Gaya Hidup

Berat Badan Terbaik untuk Kesehatan Bukan Sekadar Angka di Timbangan, Ini Penjelasan Para Ahli

Admin GenFun | Kamis, 23 Jul 2026 15:37 WIB
Berat Badan Terbaik untuk Kesehatan Bukan Sekadar Angka di Timbangan, Ini Penjelasan Para Ahli

Banyak orang masih menjadikan angka pada timbangan sebagai patokan utama untuk menilai kesehatan. Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa semakin mendekati berat badan ideal berdasarkan Indeks Massa Tubuh (BMI), maka semakin sehat pula kondisi tubuhnya.

Padahal, pandangan tersebut kini mulai bergeser. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa berat badan terbaik untuk kesehatan tidak selalu identik dengan angka tertentu. Kondisi metabolisme, komposisi tubuh, hingga gaya hidup justru memiliki peran yang jauh lebih besar dalam menentukan kesehatan seseorang.

Karena itu, para ahli kini lebih banyak menggunakan konsep best weight atau berat badan terbaik, yaitu berat badan yang dapat dipertahankan secara stabil melalui pola hidup sehat, bukan hasil dari diet ekstrem atau penurunan berat badan secara instan.

Apa yang Dimaksud dengan Best Weight?

Istilah best weight mengacu pada berat badan yang paling sesuai dengan kondisi tubuh seseorang sehingga mampu mendukung kesehatan secara menyeluruh.

Konsep ini tidak menuntut setiap orang memiliki bentuk tubuh yang sama. Sebaliknya, fokus utamanya adalah menjaga tubuh tetap berfungsi optimal melalui kebiasaan hidup yang sehat dan berkelanjutan.

Dengan kata lain, seseorang tidak harus mengejar angka tertentu di timbangan jika tubuhnya sudah berada dalam kondisi sehat dan mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik.

BMI Masih Berguna, tetapi Tidak Bisa Menjadi Satu-satunya Acuan

Selama bertahun-tahun, Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh digunakan sebagai alat sederhana untuk memperkirakan status berat badan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kategori BMI dibagi menjadi:

  • Kurang dari 18,5: Berat badan kurang.
  • 18,5–24,9: Berat badan normal.
  • 25–29,9: Overweight atau kelebihan berat badan.
  • 30 atau lebih: Obesitas.

Perhitungan BMI dilakukan dengan membagi berat badan (kilogram) menggunakan kuadrat tinggi badan (meter).

Meski praktis, metode ini memiliki keterbatasan karena tidak mampu membedakan massa otot dengan lemak tubuh maupun menunjukkan lokasi penumpukan lemak dalam tubuh.

Akibatnya, dua orang dengan nilai BMI yang sama bisa memiliki kondisi kesehatan yang sangat berbeda.

Penelitian Menunjukkan BMI Normal Belum Tentu Sehat

Sejumlah penelitian mendukung anggapan bahwa BMI tidak selalu mencerminkan kondisi kesehatan seseorang secara menyeluruh.

Salah satunya penelitian yang dipublikasikan dalam International Journal of Obesity pada 2016. Tim peneliti dari University of California, Los Angeles (UCLA) menganalisis data lebih dari 40 ribu responden.

Hasil penelitian menunjukkan:

  • Hampir 50 persen orang dengan kategori overweight memiliki kondisi metabolik yang sehat.
  • Sekitar 29 persen individu dengan obesitas tetap memiliki tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan trigliserida yang normal.
  • Sebaliknya, lebih dari 30 persen orang dengan BMI normal justru mengalami gangguan metabolik.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa berat badan bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesehatan seseorang.

Risiko Penyakit Tetap Perlu Menjadi Perhatian

Meski demikian, BMI tetap memiliki nilai penting sebagai alat skrining awal.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam European Heart Journal pada 2018 terhadap hampir 300 ribu orang menemukan bahwa risiko penyakit jantung, stroke, dan hipertensi cenderung meningkat ketika BMI berada di atas kisaran 22–23.

Sementara itu, analisis besar yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association (JAMA) pada 2013 terhadap sekitar 2,88 juta orang menunjukkan bahwa obesitas berat tetap berkaitan dengan peningkatan risiko kematian.

Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan bahwa kelompok overweight pada kondisi tertentu justru memiliki risiko kematian yang sedikit lebih rendah dibandingkan kelompok dengan BMI normal.

Hal ini memperlihatkan bahwa hubungan antara berat badan dan kesehatan bersifat kompleks sehingga tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu angka.

Ciri-Ciri Berat Badan Terbaik Menurut Ahli

Alih-alih berfokus pada berat badan ideal semata, para ahli menyarankan masyarakat memperhatikan berbagai indikator kesehatan lainnya.

Seseorang dapat dikatakan telah mencapai best weight apabila memiliki beberapa kondisi berikut:

  • Mampu beraktivitas tanpa mudah merasa lelah.
  • Tekanan darah berada dalam batas normal.
  • Kadar gula darah terkontrol.
  • Kolesterol terjaga.
  • Tidur berkualitas setiap malam.
  • Rutin melakukan aktivitas fisik.
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
  • Berat badan relatif stabil dalam jangka panjang.

Jika berbagai indikator tersebut terpenuhi, angka di timbangan bukan lagi menjadi fokus utama.

Faktor Lain yang Perlu Dinilai Selain Berat Badan

Untuk mengetahui kondisi kesehatan secara lebih menyeluruh, dokter biasanya tidak hanya melihat BMI.

Beberapa pemeriksaan lain yang sering digunakan antara lain:

  • Lingkar pinggang.
  • Persentase lemak tubuh.
  • Massa otot.
  • Tekanan darah.
  • Kadar gula darah.
  • Profil kolesterol.
  • Tingkat kebugaran fisik.
  • Kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Gabungan berbagai indikator tersebut memberikan gambaran yang jauh lebih akurat dibandingkan hanya mengandalkan berat badan.

Cara Mencapai Berat Badan Terbaik Secara Sehat

Konsep best weight tidak menekankan penurunan berat badan secara cepat, melainkan perubahan gaya hidup yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan meliputi:

  • Mengonsumsi makanan bergizi dengan porsi seimbang.
  • Memperbanyak sayur, buah, dan sumber protein berkualitas.
  • Berolahraga secara rutin minimal 150 menit per minggu.
  • Tidur cukup selama 7–9 jam setiap malam.
  • Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses dan minuman tinggi gula.
  • Mengelola stres melalui aktivitas yang positif.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dengan kebiasaan tersebut, berat badan biasanya akan menyesuaikan secara alami sesuai kebutuhan tubuh.

Fokus pada Kesehatan, Bukan Hanya Angka Timbangan

Banyak orang merasa gagal ketika angka di timbangan tidak kunjung turun, padahal kondisi kesehatannya justru mengalami perbaikan. Misalnya, seseorang yang rutin berolahraga bisa mengalami peningkatan massa otot sehingga berat badannya tetap, tetapi persentase lemak tubuh menurun dan kebugarannya meningkat.

Karena itu, perubahan positif seperti tubuh lebih bugar, tidur lebih nyenyak, tekanan darah membaik, atau stamina meningkat juga layak dijadikan ukuran keberhasilan dalam menjalani gaya hidup sehat.

Berat Badan Ideal Harus Disesuaikan dengan Kondisi Masing-Masing

Setiap orang memiliki kondisi tubuh, usia, jenis kelamin, hingga metabolisme yang berbeda. Oleh sebab itu, target berat badan terbaik untuk kesehatan juga tidak selalu sama.

Apabila ingin menentukan target berat badan yang realistis, berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat menjadi langkah yang tepat. Dengan pendekatan yang menyeluruh, fokus tidak lagi hanya pada angka di timbangan, melainkan pada kesehatan tubuh secara keseluruhan yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Tags