Kolesterol Tinggi Bisa Menyerang Orang Bertubuh Langsing, Dokter Jantung Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahny
Banyak orang masih menganggap bahwa kolesterol tinggi hanya menjadi masalah bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Seseorang yang bertubuh langsing pun tetap berisiko mengalami kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi dan menghadapi ancaman penyakit jantung maupun stroke.
Karena tidak selalu disertai gejala, kolesterol tinggi sering dijuluki sebagai silent condition. Banyak penderita baru mengetahui kondisinya setelah menjalani pemeriksaan kesehatan atau ketika sudah muncul komplikasi yang lebih serius.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa bentuk tubuh tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai risiko penyakit kardiovaskular.
Tubuh Langsing Bukan Berarti Bebas dari Kolesterol Tinggi
Memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang normal memang merupakan salah satu indikator kesehatan, tetapi bukan jaminan bahwa kadar kolesterol dalam darah juga berada pada batas normal.
Menurut dr. Susetyo, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hampir satu dari empat orang dengan postur tubuh kurus atau langsing tetap memiliki faktor risiko penyakit jantung.
Apabila kadar low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat meningkat, risiko mengalami serangan jantung dapat bertambah hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan mereka yang memiliki kadar LDL normal.
Hal ini menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan secara berkala tetap diperlukan, terlepas dari bentuk tubuh seseorang.
Penyebab Kolesterol Tinggi pada Orang Langsing
Ada sejumlah faktor yang dapat menyebabkan seseorang dengan berat badan ideal mengalami peningkatan kadar kolesterol.
1. Faktor Genetik
Salah satu penyebab utama adalah familial hypercholesterolemia, yaitu kelainan genetik yang menyebabkan kadar LDL tetap tinggi sejak usia muda.
Orang dengan kondisi ini dapat mengalami kolesterol tinggi meskipun menjaga pola makan dan memiliki berat badan yang ideal.
2. Pola Makan Tinggi Lemak Jenuh
Kebiasaan mengonsumsi makanan yang digoreng, makanan cepat saji, daging olahan, serta makanan tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah.
Tanpa disadari, pola makan seperti ini dapat berlangsung bertahun-tahun meski berat badan tidak banyak berubah.
3. Kurang Aktivitas Fisik
Tubuh yang jarang bergerak akan mengalami penurunan kemampuan dalam mengolah lemak.
Akibatnya, kadar kolesterol jahat dapat meningkat, sementara kolesterol baik atau high-density lipoprotein (HDL) justru menurun.
Aktivitas fisik yang rutin membantu menjaga keseimbangan metabolisme sekaligus mendukung kesehatan jantung.
4. Obesitas Sentral atau Lemak Viseral
Tidak semua penumpukan lemak terlihat dari luar.
Sebagian orang memiliki lemak viseral, yaitu lemak yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam rongga perut.
Kondisi ini dikenal sebagai obesitas sentral dan tetap dapat terjadi meskipun berat badan masih tergolong normal.
Pada populasi Asia, obesitas sentral umumnya ditandai dengan:
- Lingkar pinggang lebih dari 90 sentimeter pada pria.
- Lingkar pinggang lebih dari 80 sentimeter pada perempuan.
Lemak viseral diketahui lebih aktif secara metabolik sehingga dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, hingga penyakit jantung.
Mengapa Kolesterol Tinggi Sering Tidak Disadari?
Salah satu alasan kolesterol tinggi berbahaya adalah karena sering kali tidak menimbulkan keluhan.
Sebagian besar penderita tetap dapat beraktivitas seperti biasa tanpa merasakan gejala tertentu.
Padahal, di dalam pembuluh darah dapat terjadi proses penumpukan plak aterosklerosis secara perlahan.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung, pembuluh darah menjadi semakin sempit sehingga aliran darah menuju jantung maupun otak terganggu.
Akibatnya, risiko berbagai komplikasi serius ikut meningkat, seperti:
- Serangan jantung.
- Stroke.
- Penyakit arteri perifer.
- Gangguan sirkulasi darah.
Karena prosesnya berlangsung secara bertahap, pemeriksaan laboratorium menjadi cara paling efektif untuk mengetahui kondisi kolesterol seseorang.
Pentingnya Melakukan Pemeriksaan Kolesterol Secara Berkala
Dokter menekankan bahwa pemeriksaan kolesterol sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika muncul keluhan.
Pemeriksaan rutin justru penting sebagai langkah deteksi dini, terutama bagi mereka yang memiliki:
- Riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
- Hipertensi.
- Diabetes.
- Kebiasaan merokok.
- Gaya hidup kurang aktif.
Selain melihat kadar kolesterol total, pemeriksaan sebaiknya juga mencakup profil lipid secara lengkap, antara lain:
- LDL (kolesterol jahat).
- HDL (kolesterol baik).
- Trigliserida.
- Kolesterol total.
Dengan hasil pemeriksaan yang lebih lengkap, dokter dapat menilai tingkat risiko penyakit kardiovaskular secara lebih akurat.
Cara Menurunkan Risiko Kolesterol Tinggi
Menjaga kadar kolesterol tetap normal membutuhkan kombinasi pola hidup sehat dan pemantauan kesehatan secara rutin.
Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain:
- Mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
- Memperbanyak buah, sayur, serta makanan tinggi serat.
- Mengonsumsi ikan yang kaya asam lemak omega-3.
- Berolahraga setidaknya 150 menit setiap minggu.
- Menjaga berat badan ideal dan lingkar pinggang tetap normal.
- Menghindari kebiasaan merokok.
- Membatasi konsumsi minuman beralkohol.
- Mengelola stres dengan baik.
- Mengikuti pengobatan sesuai anjuran dokter apabila telah didiagnosis memiliki kolesterol tinggi.
Perubahan gaya hidup yang dilakukan secara konsisten terbukti membantu mengurangi risiko berbagai penyakit kardiovaskular.
Jangan Hanya Mengandalkan Timbangan Berat Badan
Selain memantau berat badan, masyarakat juga dianjurkan memperhatikan ukuran lingkar pinggang sebagai indikator adanya lemak viseral.
Seseorang dapat terlihat langsing, tetapi memiliki penumpukan lemak di area perut yang meningkatkan risiko gangguan metabolisme.
Oleh karena itu, evaluasi kesehatan sebaiknya dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan penampilan fisik.
Kolesterol Tinggi Bisa Dicegah dengan Deteksi Dini
Memiliki tubuh yang ramping memang memberikan berbagai manfaat kesehatan, tetapi tidak berarti terbebas dari risiko kolesterol tinggi. Faktor genetik, pola makan, kurang bergerak, hingga obesitas sentral dapat menyebabkan kadar kolesterol meningkat tanpa disadari.
Melakukan pemeriksaan kolesterol secara berkala, menerapkan pola makan seimbang, rutin berolahraga, serta menjaga lingkar pinggang tetap ideal merupakan langkah penting untuk melindungi kesehatan jantung. Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup yang tepat, risiko penyakit jantung maupun stroke dapat ditekan sejak awal.