Quiet Quitting Makin Marak di Dunia Kerja, Gen Z Diajak Bangun Komitmen Profesional Sejak Awal Karier
Fenomena quiet quitting semakin sering menjadi perhatian di berbagai perusahaan. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang tetap datang bekerja dan menyelesaikan tugas sesuai deskripsi pekerjaan, tetapi tidak lagi memiliki motivasi untuk berkontribusi lebih ataupun terlibat aktif dalam perkembangan organisasi.
Bagi dunia kerja modern, kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan baru. Pasalnya, produktivitas tidak hanya dipengaruhi oleh kehadiran fisik karyawan, tetapi juga oleh semangat, kreativitas, dan rasa memiliki terhadap pekerjaan yang dijalankan.
Rektor Universitas Catur Insan Cendekia Cirebon (UCIC), Assoc. Prof. Dr. Chandra Lukita, menilai fenomena ini perlu mendapat perhatian serius, terutama ketika memasuki era dominasi Generasi Z di dunia kerja.
Quiet Quitting Bukan Sekadar Bekerja Sesuai Jam Kantor
Menurut Chandra Lukita, salah satu ciri quiet quitting adalah hilangnya keterlibatan emosional dalam bekerja.
Seorang karyawan mungkin tetap hadir setiap hari dan menyelesaikan tanggung jawabnya, tetapi semangat untuk memberikan ide, mencari solusi, maupun menciptakan inovasi perlahan menghilang.
Akibatnya, organisasi memang masih berjalan, tetapi kehilangan energi positif yang dibutuhkan untuk berkembang.
"Ritme kerja dan semangat profesional mulai memudar. Karyawan hanya menjalankan kewajiban tanpa berusaha memberikan nilai tambah bagi organisasi," ujarnya dalam webinar bersama Sevima, Kamis, 16 Juli 2026.
Tantangan Gen Z di Dunia Kerja Modern
Chandra menilai fenomena tersebut semakin kompleks ketika dikaitkan dengan karakteristik sebagian Generasi Z yang mulai mendominasi angkatan kerja.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah membuat banyak proses menjadi lebih cepat dan praktis. Namun, kebiasaan serba instan terkadang ikut memengaruhi cara sebagian orang memandang karier.
Keinginan memperoleh hasil besar dengan usaha seminimal mungkin memang dianggap wajar dalam kondisi tertentu. Akan tetapi, jika pola pikir tersebut terus terbawa ke dunia profesional, dampaknya bisa menghambat perkembangan karier seseorang.
Ia menegaskan bahwa efisiensi tetap penting, tetapi tidak boleh menghilangkan komitmen, tanggung jawab, dan keinginan untuk terus belajar.
Mengapa Quiet Quitting Perlu Diwaspadai?
Fenomena quiet quitting tidak selalu berarti seseorang malas bekerja. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kelelahan mental (burnout), kurangnya apresiasi, hingga minimnya peluang berkembang.
Meski demikian, apabila dibiarkan terlalu lama, dampaknya dapat dirasakan baik oleh perusahaan maupun karyawan itu sendiri.
Beberapa konsekuensi yang mungkin muncul antara lain:
- Produktivitas tim menjadi menurun.
- Inovasi dan kreativitas semakin berkurang.
- Hubungan antarrekan kerja menjadi kurang aktif.
- Kesempatan promosi atau pengembangan karier bisa terhambat.
- Perusahaan kehilangan talenta yang sebenarnya memiliki potensi besar.
Kepemimpinan Adaptif Dinilai Jadi Salah Satu Solusi
Dalam pandangan Chandra, mengatasi quiet quitting tidak cukup hanya dengan meningkatkan target kerja.
Perusahaan juga perlu membangun lingkungan kerja yang sehat, terbuka, dan mampu mendorong setiap karyawan untuk berpartisipasi secara aktif.
Melalui bukunya yang berjudul Mature Leadership: Life Lessons of Leadership, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan modern harus mampu menciptakan budaya kerja yang membuat setiap anggota tim merasa dihargai sekaligus memiliki ruang untuk berkembang.
Karyawan didorong agar tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga mampu berpikir lebih jauh mengenai dampak dari setiap keputusan yang diambil.
Profesionalisme Dibangun dari Kebiasaan Sehari-hari
Menurut Chandra, komitmen profesional tidak muncul secara instan, melainkan dibentuk melalui kebiasaan yang dilakukan setiap hari.
Beberapa sikap sederhana yang dapat membantu membangun profesionalisme antara lain:
- Menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas terbaik.
- Berani menyampaikan ide atau solusi baru.
- Terus meningkatkan kemampuan melalui pembelajaran.
- Mampu bekerja sama dengan tim secara aktif.
- Memiliki rasa tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
Kebiasaan tersebut akan menjadi bekal penting bagi siapa pun yang ingin berkembang dalam dunia kerja yang semakin kompetitif.
Dunia Kerja Kini Mengutamakan Adaptasi dan Kolaborasi
Perubahan teknologi membuat perusahaan tidak lagi hanya mencari karyawan yang memiliki kemampuan teknis tinggi. Kemampuan beradaptasi, komunikasi, kolaborasi, serta kemauan belajar menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan.
Karena itu, membangun komitmen profesional sejak awal karier menjadi investasi jangka panjang. Sikap proaktif dan semangat untuk terus berkembang tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan, tetapi juga membuka peluang karier yang lebih luas di masa depan.
Membangun Karier Tidak Cukup Hanya Hadir di Kantor
Fenomena quiet quitting menjadi pengingat bahwa keberhasilan di dunia kerja bukan hanya diukur dari kehadiran atau penyelesaian tugas harian. Semangat berkontribusi, kemampuan beradaptasi, serta komitmen untuk terus berkembang justru menjadi faktor yang membedakan seseorang dalam perjalanan kariernya.
Di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung sangat cepat, profesionalisme, kolaborasi, dan kemauan belajar akan menjadi modal penting bagi siapa pun, termasuk Generasi Z, untuk menghadapi tantangan sekaligus memanfaatkan peluang di masa depan.