Gaya Hidup

Kenapa Ada Vitamin A, B, C, D, E, lalu K? Ini Cerita di Balik Nama Vitamin

Admin GenFun | Kamis, 01 Oct 2026 05:17 WIB
Kenapa Ada Vitamin A, B, C, D, E, lalu K? Ini Cerita di Balik Nama Vitamin

Kalau mendengar kata vitamin, nama seperti vitamin A, B, C, D, E, dan K tentu sudah tidak asing lagi. Namun, pernahkah kamu bertanya-tanya kenapa vitamin diberi nama berdasarkan huruf?

Yang lebih bikin penasaran, daftar tersebut tidak berjalan lengkap dari A sampai Z. Setelah vitamin E, kita justru langsung menemukan vitamin K. Lalu, di kelompok vitamin B, nomornya juga terasa tidak berurutan karena ada B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9, dan B12.

Ternyata, nama-nama vitamin yang digunakan sekarang merupakan hasil perjalanan panjang penelitian nutrisi. Sistem penamaan tersebut pada awalnya dibuat cukup sederhana, tetapi semakin banyak penelitian dilakukan, semakin banyak pula zat yang ternyata harus diklasifikasikan ulang.

Awalnya Bukan Bernama "Vitamin"

Jauh sebelum istilah vitamin digunakan seperti sekarang, para ilmuwan telah berusaha memahami mengapa seseorang bisa mengalami penyakit tertentu meskipun mendapatkan makanan yang terlihat cukup.

Pada awal abad ke-20, penelitian mengenai nutrisi mulai menunjukkan adanya zat dalam makanan yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sangat kecil. Zat tersebut belum diketahui identitas kimianya secara pasti, tetapi keberadaannya dianggap penting untuk pertumbuhan dan menjaga fungsi tubuh.

Pada 1912, ahli biokimia Casimir Funk memperkenalkan istilah "vitamine" ketika meneliti faktor nutrisi yang berkaitan dengan penyakit beri-beri. Kata tersebut dibentuk dari "vita" yang berkaitan dengan kehidupan dan "amine", karena Funk ketika itu memperkirakan zat tersebut termasuk senyawa amina.

Belakangan diketahui bahwa tidak semua vitamin merupakan amina. Karena itu, huruf "e" di bagian akhir istilah "vitamine" kemudian dihilangkan sehingga menjadi vitamin, istilah yang masih kita gunakan sampai sekarang.

Kenapa Vitamin Menggunakan Huruf A, B, C, D, dan E?

Pada masa awal penelitian vitamin, para ilmuwan membutuhkan cara sederhana untuk membedakan berbagai faktor nutrisi yang mereka temukan.

Salah satu sistem yang kemudian digunakan adalah pemberian huruf. Vitamin yang ditemukan atau diidentifikasi pada periode awal diberi label A, B, C, D, dan seterusnya.

Vitamin A dan B pada awalnya bahkan dibedakan berdasarkan sifat kelarutannya. Ada faktor yang disebut fat-soluble A dan faktor lain yang disebut water-soluble B. Ketika penelitian berkembang, faktor-faktor tersebut mulai diidentifikasi secara lebih spesifik.

Jadi, huruf pada nama vitamin pada dasarnya merupakan bagian dari sejarah penemuannya, bukan kode yang sejak awal dirancang untuk menjelaskan fungsi biologis masing-masing vitamin.

Urutannya Ternyata Tidak Sesederhana Alfabet

Pada tahap awal, sistem huruf memang terlihat cukup mudah dipahami.

A kemudian B, C, D, E, dan seterusnya.

Namun, masalah muncul ketika semakin banyak zat yang ditemukan. Beberapa zat yang sempat dianggap sebagai vitamin ternyata kemudian diketahui merupakan bagian dari vitamin lain, tidak memenuhi kriteria sebagai vitamin, atau memiliki klasifikasi yang berbeda.

Dari sinilah muncul "lubang" dalam alfabet vitamin yang kita kenal sekarang.

Misteri Vitamin F, G, H, I, dan J

Nah, ini bagian yang cukup menarik.

Kalau sistem penamaan vitamin mengikuti alfabet, seharusnya setelah E terdapat F, G, H, I, dan J sebelum K.

Namun, nama-nama tersebut tidak menjadi bagian dari daftar vitamin yang digunakan dalam klasifikasi modern.

Bukan karena para ilmuwan lupa memberi nama. Beberapa nama memang pernah digunakan dalam sejarah penelitian, tetapi kemudian status zat yang dimaksud berubah setelah penelitian lebih lanjut dilakukan.

Vitamin F Bukan Lagi Vitamin

Istilah vitamin F pernah digunakan untuk menyebut kelompok asam lemak esensial.

Seiring berkembangnya ilmu nutrisi, senyawa tersebut tidak lagi dikategorikan sebagai vitamin. Asam lemak esensial seperti omega-3 dan omega-6 kini ditempatkan dalam kelompok nutrisi yang berbeda.

Jadi, tidak ada vitamin F dalam daftar vitamin esensial manusia yang digunakan saat ini.

Vitamin G Berubah Menjadi Vitamin B2

Istilah vitamin G pernah digunakan untuk salah satu faktor nutrisi yang kemudian diketahui sebagai riboflavin, atau vitamin B2.

Setelah identitas dan hubungan kimianya semakin dipahami, nama vitamin G tidak lagi digunakan sebagai klasifikasi tersendiri.

Vitamin H Kini Dikenal sebagai B7

Hal serupa terjadi pada vitamin H.

Zat yang dahulu disebut vitamin H kemudian diidentifikasi sebagai biotin, yang sekarang dikenal sebagai vitamin B7.

Sementara itu, istilah vitamin I dan J tidak pernah berkembang menjadi nama vitamin yang mapan dalam klasifikasi modern.

Jadi, hilangnya beberapa huruf tersebut sebenarnya mencerminkan bagaimana ilmu pengetahuan terus memperbaiki klasifikasi berdasarkan bukti baru.

Lalu Kenapa Setelah E Langsung K?

Ini mungkin bagian paling menarik dari cerita asal usul nama-nama vitamin.

Jawabannya adalah: vitamin K memiliki sejarah penamaan yang berbeda.

Vitamin K dikaitkan dengan penelitian mengenai gangguan pembekuan darah. Pada 1929, ilmuwan Denmark Henrik Dam menemukan faktor yang berperan penting dalam proses pembekuan darah.

Alih-alih mengikuti urutan alfabet semata, huruf K dikaitkan dengan kata "koagulation", yang berarti koagulasi atau pembekuan.

Itulah sebabnya daftar vitamin modern terlihat seperti:

A → B → C → D → E → K

Bukan karena vitamin F sampai J semuanya "hilang", tetapi karena beberapa nama historis tidak lagi digunakan dan vitamin K mendapatkan nama berdasarkan konteks pembekuan darah.

Kenapa Vitamin B Punya Banyak Nomor?

Kalau nama vitamin mengikuti alfabet, mengapa kita justru mengenal B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9, dan B12?

Ternyata, pada awalnya vitamin B dianggap sebagai satu kelompok faktor nutrisi yang lebih umum.

Setelah penelitian semakin mendalam, para ilmuwan menemukan bahwa kelompok tersebut sebenarnya terdiri atas sejumlah senyawa berbeda. Karena memiliki sejumlah kemiripan dalam fungsi dan keberadaannya di makanan, senyawa-senyawa tersebut kemudian dikelompokkan sebagai vitamin B kompleks.

Inilah alasan kita mengenal berbagai anggota vitamin B, seperti:

  • B1: tiamin

  • B2: riboflavin

  • B3: niasin

  • B5: asam pantotenat

  • B6: piridoksin

  • B7: biotin

  • B9: folat

  • B12: kobalamin

Yang menarik, nomor tersebut juga tidak selalu menunjukkan urutan penemuan secara sederhana. Beberapa zat yang sempat diberi nomor kemudian ternyata tidak memenuhi kriteria sebagai vitamin atau diklasifikasikan ulang.

Kenapa Tidak Ada Vitamin B4, B8, B10, dan B11?

Pertanyaan ini sebenarnya masih satu paket dengan misteri vitamin F sampai J.

Beberapa senyawa pada masa awal penelitian pernah disebut sebagai kandidat vitamin B dengan nomor tertentu. Namun, setelah penelitian lebih lanjut, statusnya berubah.

Ada yang ternyata bukan vitamin, ada yang dianggap tidak memenuhi kebutuhan esensial manusia, dan ada pula yang kemudian dimasukkan ke dalam klasifikasi lain.

Karena itu, daftar vitamin B yang digunakan sekarang memiliki "nomor yang bolong".

Dengan kata lain, nomor vitamin bukan seperti nomor kursi yang harus selalu terisi berurutan. Sistem tersebut merupakan hasil perkembangan sejarah penelitian nutrisi.

Dari Huruf ke Nama Kimia yang Lebih Spesifik

Meskipun masyarakat lebih familiar dengan istilah vitamin A, vitamin C, atau vitamin B12, para ilmuwan tentu membutuhkan nama yang lebih spesifik.

Vitamin C, misalnya, juga dikenal sebagai asam askorbat. Vitamin B12 mencakup kelompok senyawa kobalamin, sedangkan vitamin B2 dikenal sebagai riboflavin.

Nama kimia membantu para peneliti membedakan struktur dan karakteristik suatu senyawa secara lebih tepat.

Namun, untuk komunikasi sehari-hari, nama vitamin jauh lebih praktis.

Bayangkan jika setiap kali ingin membeli suplemen seseorang harus menyebut nama kimia lengkap setiap zat. Jelas jauh lebih ribet daripada cukup mengatakan, "Saya mencari vitamin C."

Vitamin A sampai K Tidak Berarti Hanya Ada Enam Vitamin

Jangan sampai melihat urutan A, B, C, D, E, K lalu mengira manusia hanya membutuhkan enam jenis vitamin.

Saat ini dikenal 13 vitamin esensial, yang terdiri dari vitamin A, C, D, E, K, serta delapan vitamin B yang umum diakui: B1, B2, B3, B5, B6, B7, B9, dan B12.

Secara umum, vitamin tersebut juga dapat dikelompokkan berdasarkan kelarutannya:

Vitamin larut lemak:

  • Vitamin A

  • Vitamin D

  • Vitamin E

  • Vitamin K

Vitamin larut air:

  • Vitamin B kompleks

  • Vitamin C

Pembagian ini penting karena sifat masing-masing kelompok di dalam tubuh berbeda. Vitamin larut lemak dapat disimpan lebih lama dalam tubuh, sedangkan vitamin larut air umumnya lebih mudah dikeluarkan melalui urine.

Ternyata Nama Vitamin Adalah "Jejak Sejarah" Sains

Kalau dilihat sekilas, nama vitamin memang terlihat seperti susunan alfabet yang tidak selesai.

Namun, justru ketidakteraturan tersebut menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan berkembang.

Para peneliti pada awalnya bekerja dengan informasi yang masih terbatas. Zat yang dianggap sebagai vitamin bisa saja kemudian ditemukan memiliki struktur atau fungsi berbeda. Nama yang sebelumnya digunakan akhirnya diganti, digabungkan, atau ditinggalkan.

Perubahan tersebut bukan sesuatu yang aneh dalam dunia sains. Sebaliknya, proses koreksi berdasarkan bukti baru merupakan bagian penting dari perkembangan pengetahuan.

Jadi, ketika kamu melihat urutan A, B, C, D, E, lalu K, ada sejarah panjang penelitian nutrisi di baliknya.

Dari Vitamin "Hilang" sampai Huruf K, Ada Cerita di Baliknya

Nama-nama vitamin yang kita kenal saat ini ternyata tidak dibuat dalam satu waktu dengan sistem yang sempurna.

Istilah vitamin sendiri lahir dari penelitian awal mengenai zat penting bagi tubuh. Sistem huruf kemudian digunakan untuk mempermudah identifikasi faktor nutrisi yang ditemukan. Seiring berkembangnya penelitian, sejumlah nama lama akhirnya dihapus atau dimasukkan ke dalam klasifikasi lain.

Itulah sebabnya vitamin F, G, H, I, dan J tidak muncul dalam daftar vitamin modern, sementara vitamin K justru hadir setelah E dengan sejarah penamaan yang berkaitan dengan koagulasi.

Jadi, lain kali melihat tulisan vitamin A, B, C, D, E, dan K, jangan menganggapnya sekadar huruf pada label suplemen.

Setiap huruf ternyata punya cerita—dan beberapa huruf yang "hilang" justru membuat sejarah vitamin menjadi semakin menarik.

Tags