluruh permukaan Bulan berada di dalam umbra Bumi.
Pada fase inilah Bulan dapat terlihat berwarna merah tua, jingga, atau kemerahan. Fenomena tersebut sering disebut Blood Moon atau Bulan Darah.
Warna merah tersebut bukan karena Bulan menghasilkan cahaya sendiri. Cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi mengalami pembelokan dan penyaringan. Sebagian cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang, seperti merah dan jingga, dapat mencapai permukaan Bulan dan kemudian dipantulkan kembali ke arah pengamat di Bumi.
4. Akhir Gerhana Total dan Gerhana Sebagian atau U3–U4
Setelah melewati titik puncak, Bulan mulai bergerak keluar dari umbra. Permukaan Bulan yang sebelumnya berada dalam bayangan perlahan kembali mendapatkan cahaya Matahari secara langsung.
Jika sebelumnya terjadi gerhana total, fase ini menandai berakhirnya totalitas dan berlanjut ke tahap gerhana sebagian.
5. Akhir Gerhana atau P4
Rangkaian gerhana berakhir ketika Bulan sepenuhnya meninggalkan wilayah penumbra Bumi.
Pada titik tersebut, tingkat kecerahan Bulan kembali seperti kondisi normal dan peristiwa gerhana pun selesai.
3 Jenis Gerhana Bulan yang Perlu Diketahui
Berdasarkan bagian bayangan Bumi yang dilewati Bulan, fenomena ini dapat dibedakan menjadi tiga jenis utama.
1. Gerhana Bulan Total
Gerhana bulan total berlangsung ketika seluruh piringan Bulan memasuki umbra Bumi. Meski cahaya Matahari terhalang secara langsung, Bulan tidak selalu menghilang sepenuhnya.
Atmosfer Bumi menyebarkan dan membelokkan sebagian cahaya Matahari menuju Bulan. Akibatnya, permukaan Bulan dapat terlihat berwarna kemerahan.
2. Gerhana Bulan Sebagian
Pada jenis ini, hanya sebagian permukaan Bulan yang memasuki umbra. Bagian lainnya tetap berada di luar umbra sehingga tidak seluruh permukaan Bulan mengalami penggelapan.
Gerhana sebagian umumnya lebih mudah dikenali karena perbedaan antara bagian Bulan yang berada di dalam dan di luar umbra dapat terlihat dengan jelas.
3. Gerhana Bulan Penumbra
Gerhana bulan penumbra terjadi ketika Bulan hanya melewati wilayah penumbra tanpa memasuki umbra.
Perubahan kecerahan Bulan pada peristiwa ini cenderung lebih halus. Karena itu, gerhana penumbra sering kali lebih sulit dibedakan dari Bulan purnama biasa, terutama jika kondisi langit kurang mendukung.
Mengapa Gerhana Bulan Tidak Terjadi Setiap Bulan?
Pertanyaan ini cukup sering muncul karena gerhana bulan hanya dapat terjadi ketika Bulan berada pada fase purnama. Jika Bumi selalu berada di antara Matahari dan Bulan ketika purnama, seharusnya gerhana terjadi setiap bulan.
Namun, kenyataannya tidak demikian.
Penyebab utamanya adalah kemiringan orbit Bulan sekitar 5 derajat terhadap bidang orbit Bumi mengelilingi Matahari. Akibatnya, posisi Bulan pada sebagian besar fase purnama berada sedikit di atas atau di bawah garis bayangan Bumi.
Gerhana baru dapat terjadi ketika Bulan berada dekat titik simpul orbitnya pada saat purnama sehingga posisi Matahari, Bumi, dan Bulan cukup sejajar.
Apakah Gerhana Bulan Aman Dilihat Langsung?
Ya. Berbeda dengan pengamatan langsung terhadap Matahari saat gerhana Matahari, melihat gerhana bulan dengan mata telanjang pada umumnya aman.
Pengamat juga dapat menggunakan teropong atau teleskop untuk melihat detail permukaan Bulan selama kondisi langit mendukung. Tidak diperlukan kacamata khusus gerhana untuk melihat Bulan.
Agar pengamatan lebih nyaman, pilih lokasi dengan pandangan langit yang luas dan minim awan maupun polusi cahaya.
Gerhana Bulan dan Pemahaman Tata Surya
Fenomena gerhana bulan memberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana benda-benda langit terus bergerak dalam sistem tata surya. Peristiwa ini memperlihatkan hubungan geometris antara Matahari sebagai sumber cahaya, Bumi sebagai benda yang menghasilkan bayangan, dan Bulan sebagai objek yang melewati bayangan tersebut.
Menariknya, perubahan warna Bulan saat gerhana total juga menunjukkan bagaimana atmosfer Bumi dapat memengaruhi cahaya yang melintas di sekitarnya.
Dengan memahami proses terjadinya gerhana bulan dan jenis-jenisnya, fenomena langit tersebut tidak hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga dapat menjadi cara sederhana untuk mengenal mekanisme orbit dan interaksi cahaya di tata surya.
Gerhana bulan pada akhirnya merupakan bagian dari dinamika alam yang berlangsung secara teratur. Ketika fenomena ini terjadi, masyarakat dapat mengamatinya sekaligus memahami bahwa perubahan yang terlihat di langit merupakan hasil dari pergerakan benda-benda langit yang telah berlangsung selama miliaran tahun.