Latihan Lompat hingga HIIT Disebut Bantu Perempuan Tetap Bugar Saat Menua, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Proses penuaan sering dikaitkan dengan menurunnya kekuatan otot, kepadatan tulang, hingga meningkatnya risiko penyakit kronis. Kondisi tersebut memang menjadi tantangan, terutama bagi perempuan yang memasuki masa menopause. Namun, berbagai penelitian terbaru menunjukkan bahwa penurunan fungsi tubuh bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja.
Melalui pola latihan yang tepat dan dukungan asupan nutrisi yang memadai, perempuan dapat mempertahankan kesehatan tulang, otot, hingga fungsi otak dalam jangka panjang. Salah satu pendekatan yang kini banyak dibahas para ahli adalah jump training atau latihan lompat yang dipadukan dengan latihan interval intensitas tinggi (HIIT).
Mengapa Penuaan Berdampak Lebih Besar pada Perempuan?
Perubahan hormon, terutama menurunnya kadar estrogen saat menopause, berpengaruh terhadap banyak sistem dalam tubuh. Tidak hanya kepadatan tulang yang berkurang, distribusi lemak tubuh juga berubah sehingga lemak lebih mudah menumpuk di area perut.
Selain itu, massa otot cenderung menurun seiring bertambahnya usia apabila tidak diimbangi dengan aktivitas fisik dan asupan protein yang cukup.
Karena itu, strategi menjaga kesehatan perempuan tidak cukup hanya mengandalkan pola makan atau suplemen, tetapi juga memerlukan latihan fisik yang sesuai dengan perubahan biologis tubuh.
Jump Training Dinilai Mampu Menjaga Kepadatan Tulang
Lantai keras seperti semen atau aspal sering dianggap berisiko bagi persendian sehingga banyak orang menghindari aktivitas yang melibatkan benturan.
Namun, dalam dunia fisiologi olahraga, benturan yang dilakukan secara terukur justru dapat memberikan rangsangan positif terhadap tulang.
Dalam wawancara di kanal YouTube The Unspoken Framework, pakar fisiologi olahraga perempuan Dr. Stacy Sims menjelaskan bahwa latihan lompat singkat dapat menjadi stimulus mekanis yang membantu pembentukan jaringan tulang baru.
Menurutnya, latihan sekitar 10 menit sebanyak tiga kali dalam seminggu mampu memberikan beban yang diperlukan tulang agar proses regenerasi tetap berlangsung.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa latihan berbeban seperti jump training berpotensi membantu meningkatkan kepadatan tulang pada perempuan yang mengalami osteopenia apabila dilakukan secara konsisten dan disertai program latihan yang tepat.
Osteoporosis Menjadi Ancaman Serius Setelah Menopause
Menopause merupakan salah satu fase yang paling memengaruhi kesehatan tulang perempuan.
Penurunan hormon estrogen menyebabkan proses pembentukan tulang melambat, sementara penguraian tulang berlangsung lebih cepat. Akibatnya, risiko osteoporosis meningkat secara signifikan.
Jika tidak diantisipasi sejak dini, kondisi tersebut dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya patah tulang akibat benturan ringan.
Untuk membantu menjaga kesehatan tulang, beberapa kebiasaan berikut dapat diterapkan:
- Melakukan latihan beban secara rutin.
- Menambahkan latihan lompat sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
- Memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D.
- Menghindari kebiasaan merokok.
- Membatasi konsumsi alkohol secara berlebihan.
- Berkonsultasi dengan tenaga medis jika memiliki faktor risiko osteoporosis.
HIIT Tidak Sekadar Berolahraga Sampai Kelelahan
Selain kesehatan tulang, fungsi otak juga mengalami perubahan seiring bertambahnya usia.
Dr. Stacy Sims menjelaskan bahwa perempuan memiliki karakteristik metabolisme yang berbeda dibandingkan laki-laki, termasuk dalam pemanfaatan laktat yang dihasilkan otot saat berolahraga.
Latihan seperti High-Intensity Interval Training (HIIT) maupun Sprint Interval Training (SIT) dinilai mampu meningkatkan produksi laktat yang kemudian dimanfaatkan otak sebagai salah satu sumber energi.
Menariknya, HIIT yang dimaksud bukan sekadar berolahraga tanpa henti hingga kelelahan.
Justru, latihan dilakukan dalam durasi singkat dengan intensitas tinggi, kemudian diikuti waktu istirahat yang cukup agar tubuh dan sistem saraf memperoleh kesempatan untuk pulih sebelum mengulangi sprint berikutnya.
Latihan Intensitas Tinggi Bantu Mengurangi Lemak Perut
Perubahan hormon setelah usia 40 tahun juga sering membuat lemak viseral atau lemak di sekitar organ dalam lebih mudah menumpuk.
Lemak jenis ini berbeda dengan lemak di bawah kulit karena berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.
Menurut Dr. Sims, latihan intensitas tinggi dapat membantu meningkatkan sensitivitas otot terhadap glukosa sehingga tubuh lebih efisien menggunakan energi serta membakar cadangan lemak.
Meski demikian, latihan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing individu agar manfaatnya optimal dan risiko cedera dapat diminimalkan.
Asupan Protein Sama Pentingnya dengan Latihan
Olahraga saja tidak cukup apabila kebutuhan nutrisi harian tidak terpenuhi.
Protein berperan penting dalam memperbaiki jaringan otot yang mengalami adaptasi setelah latihan sekaligus membantu mempertahankan massa otot selama proses penuaan.
Dr. Sims menyarankan perempuan aktif memenuhi kebutuhan protein harian dalam jumlah yang memadai sesuai kondisi tubuh dan tingkat aktivitas.
Sumber protein berkualitas dapat diperoleh dari:
- Ikan.
- Dada ayam.
- Telur.
- Susu dan produk olahannya.
- Tempe.
- Tahu.
- Edamame.
- Buncis dan kacang-kacangan lainnya.
Mengombinasikan protein hewani dan nabati juga membantu memenuhi kebutuhan asam amino yang dibutuhkan tubuh.
Pola Latihan yang Seimbang Lebih Disarankan
Alih-alih hanya mengandalkan satu jenis olahraga, para ahli lebih menyarankan kombinasi beberapa bentuk latihan.
Sebagai contoh, rutinitas mingguan dapat mencakup:
- Latihan beban sebanyak 3–4 kali dalam seminggu.
- HIIT atau sprint interval sebanyak 1–2 kali dalam seminggu.
- Latihan mobilitas dan peregangan secara rutin.
- Aktivitas aerobik ringan seperti berjalan kaki atau bersepeda untuk menjaga kesehatan jantung.
Kombinasi tersebut membantu melatih kekuatan, daya tahan, keseimbangan, sekaligus menjaga fungsi metabolisme tubuh.
Tujuan Utama Bukan Sekadar Tubuh Langsing
Menjaga kebugaran saat bertambah usia bukan hanya berkaitan dengan penampilan fisik.
Yang jauh lebih penting adalah mempertahankan kemampuan tubuh untuk bergerak mandiri, menjaga kekuatan tulang dan otot, serta mendukung fungsi otak agar tetap optimal hingga usia lanjut.
Melalui latihan fisik yang sesuai, pola makan bergizi, serta kebiasaan hidup sehat yang dilakukan secara konsisten, perempuan memiliki peluang lebih besar untuk menjalani masa tua dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Dengan demikian, jump training, latihan beban, dan HIIT bukan sekadar tren kebugaran. Ketiganya dapat menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan jangka panjang apabila diterapkan secara benar, bertahap, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu. Sebelum memulai program latihan intensitas tinggi, terutama bagi yang memiliki kondisi medis tertentu, konsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan tetap dianjurkan.